Keindahan warna biru yang pekat pada selembar kain sering kali berasal dari proses budidaya yang panjang di dataran tinggi. Di lereng Gunung Prau, Temanggung, Jawa Tengah, terdapat usaha mikro bernama Shibiru yang sejak 2016 fokus pada pembuatan pasta pewarna alami dari tanaman Strobilanthes cusia. Meskipun awalnya berperan sebagai pemasok bahan baku untuk para pembatik dan penenun, Shibiru harus menghadapi tantangan ketika pesanan dari perajin tekstil mendadak terhenti.
Alih-alih menyerah, para pendiri Shibiru justru menemukan ide kreatif baru untuk bertahan. Dari yang awalnya hanya mengolah tanaman menjadi pasta pewarna, mereka kemudian mengembangkan lini produk fesyen dan kerajinan tangan yang dinamakan Cusia by Shibiru.
Perjalanan Bisnis Shibiru dan Keterlibatan Masyarakat Lokal
Shibiru memulai usahanya di lahan dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, yang merupakan lokasi ideal untuk pertumbuhan tanaman penghasil pigmen biru. Pemilik Shibiru, Fatah Syaifur Rochman, yang akrab disapa Fatah Ipung, menggandeng masyarakat sekitar untuk menanam komoditas ini secara kolektif. "Dia mencoba membudidayakan, kerja sama dengan petani tembakau, jagung sama kopi di daerah kami," ungkap Novi, salah satu pemilik Cusia by Shibiru, saat acara INACRAFT Oktober 2026 di Jakarta.
Tanah yang subur di pegunungan memungkinkan tanaman tumbuh dengan baik, sehingga hasil panennya dapat diolah menjadi pasta dalam jumlah besar. Pesanan dari pasar domestik dan internasional, termasuk Jepang, terus mengalir. Namun, seiring waktu, mengandalkan bahan mentah saja mulai menimbulkan masalah komunikasi dengan konsumen akhir. Para pengelola merasa kesulitan untuk menunjukkan hasil pewarnaan hanya dengan menampilkan tanaman dan kaleng pasta biru.
Inovasi di Tengah Krisis Pandemi
Ketika pandemi melanda, industri kerajinan kain di seluruh nusantara mengalami krisis. Meskipun lahan perkebunan masih menghasilkan daun yang siap diolah, pesanan dari klien utama tiba-tiba terhenti. "Kita bingung ke mana ngebuangnya karena hampir semua produksi teman-teman pembatik kan off waktu pandemi itu," kenang Novi.
Namun, harapan muncul ketika Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam pameran menyambut delegasi G20. Kesempatan ini mendorong mereka untuk merilis koleksi pakaian dengan cepat. "Terus kita diajak, terus udah kita nekat aja, modal nekat udahlah kita bikin apa yang bisa kita kerjakan dulu saat itu," jelas Novi. Koleksi fesyen sederhana seperti baju, kain, dan topi ternyata mendapat sambutan positif, yang memotivasi mereka untuk memproduksi lebih banyak variasi produk.
Perkembangan pesat ini membawa tantangan baru dalam memenuhi target pesanan. Kapasitas produksi internal tidak lagi mencukupi, sehingga mereka memutuskan untuk membentuk koperasi yang dapat menampung lebih banyak kreator. "Ini sebenarnya kayak dalam satu rumah tapi beda kamar gitu ya, satu unit untuk produksi pasta sama pelatihan, yang satu untuk produk jadi," papar Novi.
Koperasi ini memberikan kesempatan bagi para pembatik, penjahit, dan perajut dari berbagai daerah untuk menitipkan hasil karya mereka. Syarat untuk bergabung cukup sederhana; semua produk harus melalui proses pewarnaan menggunakan pasta indigo buatan kelompok mereka. "Jadi kadang kan orang tuh bisa bikin (produk) tapi enggak bisa jual ya," tambah Novi. Skema kemitraan ini terbukti efektif dalam menjaga kelancaran produksi tanpa membebani keuangan internal, sekaligus memberikan saluran penjualan yang terpercaya bagi masyarakat sekitar.
"Kalau semua produksinya dari benar-benar yang Cusia aja yang ngerjain, itu enggak akan kepegang, jadi ini kolaborasi banyak teman-teman," tutup Novi.