Lifestyle

Faktor Penyebab Kekerasan Terhadap Pasangan: Kasus Penyekapan di Bandung

Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami seorang perempuan di Bandung mengungkapkan berbagai faktor yang dapat memicu kekerasan dalam hubungan. Psikolog menjelaskan pentingnya memahami latar bel...

T
Theresia Agatha Lestari
23 June 2026 24 pembaca
Faktor Penyebab Kekerasan Terhadap Pasangan: Kasus Penyekapan di Bandung
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang menimpa seorang perempuan berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung menarik perhatian publik. Perempuan yang berasal dari Kecamatan Rancaekek tersebut mengalami kekerasan fisik yang berlangsung hampir tiga tahun, yang mengakibatkan luka serius dan gangguan penglihatan. Kasus ini terkuak setelah korban dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis oleh pemilik indekos dan terduga pelaku di daerah Cinunuk, Kabupaten Bandung.

Faktor Pemicu Kekerasan dalam Hubungan

Menyusul peristiwa tersebut, muncul pertanyaan mengenai faktor-faktor yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan kekerasan berulang kali terhadap pasangan atau orang terdekat. Psikolog Agata Paskarista, M.Psi., menegaskan bahwa perilaku kekerasan yang ekstrem tidak dapat langsung dikaitkan dengan gangguan mental tertentu tanpa melalui pemeriksaan yang menyeluruh. “Penting digarisbawahi bahwa perilaku kekerasan yang ekstrem dan berulang seperti ini tidak bisa serta-merta dilabeli sebagai gangguan mental tanpa asesmen klinis menyeluruh,” jelas Agata.

Menurutnya, banyak pelaku kekerasan yang tidak memenuhi kriteria diagnosis gangguan jiwa tertentu. “Perilaku mereka lebih tepat dipahami sebagai pola perilaku yang dipelajari dan dipertahankan, karena terbukti efektif untuk mendapatkan kontrol terhadap pasangan,” ujarnya.

Riwayat Kekerasan dan Karakter Pribadi

Agata menjelaskan bahwa pengalaman menyaksikan atau menjadi korban kekerasan di masa lalu dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap hubungan dan penyelesaian konflik. Ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan, perilaku tersebut bisa dianggap sebagai hal yang normal. “Baik sebagai saksi maupun korban di masa lalu, yang menjadi model belajar bahwa kekerasan adalah cara yang ‘wajar’ untuk menyelesaikan masalah atau mendapatkan kendali,” kata Agata. Meskipun tidak semua individu yang terpapar kekerasan akan menjadi pelaku, pengalaman tersebut tetap menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan.

Faktor lain yang berkontribusi adalah sifat kepribadian tertentu. Agata menyatakan bahwa rendahnya empati dapat membuat seseorang kesulitan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. “Trait kepribadian tertentu seperti rendahnya empati, kebutuhan kontrol yang tinggi, pola pikir entitled atau merasa berhak atas tubuh, waktu, dan keputusan orang lain,” jelasnya. Pola pikir ini sering kali mengakibatkan hubungan menjadi tidak setara, di mana satu pihak berusaha mendominasi pihak lainnya.

Kaitannya dengan Gangguan Kepribadian

Agata juga menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, perilaku kekerasan dapat berhubungan dengan gangguan kepribadian tertentu. Namun, hal ini tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media. “Memang ada kaitan dengan gangguan kepribadian tertentu, misalnya antisosial atau narsistik, tapi ini hanya bisa ditegakkan lewat asesmen psikologis langsung terhadap pelaku, bukan dari pemberitaan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kekerasan yang berlangsung dalam jangka waktu lama umumnya bukan hanya akibat kehilangan kendali emosi. “Kekerasan yang berlangsung lama dan meningkat eskalasinya, dari kontrol ke manipulasi dan berujung ke kekerasan fisik, biasanya bukan ‘kehilangan kendali emosi’,” tutur Agata. Menurutnya, pola tersebut terus berulang karena pelaku merasa tindakannya tidak akan menimbulkan konsekuensi yang berarti. “Hal ini adalah pola yang terus berulang karena pelaku merasa tidak akan ada konsekuensi,” tambahnya.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Relationship Is (Not) Scary (2026)’, Agata juga mengingatkan bahwa banyak korban bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena kesulitan membedakan antara konflik biasa dan bentuk kekerasan atau abuse. “Abuse tidak akan hilang hanya dengan komunikasi yang lebih baik atau kesabaran. Abuse berhenti hanya ketika pelaku berhenti melakukannya dan mengakui tanggung jawab penuh, atau ketika korban berhasil keluar dari pola itu,” tulis Agata.

Artikel Terkait