Teknologi

Google Memesan 3 Juta Chip dari Intel untuk Masa Depan AI

Intel mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di pasar chip canggih setelah Alphabet, perusahaan induk Google, memesan lebih dari tiga juta unit Tensor Processing Unit (TPU) yang akan diproduksi pada...

J
Jonathan Michael Saputra
16 June 2026 14 pembaca
CEO Intel Lip Bu Tan memamerkan wafer chip buatan Intel. Foto: Dok. Intel
CEO Intel Lip Bu Tan memamerkan wafer chip buatan Intel. Foto: Dok. Intel

Jakarta - Intel tengah berusaha keras untuk kembali menguasai pasar manufaktur chip canggih, dan upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Beberapa perusahaan teknologi besar yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya bergantung pada pemasok tradisional kini mulai mempertimbangkan Intel sebagai alternatif utama. Menurut laporan terbaru dari The Information, Alphabet, yang merupakan induk perusahaan Google, telah melakukan pemesanan lebih dari tiga juta unit Tensor Processing Unit (TPU) dari Intel, yang dijadwalkan untuk diproduksi pada tahun 2028. Jika pesanan ini terealisasi, divisi manufaktur Intel (Intel Foundry) akan mendapatkan dorongan besar untuk merebut kembali posisinya di industri chip mutakhir.

Permintaan Chip AI Meningkat

Berita mengenai kesepakatan ini muncul di tengah tantangan yang dihadapi oleh rantai pasokan semikonduktor global. TSMC, produsen chip asal Taiwan yang selama ini mendominasi pasar chip kelas atas, dilaporkan mulai kewalahan dalam memenuhi permintaan yang melonjak tajam akibat tren AI yang berkembang pesat. Ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan ini mendorong para desainer chip AI, termasuk Google, untuk mencari produsen alternatif agar tidak hanya bergantung pada TSMC. Bagi Google, memastikan kapasitas produksi lini TPU internal sangat penting untuk mengurangi ketergantungan mereka pada GPU yang diproduksi oleh Nvidia, serta untuk memperkuat infrastruktur layanan cloud mandiri mereka di masa mendatang.

Kolaborasi dengan Nvidia dan Apple

Bukan hanya Google yang tertarik, raja chip AI saat ini, Nvidia, juga dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Intel. Nvidia sedang mengevaluasi apakah teknologi pabrikasi Intel dapat mendukung desain prosesor baru yang mengintegrasikan empat chip grafis dalam satu prosesor. Meskipun Nvidia belum mengajukan pesanan resmi, ketertarikan mereka menunjukkan betapa terbatasnya kapasitas produksi chip high-end di seluruh dunia saat ini.

Di bawah kepemimpinan CEO Lip-Bu Tan, strategi Intel untuk mengubah divisi manufakturnya menjadi pesaing serius TSMC tampaknya mulai sejalan dengan kebutuhan pasar. Intel telah mengumumkan roadmap ambisius yang mencakup teknologi fabrikasi generasi terbaru, yaitu 14A. Beberapa pencapaian besar dari strategi Intel hingga saat ini meliputi:

  • Tesla: Berhasil menjalin kerja sama dengan Tesla untuk proses fabrikasi 14A, yang akan digunakan untuk chip fasilitas AI Terafab milik Elon Musk di Austin.
  • Apple: Mencapai kesepakatan awal untuk memproduksi chip perangkat Apple setelah melalui negosiasi panjang selama lebih dari setahun.
  • Investasi Strategis: Berhasil menarik investasi dari pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan investasi besar, SoftBank.

Selain untuk diversifikasi pasokan, keputusan perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk bekerja sama dengan Intel juga dipengaruhi oleh faktor politik. Analis D.A. Davidson, Gil Luria, menjelaskan bahwa "Selain kebutuhan standar untuk diversifikasi, Google dan Nvidia memiliki motivasi tambahan untuk berkolaborasi dengan Intel. Mendukung Intel berarti mendukung manufaktur yang berbasis di AS, dan ini penting bagi hubungan mereka dengan pemerintah AS."

Informasi mengenai pesanan Google ini langsung mendapatkan respons positif dari para investor. Saham Intel mengalami lonjakan lebih dari 9% pada awal perdagangan, memperpanjang tren positif perusahaan yang telah meningkat hingga 169% sepanjang tahun ini. Hingga berita ini diturunkan, Intel belum memberikan konfirmasi, sementara Alphabet dan Nvidia belum memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar.

Dengan meningkatnya permintaan chip AI yang menekan batas maksimal rantai pasokan global, perusahaan-perusahaan yang sebelumnya hanya bergantung pada satu produsen kini mulai menyebar risiko mereka. Bagi Intel, pergeseran tren ini bisa menjadi kesempatan besar untuk kebangkitan yang telah lama dinanti, asalkan mereka dapat memenuhi janji teknologi yang telah mereka buat.

Artikel Terkait