Lifestyle

Fakta di Balik Penggunaan Cairan Infus untuk Jerawat yang Viral di Media Sosial

Cairan infus NaCl yang viral di media sosial dianggap dapat mengatasi jerawat, namun dokter spesialis kulit menjelaskan bahwa fungsinya dalam dermatologi berbeda dari klaim tersebut.

T
Theresia Agatha Lestari
19 July 2026 73 pembaca
Fakta di Balik Penggunaan Cairan Infus untuk Jerawat yang Viral di Media Sosial
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Di media sosial, cairan NaCl atau larutan infus sering disebut-sebut dapat membantu mengatasi jerawat dan menjadikan kulit lebih mulus. Namun, seorang dokter spesialis kulit menegaskan bahwa fungsi cairan ini dalam dunia dermatologi sangat berbeda dari yang banyak beredar di internet. Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Rumah Sakit Abdi Waluyo, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.KK, menyatakan bahwa larutan NaCl 0,9 persen sering digunakan dalam praktik medis, tetapi bukan sebagai produk perawatan kulit atau obat jerawat.

“Normal saline memang memiliki peran dalam dermatologi, tetapi bukan sebagai skincare atau obat jerawat,” ungkap dr. Arini dalam wawancaranya.

Fungsi Cairan NaCl dalam Praktik Dermatologi

Dr. Arini menjelaskan bahwa NaCl atau natrium klorida adalah garam yang dilarutkan dalam air. Dalam konteks medis, larutan saline 0,9 persen atau normal saline adalah larutan steril yang memiliki konsentrasi mirip dengan cairan tubuh, sehingga bersifat isotonik. Karena sifatnya yang lembut, normal saline umumnya digunakan untuk membersihkan kulit atau luka, bukan untuk mengatasi penyebab jerawat.

Menurut Arini, cairan ini memiliki beberapa fungsi dalam praktik dermatologi, antara lain: membersihkan luka, mengompres luka atau kulit yang mengeluarkan cairan, membilas area kulit setelah prosedur dermatologi seperti laser atau bedah kulit, serta membantu membersihkan kerak pada beberapa penyakit kulit tertentu. Dia menekankan bahwa semua penggunaan tersebut memiliki indikasi medis yang jelas. “Penggunaan medis dilakukan dengan larutan steril, dalam durasi tertentu, dan bukan sebagai rutinitas harian untuk mempercantik kulit,” jelasnya.

Tren Viral dan Realitas Penggunaan NaCl

Dr. Arini menyoroti bahwa meskipun banyak video di media sosial menunjukkan wajah tampak lebih bersih setelah menggunakan NaCl, hal tersebut tidak berarti cairan itu dapat mengobati jerawat. Jerawat adalah kondisi kulit yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti produksi minyak berlebih, penyumbatan pori, pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes, dan proses peradangan. “Normal saline tidak bekerja pada mekanisme-mekanisme tersebut sehingga bukan merupakan terapi jerawat,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa kulit bisa terasa lebih bersih setelah dikompres saline karena cairan tersebut membantu mengangkat kotoran atau mengurangi cairan pada luka kecil. Namun, efek ini tidak setara dengan pengobatan jerawat atau perbaikan tekstur kulit yang signifikan. “Jika seseorang merasa jerawatnya membaik setelah menggunakan saline, kemungkinan hal tersebut lebih disebabkan oleh perjalanan alami jerawat atau karena mereka juga menjalani perawatan lain secara bersamaan,” katanya.

Dr. Arini juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan penggunaan NaCl di klinik kulit dengan tren yang beredar di media sosial. Penggunaan normal saline dalam dunia medis dilakukan dengan tujuan tertentu dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Sementara itu, penggunaan rutin di rumah sebagai perawatan wajah belum terbukti memiliki manfaat secara ilmiah. Ia juga memperingatkan agar tidak menggunakan air garam racikan sendiri sebagai pengganti normal saline, karena sering kali memiliki konsentrasi yang tidak tepat dan tidak steril, sehingga dapat mengiritasi kulit atau menyebabkan kontaminasi.

Pilihan Terapi yang Tepat untuk Jerawat

Dr. Arini menyarankan agar masyarakat yang ingin mengatasi jerawat memilih terapi yang telah didukung oleh penelitian dan direkomendasikan dalam pedoman dermatologi. Beberapa terapi yang umum digunakan termasuk derivat vitamin A untuk mengatasi sumbatan pori, asam salisilat atau azelaic acid pada kondisi tertentu, serta antibiotik topikal atau oral jika diperlukan. Selain itu, perawatan dasar seperti menggunakan pembersih wajah yang lembut, pelembap nonkomedogenik, dan tabir surya setiap hari juga penting untuk menjaga kesehatan kulit.

“Tidak semua yang viral berarti efektif atau aman. Kulit setiap orang berbeda, sehingga terapi sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan jerawat. Dengan diagnosis yang tepat, hasil yang diperoleh biasanya jauh lebih baik sekaligus meminimalkan risiko bekas jerawat di kemudian hari,” tutup dr. Arini.

Artikel Terkait