Beberapa orangtua mungkin memiliki kepekaan emosional yang lebih tinggi, yang membuat mereka lebih mudah merasakan perubahan suasana hati dan memahami perasaan anak-anak mereka. Hal ini menjadi topik pembahasan mengenai karakteristik orangtua yang sangat sensitif secara emosional.
Pakar psikoterapi dan penulis buku "13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do", Amy Morin, LCSW, menjelaskan bahwa menjadi orang yang sangat emosional tidak sepenuhnya baik atau buruk. “Menjadi sangat emosional bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Penting untuk menemukan keseimbangan dan memastikan anak-anak mempelajari keterampilan yang mereka perlukan untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab,” ungkap Morin.
Karakteristik Orangtua yang Sensitif
Orangtua yang peka terhadap emosinya biasanya lebih terbuka dalam menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak segan untuk memberikan pujian, pelukan, atau perhatian kepada anak-anak mereka. Menurut Morin, kebiasaan ini dapat menciptakan rumah yang penuh kasih sayang, di mana anak-anak merasa dicintai dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtua mereka. “Kesediaan mereka untuk mengungkapkan perasaan membantu anak-anak merasa sangat dicintai. Mereka juga memupuk ikatan emosional yang kuat dengan anak-anak mereka,” tambahnya.
Orangtua yang sensitif juga dapat menjadi contoh yang baik dalam mengelola emosi. Psikolog perkembangan anak, Donna Housman, EdD, menyatakan bahwa sensitivitas yang disertai dengan empati dan kesadaran emosional dapat menjadi teladan bagi anak dalam mengembangkan kecerdasan emosional.
Mengajarkan Anak Tentang Emosi
Ketika anak merasa sedih, marah, atau kecewa, orangtua yang peka cenderung tidak mengabaikan perasaan tersebut. Psikolog klinis, Lilit Ayrapetyan, PsyD, menekankan bahwa sikap ini menciptakan ruang aman bagi anak untuk memahami bahwa semua emosi adalah hal yang wajar. "Hal ini dapat menciptakan ruang aman di mana anak-anak belajar bahwa semua emosi dapat diterima dan bahwa cinta mereka tanpa syarat, membantu mereka mengembangkan kecerdasan emosional yang lebih kuat,” jelas Ayrapetyan.
Orangtua juga berperan dalam membantu anak mengenali emosi yang mereka rasakan dengan memberi nama pada perasaan tersebut. Misalnya, ketika merasa kewalahan, orangtua bisa mengatakan bahwa mereka butuh waktu untuk menarik napas sebelum merespons. Alyssa Campbell, pendiri Seed & Sew, menambahkan bahwa kebiasaan ini membantu anak membangun dasar kecerdasan emosional dan kesadaran diri.
Namun, sensitivitas emosional tidak selalu berdampak positif. Ketika rasa takut dan kecemasan berlebihan, orangtua dapat menjadi terlalu protektif atau mengontrol anak. Psikolog positif, Reena B. Patel, LEP, BCBA, mengungkapkan bahwa kondisi ini dapat menghambat anak dalam mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri.
Orangtua yang sangat sensitif juga dapat mengalami perubahan suasana hati yang cepat, yang mungkin terasa tidak terduga bagi anak. Morin menjelaskan bahwa anak bisa merasa harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orangtuanya atau merasa perlu berhati-hati agar tidak memicu perubahan suasana hati.
Terakhir, orangtua yang memberikan respons berlebihan terhadap masalah kecil dapat tanpa sengaja mengajarkan pola yang sama kepada anak. Ayrapetyan menekankan pentingnya kesadaran diri bagi orangtua yang sangat emosional. Dengan mengenali pemicu emosi dan menciptakan jeda antara perasaan dan reaksi, sensitivitas emosional dapat menjadi kekuatan dalam pengasuhan, serta meningkatkan kepekaan terhadap kebutuhan anak dan membangun empati yang kuat.