Kabar mengejutkan datang dari Choi Min-ho, anggota grup idola SHINee, yang baru-baru ini diperingatkan oleh dokternya untuk mengurangi aktivitas olahraga berat. Hasil dari serangkaian tes kesehatan menunjukkan bahwa kadar enzim di hati Min-ho mengalami peningkatan yang signifikan. Kenaikan ini menandakan adanya kerusakan otot yang cukup serius akibat latihan intensif yang dilakukannya setiap hari, mirip dengan seorang atlet profesional saat bertanding.
Kasus yang dialami oleh Min-ho ini relevan bagi siapa saja yang terbiasa melakukan aktivitas fisik berat. Namun, pertanyaannya adalah mengapa olahraga berlebihan dapat menyebabkan lonjakan kadar enzim hati dan apa dampak yang mungkin ditimbulkan pada tubuh.
Penyebab dan Dampak Kenaikan Enzim Hati Setelah Olahraga Berlebihan
Enzim hati, seperti aspartat aminotransferase (AST), sering dianggap sebagai indikator fungsi hati. Namun, enzim ini juga ditemukan dalam jaringan otot, jantung, dan ginjal. Ketika sel-sel dalam jaringan ini mengalami stres atau kerusakan, AST dapat bocor ke dalam aliran darah, yang kemudian terdeteksi melalui tes darah sebagai peningkatan kadar.
Aktivitas fisik yang intens atau gerakan olahraga baru dapat menyebabkan peningkatan kadar AST tanpa adanya masalah hati yang sebenarnya. Untuk membedakan sumber masalah, dokter biasanya akan memeriksa kadar enzim kreatin kinase untuk memastikan apakah masalah berasal dari otot.
Risiko Serius pada Kerusakan Organ Ginjal
Ketika sel-sel otot mengalami tekanan tinggi saat berolahraga, dapat terjadi robekan mikroskopis pada membran sel otot. Proses perbaikan serat otot ini dapat menyebabkan sel membocorkan enzim ke dalam aliran darah. Kenaikan kadar enzim ini tidak langsung mencapai puncaknya setelah mengangkat beban berat; tubuh memerlukan waktu sekitar empat hingga tujuh hari untuk mencapai puncak tersebut, dan umumnya memerlukan waktu istirahat total selama 10-12 hari agar kadar enzim kembali normal.
Meskipun sebagian besar peningkatan kadar enzim merupakan respons adaptif, olahraga ekstrem yang melebihi batas toleransi dapat mengancam kesehatan. Kadar AST normal bagi orang dewasa berkisar antara 10-40 unit per liter. Jika angka ini meningkat drastis, hal tersebut dapat menjadi indikasi kondisi darurat medis yang dikenal sebagai rabdomiolisis, di mana jaringan otot yang rusak membocorkan protein dalam jumlah besar ke dalam aliran darah, membebani ginjal dan berpotensi menyebabkan gagal ginjal akut.
Segera cari pertolongan medis jika mengalami nyeri otot yang sangat hebat, kelemahan tubuh yang parah, atau urine yang berwarna gelap seperti teh pekat.
Lonjakan kadar enzim setelah berolahraga seringkali membuat pasien panik dan dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Seorang ahli hepatologi menceritakan kasus seorang remaja yang dicurigai menderita penyakit hati langka, padahal sebenarnya hanya kelelahan akibat latihan beban yang intensif. Kepanikan seperti ini seringkali berujung pada serangkaian tes yang tidak perlu.
Disarankan untuk tidak melakukan tes fungsi hati segera setelah berolahraga keras, terutama jika baru memulai rutinitas latihan di gym. Penting untuk menyampaikan rekam jejak aktivitas fisik kepada tenaga medis untuk menghindari pengujian yang tidak perlu dan kepanikan yang tidak diinginkan.