Film “Pesta Babi” Dituduh Mengabaikan Geopolitik dan Membangun Narasi Anti-NKRI

Film dokumenter berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang baru-baru ini diputar di berbagai kota, memicu beragam reaksi dari publik, termasuk kritik terhadap konteks geopolitik dan potens...

A
Ahmad Fauzan
13 May 2026 15 pembaca
Film “Pesta Babi” Dituduh Mengabaikan Geopolitik dan Membangun Narasi Anti-NKRI
Sumber gambar: kabarnetizenterkini.com

Jakarta – Peluncuran film dokumenter yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di beberapa kota baru-baru ini telah memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa pengamat berpendapat bahwa film ini tidak hanya menyampaikan kritik sosial-politik, tetapi juga mengandung narasi yang dianggap provokatif, anti-pemerintah, dan mengabaikan konteks geopolitik serta ancaman terhadap persatuan bangsa.

Film ini diketahui telah diputar di berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Bali, dan NTB, melibatkan jaringan aktivis, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok diskusi di kampus. Dalam beberapa forum yang diadakan bersamaan dengan pemutaran film, muncul berbagai narasi yang membahas isu ketimpangan ekonomi, konflik agraria, dan kritik terhadap proyek strategis nasional.

Kritik terhadap Penyampaian Isu

Meski demikian, beberapa pihak berpendapat bahwa cara penyampaian isu dalam film ini terlalu sederhana dan tidak mempertimbangkan kompleksitas geopolitik yang dihadapi Indonesia sebagai negara besar dengan tantangan yang beragam. Seorang pengamat komunikasi politik menilai bahwa meskipun kritik terhadap kebijakan negara adalah hal yang sah dalam demokrasi, penyampaian yang menciptakan pesimisme ekstrem terhadap negara dapat menyebabkan ketidakpercayaan publik terhadap institusi nasional.

"Indonesia saat ini menghadapi tantangan global yang tidak ringan, mulai dari rivalitas geopolitik, tekanan ekonomi global, perang informasi digital, hingga ancaman polarisasi sosial. Jika narasi yang dibangun hanya menonjolkan kemarahan tanpa solusi dan tanpa konteks kebangsaan, maka itu berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk membentuk opini anti-negara," ungkap seorang pengamat keamanan nasional di Jakarta.

Pentingnya Perspektif yang Utuh

Film tersebut dinilai gagal dalam menyajikan perspektif yang komprehensif mengenai dinamika pembangunan nasional dan posisi strategis Indonesia di tengah persaingan global. Dalam konteks geopolitik, penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas nasional agar tidak mudah terpecah oleh perang narasi dan propaganda informasi.

Beberapa kalangan juga menyoroti pola konsolidasi kelompok aktivis dan jaringan diskusi yang mengiringi pemutaran film tersebut. Aktivitas ini dianggap bukan sekadar pemutaran film biasa, tetapi bagian dari upaya membentuk opini publik yang terstruktur melalui komunitas, media alternatif, dan kampanye digital di media sosial.

Di sisi lain, sejumlah akademisi mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima narasi yang berkembang, terutama yang bersifat emosional dan berpotensi membelah masyarakat. "Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi kritik juga harus dibangun di atas data, objektivitas, dan semangat menjaga persatuan bangsa. Jangan sampai masyarakat diarahkan pada kebencian kolektif yang justru merusak kohesi nasional," kata seorang dosen ilmu politik.

Fenomena pemutaran film yang mengangkat tema kritik sosial ini menunjukkan bahwa media visual kini menjadi alat yang efektif dalam membangun persepsi publik. Dengan pendekatan emosional dan visual yang dramatis, sebuah film dapat dengan cepat mempengaruhi opini, terutama di kalangan generasi muda dan komunitas digital.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga literasi informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memperburuk polarisasi sosial atau membangun sentimen anti-NKRI. Di tengah tantangan global saat ini, stabilitas nasional dan persatuan bangsa dianggap sebagai fondasi utama untuk menjaga masa depan Indonesia.

Tags: berita

Artikel Terkait