Kegiatan mengasuh anak di era digital saat ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi. Dari aplikasi yang membantu panduan makan bayi hingga perangkat hiburan saat bepergian, interaksi dengan layar hampir tidak bisa dihindari. Media sosial juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari keluarga, di mana membagikan foto anak dianggap hal yang biasa. Namun, meskipun niatnya baik, kebiasaan yang dikenal sebagai sharenting ini dapat berpotensi mengancam privasi, keamanan, dan kesehatan mental anak.
Dokter spesialis anak dan pemilik Frontier Pediatric Care, Phil Boucher, MD, menyatakan bahwa orangtua sering kali ingin berbagi kebanggaan dan kebahagiaan mereka mengenai anak dengan orang lain di dunia maya. "Tetapi, kita juga harus mempertimbangkan perasaan dan privasi anak-anak kita di masa depan," ujarnya.
Pelanggaran Privasi yang Tidak Disadari
Keinginan untuk membagikan konten sering kali muncul dari niat baik untuk mempererat hubungan keluarga atau mencari dukungan dari orangtua lain. Namun, masalah privasi sering kali dimulai dari kurangnya persetujuan. Bayi dan balita tidak memahami kompleksitas dunia maya, sehingga tidak dapat memberikan izin ketika foto dan video mereka disebarkan. Sebuah survei pada tahun 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen orangtua membagikan data anak mereka, tetapi kurang dari 25 persen selalu meminta izin, dan sepertiga tidak pernah bertanya.
Jejak Digital di Tangan Orang Asing
Membagikan foto anak berarti membuka akses bagi orang-orang yang tidak dikenal. Gambar yang awalnya hanya ditujukan untuk keluarga dapat dengan mudah tersebar luas. Riset yang sama mencatat bahwa 80 persen orangtua mengaku memiliki teman di media sosial yang belum pernah mereka temui secara langsung. Becky Lois, PhD, Direktur Psikologi di Hassenfeld Children's Hospital at NYU Langone, memperingatkan tentang risiko yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi saat ini. "Di era kecerdasan buatan, konten eksplisit secara seksual dapat dibuat dengan gambar-gambar yang tampak polos dan tidak berbahaya," jelasnya. Jika foto yang diunggah menyertakan informasi pengenal, seperti latar belakang sekolah, orang yang melihatnya dapat mengetahui lokasi anak tersebut.
Pencurian Identitas
Laporan dari BBC pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa bank Barclays memprediksi bahwa kebiasaan orangtua membagikan data anak dapat menyebabkan kerugian akibat penipuan identitas mencapai 900 juta dolar per tahun menjelang tahun 2030. Mengungkapkan nama lengkap anak, sekolah, dan nama hewan peliharaan dapat memberi kesempatan bagi penipu untuk menyalahgunakan informasi tersebut di masa depan.
Merusak Hubungan Orangtua dan Anak
Terus-menerus membagikan konten anak akan menciptakan jejak digital yang permanen. Sebuah studi pada tahun 2019 menunjukkan bahwa banyak remaja tidak menyukai perilaku orangtua yang sering memamerkan foto mereka, terutama jika tujuannya hanya untuk memperbaiki citra keluarga. Hal ini dapat merusak rasa percaya anak terhadap orangtua. Selain itu, platform media sosial umumnya memiliki hak atas konten yang diunggah sesuai dengan syarat dan ketentuan yang disetujui oleh pengguna.
Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Mental Anak
Selain merusak hubungan, citra diri anak juga dapat terganggu. Tinjauan tahun 2022 terhadap lebih dari 68 studi menunjukkan bahwa depresi dan gangguan pola makan adalah dampak paling berbahaya dari penggunaan media sosial. Anak-anak mungkin merasa tertekan untuk selalu tampil menarik demi mendapatkan interaksi yang tinggi di akun media sosial orangtua mereka. Menurut Lois, tidak ada orangtua yang sepenuhnya memahami dampak jangka panjang terhadap harga diri anak. Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahaya media sosial, seperti perundungan dan perbandingan diri dengan orang lain, "Dalam jangka panjang, citra diri seorang anak dapat dipengaruhi secara signifikan oleh apa yang dibagikan tentang mereka secara daring," ungkap dr. Boucher. Ia menambahkan bahwa meskipun berbagi foto dan video positif dapat berkontribusi pada citra diri yang sehat, unggahan yang negatif atau memalukan dapat menyebabkan masalah pada harga diri dan citra tubuh anak. "Sebagai orangtua, kita harus melindungi mereka tidak hanya di dunia fisik, tetapi juga di ruang digital," tutupnya.