Kesehatan

Dampak Perbandingan Orangtua terhadap Karakter Anak di Masa Dewasa

Pengalaman masa kecil yang melibatkan perbandingan dengan saudara dapat membentuk karakter dan sifat tertentu yang terbawa hingga dewasa. Hal ini berpotensi memengaruhi cara individu merespons berbaga...

J
Jonathan Michael Saputra
12 May 2026 12 pembaca
Dampak Perbandingan Orangtua terhadap Karakter Anak di Masa Dewasa
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Masa kecil sering kali meninggalkan pengaruh yang signifikan terhadap karakter seseorang saat mereka dewasa. Salah satu pengalaman yang dapat memiliki dampak jangka panjang adalah sering dibandingkan dengan saudara kandung. Terus-menerus berada dalam bayang-bayang saudaranya dapat menimbulkan tantangan emosional. Kebiasaan membandingkan ini dapat membentuk sifat-sifat tertentu yang menetap hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang menghadapi kehidupan sehari-hari.

1. Sifat Kompetitif

Sifat kompetitif dapat muncul jika seseorang terbiasa dibandingkan sebagai bentuk pembuktian diri. "Perbandingan, terutama di masa kanak-kanak antara saudara kandung, melahirkan persaingan. Saudara kandung mungkin berlomba untuk meraih pencapaian, mengubahnya jadi kontes daripada pertumbuhan pribadi, yang dapat terbawa hingga dewasa," ungkap seorang psikolog dan profesor.

Walaupun dapat memacu kesuksesan, kondisi ini juga rentan memicu stres dan menyulitkan individu untuk menghargai pencapaian orang lain.

2. Perfeksionisme

Tuntutan dari lingkungan dapat membuat seseorang terjebak dalam perfeksionisme demi mendapatkan pengakuan. Sejak usia muda, anak-anak sering menerima "pesan" tentang bagaimana seharusnya mereka bertindak. "Meskipun hal ini tidak selalu dikomunikasikan secara eksplisit, pesan-pesan tersebut sering kali diinternalisasi sebagai, 'Saya harus menjadi sosok tertentu atau bertindak dengan cara tertentu agar layak mendapatkan cinta dan rasa memiliki'," jelas seorang psikolog.

Ketika seorang anak dibandingkan dengan saudaranya, mereka mungkin menerima pesan bahwa satu cara itu benar dan yang lain salah. "Ini dapat mengarah pada pola perfeksionisme, kompetitif, people-pleasing, atau ketakutan akan kegagalan," tambahnya.

3. Terlalu Penurut

Anak yang selalu diminta untuk meniru saudaranya cenderung beradaptasi demi mendapatkan kasih sayang. Akibatnya, mereka mungkin menekan identitas pribadi mereka saat dewasa. Hal ini dapat membuat individu kesulitan untuk menolak permintaan dan terus menyesuaikan diri guna menghindari konflik.

4. Tingkat Empati Tinggi

Di sisi lain, pengalaman yang penuh tekanan ini dapat meningkatkan kepekaan terhadap kesulitan orang lain. "Mengalami tekanan dan persaingan saat tumbuh dewasa dapat mengarah pada pemahaman yang lebih besar tentang perjuangan orang lain," terang psikolog tersebut. "Oleh karena itu, seseorang yang merasa dibayangi oleh saudaranya mungkin menjadi lebih peka terhadap ketidakamanan teman sebayanya."

5. Rasa Tidak Aman

Kurangnya pengakuan dapat menyebabkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Seseorang mungkin merasa tidak layak menerima penghargaan atau meyakini bahwa keberhasilannya adalah kebetulan, karena selalu dibandingkan dengan saudaranya. Hal ini dapat berujung pada krisis kepercayaan diri dan imposter syndrome. "Jika seorang adik tumbuh dengan terus-menerus dibandingkan dengan kakak yang sangat berprestasi, mereka mungkin belajar bahwa mereka harus berjuang untuk mencapai banyak hal agar layak mendapatkan cinta atau perhatian orang tua mereka," jelas psikolog tersebut.

6. Menghindari Risiko

Kritik tajam yang diterima di masa lalu sering meninggalkan ketakutan tersendiri. Menurut psikolog, ini berakar dari ekspektasi tinggi yang ditetapkan oleh orangtua saat anak dibandingkan dengan saudara. Ketakutan ini dapat membuat seseorang menghindari risiko di masa kanak-kanak dan dewasa kelak.

7. Sangat Sensitif

Luka emosional yang dialami di masa lalu dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap umpan balik negatif. "Sering dibandingkan dengan seseorang saat tumbuh dewasa, seperti saudara laki-laki atau perempuan, membuat kritik terasa seperti serangan pribadi," kata psikolog tersebut. "Orang dewasa mungkin memandang umpan balik sebagai ancaman terhadap identitas mereka, bukan hanya pekerjaan mereka."

Pengalaman masa kecil yang melibatkan perbandingan dengan saudara dapat membentuk karakter dan sifat tertentu yang terbawa hingga dewasa. Hal ini berpotensi memengaruhi cara individu merespons berbagai situasi dalam hidup.

Artikel Terkait