Kesehatan

Dampak Negatif Membandingkan Tubuh di Media Sosial yang Perlu Diketahui

Media sosial dapat memicu kebiasaan membandingkan tubuh yang berpotensi merugikan kesehatan mental dan citra diri. Penting untuk memahami dampak dari perilaku ini agar dapat mengelolanya dengan lebih...

K
Kartika Sari Dewi
21 August 2026 50 pembaca
Dampak Negatif Membandingkan Tubuh di Media Sosial yang Perlu Diketahui
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Media sosial memberikan kemudahan bagi kita untuk melihat kehidupan dan penampilan orang lain. Dalam waktu singkat, kita dapat menemukan berbagai foto yang menunjukkan tubuh ideal serta standar kecantikan yang sering dipamerkan di platform tersebut. Tanpa disadari, paparan ini dapat mendorong individu untuk membandingkan bentuk tubuh mereka dengan orang lain. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, hal itu dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap tubuhnya sendiri dan penilaian diri mereka.

American Psychological Association (APA) menyarankan agar penggunaan media sosial untuk membandingkan penampilan, khususnya yang berkaitan dengan kecantikan dan bentuk tubuh, sebaiknya dibatasi. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan penampilan di media sosial dengan citra tubuh yang buruk dan perilaku makan yang tidak teratur.

Mengapa Kita Sering Membandingkan Tubuh di Media Sosial?

Media sosial dipenuhi dengan konten visual, mulai dari unggahan selebritas hingga influencer dan kreator kebugaran. Namun, apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Foto-foto tersebut sering kali diambil dari banyak jepretan, menggunakan sudut dan pencahayaan tertentu, bahkan diedit sebelum diunggah. Psikolog Mitch Prinstein, PhD, dari APA menjelaskan bahwa membandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang wajar, tetapi media sosial memungkinkan perbandingan ini terjadi lebih sering.

Menurut Prinstein, pengguna media sosial cenderung hanya menampilkan hal-hal yang ingin mereka tunjukkan. Dengan kata lain, apa yang terlihat di layar adalah gambaran yang telah dikurasi, bukan keseluruhan kehidupan atau penampilan seseorang. Ketika gambar tubuh ideal terus muncul di linimasa, standar tersebut dapat terasa semakin normal, sehingga seseorang mungkin menilai tubuhnya sendiri kurang ideal hanya karena membandingkannya dengan apa yang dilihat di media sosial.

Dampak Ketidakpuasan Terhadap Tubuh

Salah satu konsekuensi dari kebiasaan ini adalah ketidakpuasan terhadap tubuh atau body dissatisfaction. Seseorang mungkin mulai lebih fokus pada bagian tubuh tertentu, merasa kurang menarik, atau berpikir bahwa mereka perlu mengubah penampilan agar terlihat seperti orang yang mereka kagumi di media sosial. Fenomena ini juga terkait dengan istilah thinspo atau thinspiration, yang mengagungkan tubuh sangat kurus dan dapat mendorong perilaku makan atau olahraga yang tidak sehat.

Elizabet Altunkara, LMSW, direktur National Eating Disorders Association, mengungkapkan bahwa paparan konten thinspo dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap tubuh, persepsi yang terdistorsi tentang penampilan, serta perasaan malu dan cemas. Cynthia M. Bulik, PhD, pendiri University of North Carolina Center of Excellence for Eating Disorders, menambahkan bahwa thinspo menjadikan keinginan untuk menjadi lebih kurus sebagai motivasi untuk melakukan diet, olahraga, dan metode lainnya untuk mencapai standar tubuh tertentu.

Konten semacam ini dapat mendorong individu untuk membandingkan tubuh mereka dengan orang yang dianggap memenuhi standar ideal. Hal ini bisa membuat seseorang merasa lebih rendah, merasa gagal mencapai target tubuh, atau terus merasa belum cukup kurus. Akibatnya, aktivitas seperti olahraga yang seharusnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dapat berubah menjadi kewajiban untuk mengejar bentuk tubuh tertentu.

Perubahan Pola Makan dan Kesehatan Mental

Ketika bentuk tubuh menjadi ukuran utama keberhasilan, hubungan seseorang dengan makanan dan olahraga juga dapat berubah. Seseorang mungkin merasa bersalah setelah makan, takut mengalami kenaikan berat badan, atau berolahraga hanya untuk “menebus” makanan yang telah dikonsumsi. APA mencatat bahwa perbandingan penampilan di media sosial berkaitan dengan perilaku makan yang tidak teratur dan gejala depresi. Namun, melihat konten di media sosial tidak selalu menyebabkan gangguan makan atau masalah kesehatan mental secara langsung. Banyak penelitian menunjukkan hubungan atau korelasi, sehingga sebab-akibatnya tidak selalu dapat dipastikan.

Ketika seseorang sering berinteraksi dengan konten tentang diet, penurunan berat badan, olahraga, atau bentuk tubuh tertentu, platform media sosial dapat merekomendasikan konten serupa. Hal ini dapat membuat individu merasa seolah-olah semua orang sedang diet atau berolahraga, padahal linimasa media sosial tidak mencerminkan keseluruhan populasi. Apa yang muncul dipengaruhi oleh aktivitas pengguna dan sistem rekomendasi platform tersebut. Oleh karena itu, APA menekankan pentingnya literasi media sosial agar pengguna dapat mempertanyakan akurasi dan representasi konten yang mereka lihat.

Cara Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Tubuh

Langkah pertama untuk mengatasi kebiasaan ini adalah dengan memperhatikan perasaan setelah melihat konten tertentu. Jika sebuah akun membuat kita merasa kurang cantik, kurang kurus, atau tidak cukup baik, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti atau membatasi paparan dari akun tersebut. Cobalah untuk mengikuti akun yang menampilkan keberagaman bentuk tubuh dan tidak menjadikan penampilan sebagai satu-satunya ukuran kesehatan. Bulik juga menyarankan agar fokus tidak terus diarahkan pada apa yang dianggap salah dari tubuh. Sebaliknya, mulailah menghargai fungsi tubuh dan berbagai hal yang dapat dilakukan tubuh dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait