Lifestyle

Dampak Stres Terhadap Proses Penuaan Fisik

Kesehatan mental berpengaruh signifikan terhadap kondisi fisik, di mana stres dapat mempercepat proses penuaan. Penjelasan mengenai bagaimana stres memengaruhi tubuh dan sel-sel manusia menjadi pentin...

Y
Yusuf Ahmad Pratama
16 June 2026 15 pembaca
Dampak Stres Terhadap Proses Penuaan Fisik
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan pikiran dan perasaan, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap kondisi fisik seseorang. Pembahasan mengenai kesehatan mental sebagai investasi untuk menghindari penuaan semakin ramai diperbincangkan, mengingat stres psikologis dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat seseorang terlihat lebih tua. Tubuh merespons tekanan mental melalui berbagai proses biologis yang berujung pada perubahan seluler dalam tubuh manusia.

Respon Stres dan Hormon Kortisol

Menurut psikiater dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.KJ, yang berpraktik di Siloam Specialist Center Senayan, stres secara medis dapat dianggap netral dan terkadang diperlukan dalam jumlah tertentu untuk mendorong seseorang mengambil tindakan. "Kita butuh stres kalau dikejar deadline, dikejar anjing galak, ataupun ada ancaman-ancaman lainnya," jelasnya dalam sebuah talkshow bertema "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan.

Di era modern, banyak ancaman yang tidak tampak secara fisik dan berasal dari dalam pikiran. Dalam menghadapi ancaman ini, otak berperan sebagai "manajer utama" yang mengirimkan sinyal ke struktur otak seperti hipotalamus dan amigdala. Dr. Rayhan menjelaskan bahwa komunikasi antarstruktur tersebut mengaktifkan sistem saraf untuk mempersiapkan tubuh dalam mode pertahanan diri atau pelarian. "Sistem saraf ini dia akan menyiapkan jantung kita supaya berdebar lebih kuat," tambahnya.

Selain jantung, pernapasan juga dipercepat, dan otot-otot menjadi lebih kencang untuk mempersiapkan tubuh. Namun, dr. Rayhan mengingatkan bahwa jika mode pertahanan ini terus aktif, akan sangat menguras energi fisik. "Bisa dibayangkan kalau itu terus-menerus terjadi, apa yang dirasakan? Capek juga badannya. Nah, itu yang dirasakan ketika kita mengalami stres kronis," ungkapnya.

Pemendekan Telomer dan Penuaan

Secara psikologis, respons biologis yang ekstrem ini dapat dihindari jika seseorang memandang tekanan sebagai peluang untuk berkembang, bukan sekadar ancaman. "Kalau misalnya distress itu, kita merasa bahwa situasi yang menekan itu berarti membawa sebuah ancaman," jelas psikolog klinis di Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya, M.Psi. Sebaliknya, jika tekanan dihadapi dengan cara positif (eustress), tubuh tidak akan memasuki mode siaga penuh. "Ketika kita bisa mencapai persepsi stres yang itu (eustress), maka kita akan terhindar dari fight or flight mode. Itu yang akan menyelamatkan diri kita dari penuaan akibat kortisol," imbuhnya.

Beban pikiran yang dianggap sebagai ancaman akan memicu otak untuk melepaskan kortisol, hormon stres yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini berfungsi mengatur metabolisme gula agar tubuh memiliki energi yang cukup. "Kalau kortisolnya itu terus-menerus ada di dalam tubuh kita, ya bisa dibayangkan jadinya kita selalu kayaknya tuh harus aktif," ungkap dr. Rayhan.

Kondisi waspada dan kecemasan yang berkelanjutan dapat memengaruhi proses regenerasi dalam tubuh. Penuaan fisik dapat terlihat melalui perubahan pada telomer, bagian ujung kromosom. "Setiap kali sel kita membelah diri atau meregenerasi, telomer ini akan berkurang panjangnya," jelas dr. Rayhan. Proses pembelahan sel memiliki batas akhir, dan pada usia tertentu, telomer akan sangat tipis sehingga sel tidak dapat membelah dan meregenerasi lagi. "Di saat itulah tubuh kita tidak bisa melanjutkan usianya," lanjutnya.

Telomer berfungsi sebagai jam biologis yang menentukan usia sel. Ketegangan kronis yang terakumulasi selama bertahun-tahun dapat mempercepat proses penipisan telomer secara drastis. "Kadar stres yang berlebih akan memendekkan kadar telomer ini," kata dr. Rayhan. Rantai panjang dari respons hormon kortisol hingga pemendekan kromosom menunjukkan bahwa kesehatan mental berhubungan erat dengan kesehatan fisik.

Memvalidasi emosi negatif yang muncul sehari-hari merupakan langkah awal untuk memproses beban pikiran sebelum telomer mengalami penurunan yang signifikan. Pada akhirnya, kesehatan psikologis dan perawatan biologis memerlukan peran aktif dari setiap individu, tanpa bergantung sepenuhnya pada tenaga medis. "Mental health itu sama dengan kita merawat dan menjaga kehidupan kita," pungkas dr. Rayhan.

Artikel Terkait