Kesehatan

Dampak Kesalahan Orang Tua Terhadap Anak: Penjelasan dari Psikolog

Anak tidak seharusnya menanggung akibat dari kesalahan yang dilakukan orang tua, namun seringkali mereka menjadi korban stigma dan perundungan. Kasus dugaan ancaman bom di Jakarta Selatan baru-baru in...

J
Jonathan Michael Saputra
17 July 2026 73 pembaca
Dampak Kesalahan Orang Tua Terhadap Anak: Penjelasan dari Psikolog
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Anak seharusnya tidak menjadi pihak yang menanggung konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan oleh orang tua. Namun, dalam beberapa situasi, anak malah menjadi sasaran stigma dan perundungan akibat tindakan orang dewasa di sekitarnya. Perhatian publik baru-baru ini tertuju pada kasus dugaan ancaman bom yang dilakukan oleh seorang orang tua murid di sebuah sekolah dasar di Jakarta Selatan. Setelah kasus ini terungkap, anak dari terduga pelaku dilaporkan mengalami perundungan dari lingkungan sekitarnya.

Psikolog anak dan keluarga dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, menegaskan bahwa situasi ini dapat memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi anak. "Orangtua atau rumah merupakan tempat aman dan tempat nyaman untuk seorang berkembang. Ketika orang tua sebagai tempat aman dan nyaman tidak berfungsi, maka anak akan menjadi korban," ungkap Sani.

Risiko Kehilangan Rasa Aman

Menurut Sani, rumah seharusnya menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasa terlindungi dan diterima. Ketika rasa aman tersebut terganggu, anak berisiko kehilangan tempat untuk mengekspresikan perasaan serta mencari dukungan emosional. Hal ini dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengelola emosinya. Emosi negatif yang terus dipendam berpotensi memengaruhi kondisi psikologis dan perilaku anak. "Anak jadinya tidak bisa meregulasi emosi dengan baik, anak menumpuk akumulasi emosi negatif secara terus-menerus sehingga akan terjadi satu ledakan perilaku lain yang bisa menyebabkan kerugian diri sendiri maupun orang lain," jelas Sani.

Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa untuk memahami bahwa anak bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas tindakan orangtuanya.

Pentingnya Pola Asuh yang Sehat

Sani menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mencegah dampak psikologis yang lebih berat adalah dengan membangun pola asuh yang sehat sejak dini. Orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk mengungkapkan perasaan, kekhawatiran, serta pengalaman yang mereka alami. Dengan cara ini, anak memiliki ruang untuk menyalurkan emosi secara positif dan mendapatkan dukungan saat menghadapi tekanan. "Anak bisa menyalurkan emosi secara positif, kemudian orangtua dan anak bisa terbuka dan bercerita atas apa yang dirasa, sehingga menurut saya akan terbentuk pola asuh yang sehat, yang bisa mengembangkan justru fungsi anak lebih baik, bukan justru menekan anak menjadi terpuruk atau akhirnya gagal dalam meregulasi emosi," kata Sani.

Sekolah dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam melindungi anak dari stigma maupun perundungan. Sani menegaskan bahwa anak yang orangtuanya terlibat dalam suatu persoalan tetap merupakan korban yang membutuhkan perlindungan, bukan penghakiman. "Anak tidak salah, anak korban dari sistem yang keliru," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa sekolah perlu menyediakan ruang yang aman agar anak dapat berbagi cerita ketika menghadapi tekanan.

Sementara itu, keluarga dan masyarakat diharapkan tidak memberikan cap negatif atau perlakuan diskriminatif kepada anak atas tindakan yang bukan dilakukannya. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu anak mempertahankan kesehatan mentalnya serta mengurangi risiko munculnya masalah emosional dan perilaku di masa depan.

Artikel Terkait