Jakarta - Harapan konsumen untuk mendapatkan harga RAM yang lebih terjangkau seiring dengan meredanya tren kecerdasan buatan (AI) tampaknya tidak akan terwujud. Micron, produsen memori asal Amerika Serikat, mengingatkan bahwa meskipun tren AI mulai stabil, pertumbuhan pesat dalam produksi robot humanoid akan menjaga permintaan memori tetap tinggi hingga tahun 2027 dan seterusnya.
Dalam panduan pendapatan untuk tahun fiskal 2027 (FY27), Micron memprediksi bahwa penggunaan AI fisik dan robot humanoid akan menjadi faktor utama pendorong permintaan DRAM dan penyimpanan, bahkan berpotensi melebihi kebutuhan data center AI.
Kebutuhan Memori untuk Robot Humanoid
CEO Micron, Sanjay Mehrotra, menjelaskan bahwa konsumsi memori pada perangkat robotik canggih akan meningkat secara signifikan dibandingkan dengan perangkat elektronik biasa. Satu unit robot humanoid diperkirakan memerlukan setidaknya 200 GB DRAM dan beberapa terabyte ruang penyimpanan untuk memproses data sensorik dan navigasi secara real-time.
Mehrotra juga menekankan bahwa kehadiran robot humanoid akan memicu siklus permintaan memori yang substansial dan bertahan selama beberapa dekade ke depan. Kendaraan otonom merupakan langkah awal dalam penerapan AI fisik, diikuti oleh robotika dan perangkat konsumen yang dilengkapi fitur AI.
Permintaan yang Melampaui Pasokan
Micron juga menyampaikan informasi yang kurang menggembirakan bagi para konsumen teknologi di seluruh dunia. Meskipun industri semikonduktor sedang memperluas fasilitas produksi DRAM dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, lonjakan permintaan dari klien membuat krisis kelangkaan pasokan memori sulit untuk diatasi dalam waktu dekat.
"Memori saat ini sangat penting. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai infrastruktur strategis di era AI," ungkap Sanjay Mehrotra. Ia menambahkan bahwa tingkat permintaan chip memori saat ini sudah 50% lebih tinggi dibandingkan dengan total pasokan yang dapat diproduksi oleh industri.
Optimisme Micron terkait peningkatan penggunaan robot humanoid sejalan dengan proyeksi dari Morgan Stanley. Lembaga keuangan tersebut memperkirakan bahwa pasar robotik global akan tumbuh secara eksponensial, mencapai 930 juta unit dengan nilai pasar sebesar USD 5 triliun (sekitar Rp 77.000 triliun) per tahun pada tahun 2050. Untuk jangka pendek menjelang tahun 2030, pengapalan robot humanoid diprediksi berkisar antara 250.000 hingga 1,2 juta unit per tahun.
Kenaikan harga DRAM yang disebabkan oleh booming AI sebelumnya telah memberikan keuntungan luar biasa bagi produsen memori global seperti Samsung dan SK Hynix, yang berujung pada pembagian bonus besar bagi para pekerja mereka. Hal ini juga menjadi tuntutan serikat pekerja di Micron.