Teknologi

Tiga Dekade Perubahan Gaya Hidup Digital di Indonesia

Sejak tahun 1996, Indonesia telah mengalami transformasi besar dalam gaya hidup digital, dari penggunaan telepon umum hingga dominasi smartphone. Perusahaan ritel Erajaya Swasembada Tbk menjadi saksi...

A
Angelica Putri Wijaya
16 September 2026 47 pembaca
Erafone dan Erablue, toko ritel Erajaya Group. Foto: Erajaya
Erafone dan Erablue, toko ritel Erajaya Group. Foto: Erajaya

Pada tahun 1996, masyarakat Indonesia masih mengandalkan telepon umum, telepon rumah, dan pager untuk berkomunikasi, sementara ponsel merupakan barang mewah yang belum umum digunakan. Internet pun masih dalam tahap awal, belum menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Saat itu, mesin pencari dan media sosial belum ada, dan layanan streaming video belum terdengar. Di tengah revolusi komunikasi yang akan datang, PT Erajaya Swasembada Tbk didirikan pada 8 Oktober 1996 oleh Budiarto Halim dan Ardy Hady Wijaya, dengan hanya lima karyawan.

Setelah tiga puluh tahun berlalu, pada tahun 2026, penggunaan teknologi, terutama ponsel, telah berubah drastis. Kini, smartphone menjadi alat yang canggih dan terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat. Smartphone saat ini berfungsi sebagai kamera, televisi, pemutar musik, konsol permainan, peta, dan alat pembayaran. Fitur kecerdasan buatan (AI) juga telah tersedia di berbagai model smartphone, membantu pengguna dalam menulis, menganalisis, menerjemahkan, menciptakan gambar, dan mengembangkan ide.

Peningkatan Penggunaan Teknologi dalam Tiga Dekade

Pada tahun 1996, jaringan seluler GSM baru mulai diperkenalkan di Indonesia. Telkomsel, yang diluncurkan pada Mei 1995, baru menjangkau seluruh provinsi pada bulan Desember 1996. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1999, jumlah pelanggan GSM di Indonesia hanya mencapai 1,5 juta orang. Namun, dalam tiga puluh tahun kemudian, jumlah pengguna smartphone diperkirakan mencapai 187,7 juta orang pada tahun 2025, atau sekitar 68,1 persen dari total populasi.

Data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2026, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta jiwa, setara dengan 81,72 persen dari total populasi 287,3 juta penduduk. Tren dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang konsisten, dengan penetrasi internet meningkat dari 77% pada tahun 2022 menjadi 81,72% pada tahun 2026. Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menyatakan bahwa posisi internet dalam kehidupan masyarakat telah mengalami perubahan signifikan. "Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia," ujarnya.

Perjalanan 30 Tahun Erajaya Group

Perjalanan tiga dekade Erajaya Group mencerminkan dinamika industri ritel yang tidak mudah. Budiarto Halim, CEO PT Erajaya Swasembada Tbk, mengungkapkan bahwa perjalanan 30 tahun tersebut merupakan proses pembelajaran, adaptasi, dan transformasi. "Tiga puluh tahun merupakan perjalanan yang penuh pembelajaran, adaptasi, dan transformasi bagi Erajaya," katanya. Erajaya berhasil membangun bisnis yang adaptif dan relevan di tengah perubahan pasar yang cepat.

Salah satu pencapaian penting bagi Erajaya adalah masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 pada tahun 2026 di peringkat ke-84, meningkat dari peringkat ke-89 pada tahun sebelumnya. Ini merupakan tahun ketiga berturut-turut mereka masuk dalam daftar tersebut.

Ponsel pada tahun 1996 hanya berfungsi untuk berkomunikasi, tetapi kini smartphone menjadi pusat aktivitas masyarakat modern. Bagi karyawan, smartphone mendukung produktivitas, sedangkan bagi mahasiswa, ponsel memberikan akses terhadap pengetahuan. Pelaku UMKM memanfaatkan ponsel sebagai saluran penjualan, sementara bagi anak muda, smartphone menjadi ruang untuk bekerja dan bersenang-senang.

Revolusi teknologi juga mengubah cara kerja. Smartphone dan laptop memungkinkan pekerjaan dilakukan di mana saja, menghapus batasan ruang. Pandemi Covid-19 mempercepat pergeseran ini, dengan banyak pekerja yang beralih ke ruang digital. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat bahwa ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai nilai transaksi bruto (GMV) USD 100 miliar pada tahun 2025, dengan sektor e-commerce sebagai kontributor utama.

Data APJII 2026 menunjukkan bahwa 18,7 persen masyarakat menggunakan internet untuk transaksi e-commerce dan layanan digital lainnya, menandakan bahwa ponsel kini lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi juga penggerak ekonomi.

Di sisi hiburan, teknologi telah mengubah cara orang bersenang-senang. Dulu, acara televisi harus ditunggu pada waktu tertentu, kini orang dapat memilih kapan menonton. Musik yang sebelumnya tersedia melalui radio dan kaset kini dapat diakses melalui aplikasi. Gaming juga telah bertransformasi, memungkinkan orang bermain bersama secara daring, terlepas dari lokasi. Data APJII 2026 menunjukkan bahwa aktivitas komunikasi dan media sosial menjadi alasan utama akses internet, diikuti oleh hiburan digital.

Erajaya pun beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Dengan informasi produk yang mudah diakses secara online, pengalaman berbelanja di toko fisik menjadi sangat penting. Erajaya telah mengoperasikan lebih dari 2.400 gerai di Indonesia dan memiliki lebih dari 17,5 juta anggota MyEraspace. Pada Januari 2026, mereka meresmikan 29 gerai baru di berbagai daerah, memperluas akses teknologi hingga ke kota-kota kecil.

CEO Erajaya Digital, Joy Wahjudi, menjelaskan bahwa konsep O2O (online to offline) menjadi bagian dari strategi mereka. "Itu tidak terlepas dari strategi awal kami dengan terus meningkatkan omni channel," ujarnya. Wakil Direktur Utama PT Erajaya Swasembada Tbk, Hasan Aula, menambahkan bahwa pembukaan gerai offline tetap penting untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang ingin berbelanja secara langsung.

Dengan semakin digitalnya teknologi, toko fisik tetap memiliki peran penting sebagai tempat konsultasi dan mencoba produk. Erajaya mencatat bahwa pada tahun 2025, penjualan bersih mencapai Rp 76,6 triliun, dengan bisnis digital menyumbang sekitar 74 persen dari pendapatan.

Perusahaan ini tidak hanya berfokus pada perangkat telekomunikasi, tetapi juga membangun ekosistem yang lebih luas, mencakup teknologi, olahraga, gaya hidup, serta makanan dan minuman. Erajaya kini menyediakan berbagai produk, termasuk smartwatch, earbuds, dan perangkat rumah pintar, yang menunjukkan bahwa pasar semakin berkembang.

Ketika Erajaya memulai perjalanannya pada tahun 1996, ponsel hanya digunakan untuk berkomunikasi. Tiga puluh tahun kemudian, smartphone telah menjadi pusat kehidupan manusia. Perjalanan Erajaya mencerminkan transformasi Indonesia menuju kehidupan yang lebih produktif dan terhibur secara digital. Budiarto Halim menekankan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari kepercayaan pelanggan dan dukungan mitra bisnis. "Pencapaian ini tidak lepas dari kepercayaan pelanggan, dukungan para mitra bisnis, pemegang saham, serta dedikasi seluruh karyawan yang telah menjadi bagian dari perjalanan Erajaya selama tiga dekade ini," ujarnya.

Memasuki dekade keempat, Erajaya menghadapi perubahan yang cepat dan terus beradaptasi dengan strategi diversifikasi, omnichannel, dan ekspansi. Memahami kebutuhan manusia yang menggunakan teknologi menjadi kunci keberhasilan di masa depan. Dengan perjalanan yang telah dilalui, Erajaya tumbuh bersama masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan dan peluang baru di era digital.

Artikel Terkait