Apakah anak Anda mulai mengucapkan kata-kata kasar yang mereka dengar di rumah, televisi, atau dari teman-teman? Kebiasaan ini sering kali sulit untuk dihindari, terutama saat anak mulai berinteraksi lebih banyak di luar lingkungan keluarga. Sebuah survei dari C.S. Mott Children’s Hospital National Poll menunjukkan bahwa 47 persen orangtua tidak setuju anak menggunakan kata kasar dalam situasi apa pun, sementara 35 persen lainnya berpendapat bahwa penggunaan kata tersebut tergantung pada konteks. Survei juga mengungkapkan bahwa penggunaan kata kasar meningkat saat anak memasuki masa remaja, dengan 37 persen orangtua melaporkan bahwa anak mereka setidaknya sesekali mengucapkan kata-kata tersebut.
Beragam alasan dapat memicu anak untuk menggunakan bahasa kasar, seperti kebiasaan, keinginan untuk diterima oleh teman, bercanda, mencari perhatian, atau pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, orangtua perlu memperhatikan tidak hanya kata-kata yang diucapkan anak, tetapi juga lingkungan bahasa yang mereka dengar setiap hari.
Peran Lingkungan dalam Pembelajaran Anak
Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar. Pakar psikologi Tyanna Snider mengingatkan agar orangtua memperhatikan ucapan mereka sendiri serta kata-kata yang didengar anak dari berbagai sumber. Terapis Anne Josephson, PsyD, MSEd, menekankan pentingnya orangtua memberikan contoh yang baik melalui perilaku sehari-hari. “Anak perlu belajar dari orangtua dan lingkungan bahwa ada waktu dan tempat untuk menggunakan kata-kata kasar,” ujar Josephson. Dengan cara ini, orangtua dapat membantu anak memahami bahwa penggunaan kata tertentu bergantung pada situasi.
Strategi Menghadapi Penggunaan Kata Kasar
Ketika anak mengucapkan kata kasar, orangtua tidak selalu harus memberikan hukuman. Mereka bisa meminta anak untuk berhenti, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut kurang baik, atau mengabaikannya. Yang terpenting adalah membantu anak memahami bahwa kata-kata dapat memengaruhi perasaan orang lain. Snider menyarankan agar orangtua menjelaskan bahwa beberapa kata dapat menyakiti atau menyinggung orang lain. Psikolog Deborah Vinall, PsyD, LMFT, juga menekankan bahwa konteks penggunaan kata kasar harus diperhatikan. “Penggunaan kata-kata kasar tidak boleh ditujukan kepada seseorang atau digunakan untuk merujuk pada seseorang,” jelasnya. Dengan demikian, fokus orangtua seharusnya tidak hanya membuat anak takut mengucapkan kata kasar, tetapi juga membantu mereka memahami kapan ucapan tersebut bisa dianggap tidak sopan.
Orangtua juga tidak dapat selalu mengontrol setiap ucapan mereka. Jika tanpa sengaja mengucapkan kata kasar di depan anak, Josephson menyarankan agar orangtua mengakui kesalahan dan menunjukkan penyesalan. “Sampaikan kepada anak bahwa orangtua menyesal telah mengucapkan kata tersebut,” ungkapnya. Momen ketika anak mendengar kata kasar dari film atau lingkungan lain juga bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan mengapa kata tersebut tidak tepat digunakan.
Pada akhirnya, pencegahan kebiasaan berkata kasar tidak harus dilakukan dengan menuntut anak untuk selalu sempurna. Para ahli menekankan bahwa orangtua harus menjadi teladan dalam menggunakan bahasa yang sesuai dan membicarakan dampak dari penggunaan kata-kata tersebut, baik di masa kini maupun di masa depan.