Lifestyle

Fluktuasi Cuaca dan Kenaikan Kasus Influenza: Penjelasan Kemenkes

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa cuaca yang tidak stabil menjadi faktor risiko, tetapi bukan penyebab utama meningkatnya kasus influenza. Peningkatan kasus ini biasanya terjadi pada bulan Septe...

A
Aisyah Nur Hidayah
24 September 2026 60 pembaca
ilustrasi prakiraan cuaca(magnific)
ilustrasi prakiraan cuaca(magnific)

Cuaca yang berubah-ubah sering kali disalahkan sebagai penyebab meningkatnya kasus influenza. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa cuaca hanya merupakan faktor risiko, bukan penyebab utama. Penjelasan ini disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam sebuah wawancara pada Kamis (20/9/2026).

Aji menjelaskan, "Iya, faktor risiko iya, cuma bukan penyebab utama." Ia menambahkan bahwa kasus influenza sebenarnya terjadi sepanjang tahun, namun terdapat periode tertentu di mana jumlah kasus cenderung meningkat. Data dari Kemenkes menunjukkan bahwa biasanya, kasus influenza meningkat pada bulan September dan Oktober.

Pola Musiman dan Faktor Lain

Menurut Aji, saat ini dapat dikatakan bahwa pola musiman sedang terjadi. Ia juga mencatat bahwa kasus influenza cenderung meningkat pada musim hujan. Di negara dengan empat musim, virus influenza lebih mudah menyebar pada musim dingin, terutama antara bulan Desember hingga Januari. Namun, pola ini berbeda di Indonesia.

Kondisi saat ini, menurut Aji, dipengaruhi oleh kemarau panjang dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Kedua faktor ini dianggap sebagai risiko, tetapi bukan penyebab utama peningkatan kasus influenza. Adanya kebakaran hutan membuat masyarakat lebih rentan, sehingga penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

Data Influenza Terbaru

Data terbaru dari Kemenkes hingga minggu ke-36 tahun 2026 menunjukkan bahwa proporsi spesimen positif influenza meningkat dari 35 persen menjadi 46 persen. Dari kasus yang terdeteksi, 42 persen di antaranya terjadi pada anak-anak berusia 0-4 tahun. Meskipun demikian, Kemenkes menilai bahwa aktivitas influenza secara nasional masih tergolong rendah dan terkendali. Subtipe virus yang paling banyak ditemukan adalah influenza A(H1N1)pdm09, bukan H3N2 yang dikenal sebagai "superflu". Pada minggu ke-36, dari 86 spesimen positif, 76 di antaranya adalah H1N1pdm09 dan delapan H3N2.

Aji menambahkan bahwa peningkatan jumlah pasien sejauh ini hanya terjadi di beberapa rumah sakit atau kota tertentu. Rumah sakit di kota besar dianggap cukup siap, termasuk melalui sistem rujukan jika kapasitas satu rumah sakit tidak mencukupi. Pasien dengan gejala ringan hingga sedang dapat ditangani di puskesmas.

Karena kasus influenza cenderung meningkat pada periode ini, masyarakat diimbau untuk memperkuat daya tahan tubuh dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Ini termasuk mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan bergizi, cukup minum, dan istirahat yang cukup. Orang yang mengalami gejala diminta untuk mengenakan masker dan menjaga jarak dari anggota keluarga lainnya. Anak-anak dan lansia yang sakit disarankan untuk tidak menunda berobat. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam selama dua hingga tiga hari, sesak napas, anak yang tidak mau makan atau minum, serta tampak lemah dan pucat.

Artikel Terkait