Waktu luang memiliki peranan penting bagi remaja untuk bersantai, berinteraksi sosial, dan mengeksplorasi minat mereka. Namun, menghabiskan waktu yang terlalu banyak tanpa adanya aktivitas yang terarah dan pengawasan dari orang dewasa dapat berhubungan dengan perilaku berisiko. Hal ini terungkap dari sebuah studi yang melibatkan lebih dari 58.000 remaja di 21 negara, yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE pada Mei 2026.
Hubungan antara Waktu Luang dan Kenakalan Remaja
Dalam penelitian ini, waktu luang yang tidak terstruktur didefinisikan sebagai waktu di mana remaja bebas memilih aktivitas mereka sendiri tanpa adanya pengawasan dari orang dewasa atau keterlibatan dalam kegiatan pendidikan, olahraga, maupun budaya yang terorganisir. Psikolog dan profesor di Fakultas Filsafat, Sains, dan Sastra Ribeirão Preto, Universitas São Paulo, Marina Rezende Bazon, menyatakan bahwa kondisi ini menjadi faktor signifikan dalam memahami keterlibatan remaja dalam kekerasan. "Inilah saatnya anak muda berkeliaran tanpa tujuan tertentu, seringkali dalam konteks kerentanan dan terpapar peluang kriminal," ungkap Bazon.
Para peneliti mengklasifikasikan waktu luang yang tidak terstruktur menjadi dua kategori utama, yaitu aktivitas di rumah dan di luar rumah. Di dalam rumah, aktivitas ini umumnya berkaitan dengan penggunaan internet, sedangkan di luar rumah mencakup waktu yang dihabiskan di jalan, lingkungan sekitar, atau tempat umum tanpa pengawasan. Meskipun demikian, penelitian ini tidak menganggap waktu luang sebagai penyebab tunggal dari kenakalan remaja. Faktor yang paling berpengaruh terhadap keterlibatan dalam pelanggaran adalah pergaulan dengan teman sebaya yang juga terlibat dalam kenakalan.
Pentingnya Aktivitas Terarah
Waktu luang yang tidak terstruktur menjadi salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan risiko remaja terpapar situasi kekerasan atau perilaku bermasalah. Penelitian menunjukkan bahwa menyediakan pilihan kegiatan yang menarik bagi remaja setelah jam sekolah, seperti program olahraga, rekreasi, dan kegiatan budaya berbasis komunitas, dapat menjadi alternatif untuk mengisi waktu luang sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk bersosialisasi. Bazon berpendapat bahwa kebijakan semacam ini berpotensi menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Studi menunjukkan bahwa pengurangan 20 persen waktu luang yang dihabiskan di luar rumah tanpa struktur berkaitan dengan penurunan 9,6 persen dalam prevalensi pelanggaran dan 7,4 persen insiden pelanggaran. Namun, penting untuk dicatat bahwa tujuannya bukan hanya untuk mengisi jadwal remaja, melainkan juga memperhatikan kualitas kegiatan, lingkungan sosial, serta kesempatan untuk merasa diterima dan terlibat dalam komunitas.
Selain itu, waktu luang tanpa struktur juga terjadi ketika remaja menghabiskan waktu secara daring. Paparan internet yang berkepanjangan tanpa pengawasan dapat meningkatkan kemungkinan remaja berinteraksi dengan konten atau situasi yang berisiko. Oleh karena itu, keluarga dan pengasuh perlu mengawasi tidak hanya durasi penggunaan internet, tetapi juga membantu remaja memahami lingkungan digital yang mereka akses.
Walaupun demikian, temuan ini tidak berarti bahwa semua waktu luang remaja harus diatur oleh orang dewasa. Waktu bebas tetap dibutuhkan agar remaja dapat belajar mengambil keputusan, mengembangkan minat, dan membangun hubungan sosial. Yang menjadi perhatian adalah ketika sebagian besar waktu tersebut dihabiskan tanpa arah, dukungan, dan keterhubungan dengan lingkungan yang positif.
Dengan demikian, masalah yang dihadapi bukan hanya seberapa banyak waktu luang yang dimiliki remaja, tetapi juga bagaimana mereka menjalani waktu tersebut. Studi ini menekankan bahwa lingkungan sosial sehari-hari dapat berperan penting dalam mendukung perkembangan remaja serta mencegah mereka terpapar perilaku berisiko.