JAKARTA - Gaya hidup yang semakin digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan mental anak muda. Meskipun generasi Z selalu terhubung secara online, mereka justru menghadapi risiko tinggi merasa terasing akibat kurangnya interaksi fisik yang bermakna. Hal ini menciptakan kebutuhan akan ruang interaksi baru di luar rumah, tempat kerja, atau sekolah, yang dikenal dengan istilah "ruang keempat". Konsep ini berfungsi sebagai jembatan bagi mereka yang ingin menjauh dari layar gawai dan kembali berinteraksi di dunia nyata.
Kepentingan Ruang Keempat bagi Generasi Z
"Generasi Z itu suka banget fourth place ini karena jadinya merasakan koneksi," ungkap seorang konselor kesehatan mental, Sasya Sava, saat acara Lightplus Lightperience Picnic 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Ia menambahkan, "Dalam satu komunitas itu, mereka punya ketertarikan yang sama. Jadi bukan hanya berkumpul, tapi untuk bisa mencurahkan isi hatinya mereka."
Ruang keempat ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli geografi ekonomi Arnault Morisson pada tahun 2018. Ruang ini dirancang sebagai tempat pelarian yang sehat dari rasa penat, di mana individu dapat menemukan kelompok dengan minat yang sama, seperti komunitas lari, pecinta kecantikan, atau kelompok journaling. "Ini sebuah tempat yang memang diperuntukkan untuk kita berkoneksi. Berkoneksinya bukan secara masif seperti kita ke mal, tapi secara luas namun spesifik berdasarkan minat," jelas Sasya.
Interaksi Nyata Lebih Bermakna
Kehadiran komunitas yang memiliki fokus tertentu memberikan ruang aman bagi anggotanya. Mereka tidak lagi merasa terasing karena dikelilingi oleh individu yang memahami keluh kesah atau antusiasme yang sama. Keterhubungan di ruang nyata memberikan bobot emosional yang lebih dalam. Pertemanan yang terjalin hanya melalui layar sering kali terasa dangkal karena hilangnya gestur fisik yang nyata. "Media sosial itu kan tetap fana. Gen Z butuh makna, bukan hanya koneksi semata," kata Sasya.
Dengan demikian, sekelompok teman yang saling mengenal di media sosial dan memiliki minat yang sama dapat menciptakan "ruang keempat" mereka sendiri saat bertemu di dunia nyata. Kebutuhan untuk berkumpul dan berinteraksi secara tatap muka merupakan bagian penting dari insting alami manusia. Keterasingan akibat terlalu lama bermain gawai sendirian dapat memicu gangguan emosional, menurut dr. Iksanuddin Qothi, yang aktif mengedukasi di TikTok. "Secara evolusi, kita adalah masyarakat yang ketimuran. Kita sangat butuh masyarakat di sekitarnya untuk sama-sama bergerak. Kalau misalkan kita terlalu fokus di media sosial sendiri-sendiri, itu bisa bikin burnout dan ujung-ujungnya jadi stres," jelasnya.
Rutinitas memutus koneksi internet sementara juga menjadi langkah penting untuk mencegah generasi muda kehilangan empati. Ruang keempat sepenuhnya memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan menawarkan pengalaman bertukar cerita yang tidak bisa ditiru oleh teknologi. Membangun kebiasaan berkumpul secara tatap muka juga berkontribusi dalam meredam kebiasaan membandingkan diri yang merugikan.
Mendengarkan perjalanan hidup orang lain secara langsung membantu setiap individu untuk lebih menghargai proses mereka sendiri. "Kadang kita butuh mematikan digital self kita, bertemu orang lain, dan keluar dari ruangan yang mengisolasikan diri kita sendiri, yaitu pikiran kita," tutup Xaviera.