Lifestyle

Tren Piknik di Taman Jakarta: Solusi Hiburan Hemat di Tengah Krisis Ekonomi

Warga Jakarta kini beralih ke piknik di taman sebagai alternatif rekreasi yang terjangkau dan menyenangkan di tengah biaya hidup yang tinggi. Aktivitas ini menjadi kebutuhan baru bagi masyarakat yang...

M
Muhammad Rizki Ramadhan
16 October 2026 62 pembaca
Dokumentasi komunitas Bertemu Djakarta saat menggelar event piknik di salah satu taman di Jakarta.(Dok. Pribadi)
Dokumentasi komunitas Bertemu Djakarta saat menggelar event piknik di salah satu taman di Jakarta.(Dok. Pribadi)

Kondisi ekonomi yang sulit dan padatnya aktivitas sehari-hari mendorong warga Jakarta untuk menemukan cara baru dalam mencari hiburan yang tidak menguras kantong. Menggelar tikar, menikmati makanan ringan, dan bercengkerama di bawah naungan pepohonan kini menjadi pemandangan umum di taman-taman kota. Fenomena piknik estetik ini telah menjadi angin segar bagi kaum urban yang mencari ruang rekreasi tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

Piknik Estetik: Kebutuhan Masyarakat Modern

Piknik di taman bukan sekadar tren yang muncul dari media sosial, tetapi telah bertransformasi menjadi kebutuhan dasar bagi warga yang mendambakan tempat untuk bersantai. Menurut Muhamad Ilham, pendiri Komunitas Bertemu Djakarta, fenomena ini mencerminkan pencarian masyarakat akan ruang yang aman dan nyaman. “Ruang terbuka hijau dengan aktivitas seperti piknik di taman ini jadi kebutuhan primer untuk penduduk perkotaan. Sebagai makhluk sosial, kita pasti butuh ruang ketiga untuk menyegarkan pikiran, bersosialisasi, dan beraktivitas di luar rutinitas,” ungkapnya.

Ilham juga menambahkan bahwa perkembangan informasi melalui platform digital telah mempercepat kebiasaan baru ini. Banyak orang kini memilih taman sebagai tempat untuk bersantai, berkumpul dengan teman, atau melakukan berbagai aktivitas. “Adanya tren piknik di media sosial juga menjadi salah satu gambaran kebutuhan banyak orang untuk melampiaskan stres atau berkumpul bersama teman di taman,” jelasnya.

Kualitas Fasilitas Taman yang Masih Perlu Diperhatikan

Meskipun minat masyarakat untuk menggunakan taman semakin tinggi, kualitas infrastruktur di beberapa lokasi masih menjadi perhatian. Ilham menjelaskan bahwa ketersediaan lahan hijau saja tidak cukup tanpa dukungan ekosistem yang ramah bagi pengunjung. “Kalau di Jakarta dalam waktu 5 tahun ada peningkatan jumlah taman. Tapi dari segi kualitas dan inklusivitas belum merata,” ujarnya.

Ia menyoroti beberapa masalah yang sering dihadapi, seperti akses transportasi yang kurang memadai dan fasilitas parkir yang tidak cukup. “Beberapa concern komunitas soal taman yaitu aksesibilitas ke transportasi publik, ramah untuk pejalan kaki, dan juga fasilitas parkir yang memadai tanpa adanya pungli untuk pengunjung yang membawa kendaraan pribadi,” paparnya. Selain itu, fasilitas dasar seperti tempat ibadah, toilet yang layak, dan penerangan yang baik juga menjadi syarat penting untuk kenyamanan pengunjung.

Ilham juga menekankan bahwa taman bisa menjadi motor penggerak ekonomi bagi pelaku usaha kecil jika diizinkan untuk membuka lapak di area tersebut. “Di taman pengunjung tidak hanya duduk saja, kalau ada tenant makanan atau bisa berkolaborasi dengan UMKM, kemungkinan akan lebih ramai pengunjung dan bisa menggerakan ekonomi UMKM juga,” tuturnya.

Namun, regulasi yang ketat juga menjadi keluhan dari komunitas. Taman yang seharusnya menjadi ruang untuk berekspresi sering kali dibatasi oleh aturan administratif. “Ruang terbuka hijau ini bisa dibilang jadi media hal-hal spontanitas atau kreativitas yang seharusnya mudah dijangkau,” tegas Ilham.

Ia menjelaskan bahwa proses birokrasi yang panjang untuk mengadakan acara komunitas dan adanya batasan waktu tertentu sering kali menghambat kreativitas para pelaku seni.

Taman Sebagai Oase di Tengah Krisis Ekonomi

Warga juga merasakan pentingnya taman yang inklusif. Zulfa, seorang karyawan swasta berusia 22 tahun, mengaku lebih memilih taman sebagai tempat berkumpul dengan teman dibandingkan pusat perbelanjaan. “Tapi kalau nongkrong buat ngobrol sama teman aja aku lebih suka taman, karena bisa duduk gratis. Di mal itu tempat duduk gratisnya terbatas,” katanya.

Menurutnya, menghabiskan waktu di taman adalah pilihan yang lebih ekonomis. “Sesimpel karena taman itu gratis aja sih. In this economy, kalau bisa menghemat pengeluaran yang enggak perlu, kenapa enggak?” ujarnya. Meskipun ada beberapa kekurangan dalam fasilitas, keberadaan pepohonan yang rindang tetap menjadi daya tarik tersendiri, terutama di tengah cuaca panas Jakarta.

Fenomena piknik di taman kota menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang publik yang berkualitas dan bebas dari birokrasi semakin mendesak. Taman kota seharusnya menjadi ruang bernapas bagi masyarakat metropolitan, dan keberadaan ruang terbuka hijau yang ramah pengunjung menjadi indikator seberapa manusiawi sebuah kota dalam merangkul warganya.

Artikel Terkait