Kesehatan

Apakah Target 10.000 Langkah Masih Relevan untuk Semua Orang?

Target 10.000 langkah per hari sering dianggap sebagai standar aktivitas fisik, namun tidak semua individu, terutama yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, dapat mengikuti target ini. Dokter spesia...

K
Kartika Sari Dewi
09 October 2026 59 pembaca
Ilustrasi berjalan kaki(mladensky)
Ilustrasi berjalan kaki(mladensky)

Target harian sebanyak 10.000 langkah sering dijadikan sebagai acuan bagi mereka yang ingin meningkatkan aktivitas fisik. Angka ini mudah dipantau melalui perangkat seperti smartwatch atau ponsel, sehingga individu dapat mengecek apakah mereka telah mencapai target tersebut. Namun, penting untuk dicatat bahwa target aktivitas ini tidak selalu cocok untuk setiap orang, terutama bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan tertentu.

Dokter spesialis olahraga, dr. Andhika Respati, Sp.KO, menjelaskan bahwa penyesuaian target aktivitas sangat penting, terutama bagi pasien yang mengalami obesitas, diabetes, atau osteoarthritis. Menurutnya, menetapkan jumlah langkah yang sama untuk semua orang tidak selalu tepat karena setiap individu memiliki kemampuan dan kondisi kesehatan yang berbeda.

Menyesuaikan Target Aktivitas dengan Kondisi Kesehatan

Andhika menegaskan bahwa bagi pasien dengan kondisi seperti obesitas atau osteoarthritis, tidak realistis untuk menetapkan target 10.000 langkah. Ia menyatakan, “Misalnya ada pasien dengan obesitas, diabetes dan mengalami osteoarthritis. Tidak mungkin kita pastikan 10 ribu langkah.” Dalam situasi tersebut, jumlah langkah yang disarankan seharusnya disesuaikan dengan kemampuan pasien. Meskipun aktivitas fisik tetap bisa dilakukan, bentuk dan targetnya harus mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing.

“Jadi memang jumlah langkahnya tidak perlu banyak-banyak, tapi exercise yang mendukung,” tambahnya. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya personalisasi dalam menetapkan target aktivitas. Seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk mencapai angka tertentu hanya karena angka tersebut umum digunakan.

Pilihan Aktivitas Lain yang Sesuai

Andhika memberikan contoh bersepeda sebagai alternatif bagi mereka yang kesulitan memenuhi target langkah yang tinggi. “Misalnya seperti sepeda. Itu kan tidak dihitung sebagai langkah, tapi bisa dilihat dari menitnya berapa lama,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik tidak selalu harus diukur dari jumlah langkah, melainkan juga dari jenis aktivitas, durasi, dan kondisi individu yang melakukannya. Pendekatan ini sangat penting terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Target yang terlalu tinggi justru dapat membuat aktivitas terasa berat dan sulit untuk dipertahankan. Selain itu, penggunaan smartwatch tidak berarti seseorang harus terikat pada angka yang muncul di layar tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh. Andhika mengingatkan bahwa data dari perangkat wearable sebaiknya tidak diterima begitu saja. Jumlah langkah yang tercatat bisa jadi tidak akurat, baik kurang maupun lebih dari yang sebenarnya.

“Stats itu juga tidak boleh terlalu mentah-mentah,” ungkapnya. Ia mencontohkan bahwa bersepeda tidak akan tercatat sebagai langkah, sementara aktivitas seperti naik kendaraan atau berjalan di permukaan yang tidak rata mungkin terbaca sebagai langkah. Oleh karena itu, angka langkah sebaiknya digunakan sebagai salah satu informasi untuk menilai aktivitas, bukan sebagai satu-satunya ukuran kesehatan seseorang.

U-Buddy, fitur terbaru dalam aplikasi U by Prodia, menawarkan pendekatan personalisasi dalam menetapkan target aktivitas. U-Buddy memiliki fitur Personalized Step Recommendation yang memberikan rekomendasi target langkah sesuai profil pengguna, serta Weekly Progress & Insight untuk memantau perkembangan aktivitas dari waktu ke waktu. Andri Hidayat, Business & Product Director PT Prodia Digital Indonesia, menekankan pentingnya personalisasi target karena kebutuhan aktivitas setiap orang berbeda. “Di U-Buddy ini bisa sesuaikan targetnya berapa. Contoh misalkan saya ternyata cuma 3 ribu, 5 ribu, nah itu bisa disesuaikan targetnya setelah dia nanti berkonsultasi dengan expert,” ujarnya.

Selain rekomendasi target, U-Buddy juga dapat mengumpulkan data aktivitas dari berbagai perangkat wearable melalui Apple Health dan Google Health Connect. Data yang ditampilkan mencakup langkah, jenis olahraga, durasi aktivitas, hingga estimasi kalori, sehingga pengguna dapat melihat perkembangan aktivitas dalam satu platform.

Artikel Terkait