JAKARTA - Partai Amanat Nasional (PAN) baru saja merayakan ulang tahun yang ke-28, menandai perjalanan panjang sebagai salah satu partai Reformasi yang tetap bertahan di parlemen sejak Pemilu 1999. Dalam momen tersebut, partai yang memiliki lambang matahari putih ini harus menghadapi perdebatan mengenai kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) menjadi 5 persen. Wacana ini mendapatkan tanggapan beragam dari kalangan elite PAN, mulai dari penolakan yang diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Viva Yoga Mauladi hingga sikap Ketua Umum Zulkifli Hasan yang menunjukkan keterbukaan terhadap pembahasan ambang batas tersebut.
Pandangan Pengamat Mengenai Ambang Batas
Menurut Adi Prayitno, pengamat politik dan Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI), PAN sebenarnya memiliki peluang yang baik untuk melebihi ambang batas 5 persen. Ia merujuk pada hasil pemilu sebelumnya, di mana perolehan suara PAN selalu di atas 6 persen. "PAN itu partai spesialis yang mudah lolos parlemen. Kalau kita lihat track record PAN selama 4 pemilu terakhir selalu di atas 6 persen. Dan selalu berhasil melampaui parliamentary threshold," ungkap Adi.
Adi juga menambahkan bahwa berdasarkan survei terbaru PPI, elektabilitas PAN saat ini berada di angka 5,6 persen. Beberapa alasan mengapa responden memilih PAN antara lain karena kinerja partai yang dirasakan (11,7 persen), kualitas tokoh partai (10 persen), dan identitas sebagai partai Muhammadiyah (9,9 persen). "Itu PAN belum kerja maksimal sudah 5,6 persen. Kalau kerja keras kemungkinan bisa berlipat ganda," jelasnya.
Keyakinan dan Alasan Kepercayaan Diri PAN
Sementara itu, Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), menegaskan bahwa PAN tidak pernah mendapatkan suara di bawah 6 persen. Rata-rata dukungan untuk PAN sejak pemilu 1999 adalah 6,85 persen, yang cukup jauh dari ambang batas 4 persen, bahkan jika ambang batas ditingkatkan menjadi 5 persen. Djayadi menyebutkan bahwa ada empat alasan yang membuat PAN seharusnya percaya diri.
Alasan pertama adalah PAN merupakan simbol semangat reformasi dan demokratisasi. Kedua, partai ini didukung oleh pemilih dan kader yang cenderung lebih rasional dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Ketiga, PAN memiliki basis sosial yang kuat, yaitu Muhammadiyah, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia. "Menurut data temuan LSI, sekitar sepertiga pemilih Muhammadiyah menganggap PAN sebagai partai yang mewakili mereka," tambah Djayadi.
Namun, Djayadi juga mengingatkan bahwa meskipun pemilih PAN cukup loyal, mereka dapat mengalihkan dukungan jika merasa kecewa, terutama terkait regenerasi kepemimpinan. "Dengan tidak berjalannya regenerasi kepemimpinan di PAN, pemilih yang lebih terdidik dan kritis sangat mungkin mengalihkan dukungannya," ujarnya.
Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, akhirnya menyatakan persetujuannya terhadap ambang batas 5 persen dalam perayaan HUT ke-28 PAN di Jakarta. Ia menekankan pentingnya kesepakatan bulat antar partai. "Ya, asal kesepakatan bulat, kami oke. Kami setuju. Ya, itu tadi jawaban kami," kata Zulhas.
Di sisi lain, peneliti Perludem, Iqbal Kholidin, mengungkapkan keberatan terhadap kenaikan ambang batas tersebut. Ia berpendapat bahwa usulan ini akan menghilangkan suara pemilih yang lebih besar. "Dari ambang batas 4 persen yang diterapkan pada Pemilu 2024, ada belasan juta suara yang tidak terakomodasi di DPR-RI karena partai yang dipilih tak mampu menembus threshold," tegasnya.