Konvensi Humas Indonesia 2026 yang berlangsung baru-baru ini menyoroti permasalahan serius terkait disinformasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia komunikasi. Acara ini dihadiri oleh sejumlah praktisi, akademisi, dan penggiat komunikasi yang berkumpul untuk mendiskusikan tantangan yang dihadapi oleh sektor ini.
Diskusi Mendalam tentang Disinformasi
Dalam sesi diskusi, para pembicara menekankan pentingnya pemahaman yang lebih baik tentang disinformasi yang kian marak di era digital. Mereka mengungkapkan bahwa disinformasi dapat merusak reputasi individu dan organisasi, serta memengaruhi opini publik secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah proaktif untuk menangkal penyebaran informasi yang salah.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Komunikasi
Selain disinformasi, konvensi ini juga membahas dampak AI dalam komunikasi. Para ahli menjelaskan bahwa meskipun AI menawarkan banyak manfaat, seperti efisiensi dan analisis data yang lebih baik, ada juga risiko yang harus diperhatikan. Misalnya, penggunaan AI dalam pembuatan konten dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat jika tidak diawasi dengan baik.
Para peserta sepakat bahwa kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi media, dan masyarakat, sangat penting untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Melalui konvensi ini, diharapkan dapat terjalin kerja sama yang lebih erat dalam menghadapi tantangan yang ada di dunia komunikasi saat ini.