Kesehatan

Generasi Muda Rentan Stres di Lingkungan Kerja, Ini Penyebabnya Menurut Ahli Kesehatan Mental

Kesehatan mental di tempat kerja menjadi perhatian utama, terutama bagi generasi muda yang baru memasuki dunia profesional. Berbagai faktor seperti tekanan pekerjaan dan adaptasi dengan lingkungan bar...

D
Daniel Kristianto
26 June 2026 43 pembaca
Generasi Muda Rentan Stres di Lingkungan Kerja, Ini Penyebabnya Menurut Ahli Kesehatan Mental
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kesehatan mental di lingkungan kerja kini menjadi isu yang semakin penting, terutama di kalangan anak muda. Banyak pekerja yang baru memulai karier mereka mengaku mengalami tekanan akibat tuntutan pekerjaan, proses penyesuaian diri di tempat baru, serta hubungan dengan atasan. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi dari Klinik Pertamina IHC, Muchammad Arief Gunawan, menyatakan bahwa generasi muda saat ini lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa penyebab stres yang dialami oleh pekerja muda kini lebih beragam dan sering kali bersifat subjektif.

“Generasi muda kini lebih banyak menghadapi masalah kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Penyebab stres semakin beragam dan bersifat subjektif, misalnya tekanan pekerjaan, adaptasi pekerja baru atau fresh graduate, serta hubungan dengan atasan,” ungkap Arief.

Penyebab Utama Stres di Tempat Kerja

Ada beberapa faktor yang membuat generasi muda lebih mudah mengalami stres di tempat kerja. Pertama adalah tekanan pekerjaan yang semakin kompleks. Memasuki dunia kerja tidak hanya mengharuskan seseorang untuk menyelesaikan tugas sesuai target, tetapi juga beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat, tenggat waktu yang ketat, dan ekspektasi untuk selalu produktif. Banyak pekerja muda merasa tertekan jika tidak dapat mengelola beban kerja dan waktu istirahat dengan baik. Selain itu, kemajuan teknologi membuat batas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur, sehingga banyak karyawan yang masih menerima pesan atau tugas di luar jam kerja.

Adaptasi dan Hubungan dengan Atasan

Faktor kedua adalah masa transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Menurut dr. Arief, pekerja baru sering kali mengalami stres saat berusaha memahami budaya perusahaan, menjalin hubungan dengan rekan kerja, dan memenuhi ekspektasi atasan. Mereka ingin menunjukkan kemampuan agar dapat berkembang dalam karier, namun tekanan ini bisa menjadi berat jika merasa belum mampu memenuhi tuntutan yang ada.

Hubungan dengan atasan juga memengaruhi kesehatan mental. Perbedaan dalam gaya komunikasi, kurangnya umpan balik yang konstruktif, atau ekspektasi yang tidak jelas dapat membuat karyawan merasa tertekan. Jika kondisi ini terus berlangsung, dapat meningkatkan tingkat stres di tempat kerja. Oleh karena itu, penting bagi atasan untuk menjaga komunikasi yang terbuka dengan karyawan demi menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

Pentingnya Perhatian Terhadap Kesehatan Mental Karyawan

Dr. Arief menekankan bahwa perusahaan juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kesehatan mental karyawan. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah menyediakan layanan pendampingan psikolog atau psikiater sebagai bagian dari program kesehatan kerja. Ketika pekerja mulai merasakan stres akibat pekerjaan, dr. Arief menyarankan untuk mencari cara pengalihan yang sehat, seperti berolahraga secara rutin, bermeditasi, atau melakukan hobi yang menyenangkan. Sebaliknya, ia mengingatkan agar pekerja tidak melampiaskan stres dengan kebiasaan yang merugikan kesehatan, seperti merokok atau menyalahgunakan obat-obatan.

Apabila stres mulai mengganggu produktivitas, hubungan sosial, atau kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan penanganan sejak dini. Dengan demikian, kesehatan mental dapat terjaga dan kualitas hidup serta performa kerja tetap optimal.

Artikel Terkait