Keberanian anak untuk berbicara merupakan elemen krusial dalam mencegah dampak kekerasan yang lebih serius. Ketika anak merasa aman untuk berbagi cerita, orang tua dan orang dewasa di sekitarnya dapat segera memberikan perlindungan dan dukungan. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., menjelaskan bahwa membangun keberanian anak untuk melaporkan kekerasan harus dimulai sejak dini melalui pola pengasuhan yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan edukasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. "Lingkungan yang aman secara emosional membuat anak lebih percaya bahwa mereka akan didengarkan ketika menghadapi masalah," ungkap Ocha.
1. Ciptakan Komunikasi Terbuka di Rumah
Ocha menekankan pentingnya hubungan yang hangat dan responsif antara anak dan orang tua atau pengasuh sebagai salah satu faktor perlindungan yang paling efektif dalam mencegah kekerasan. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk meluangkan waktu setiap hari mendengarkan cerita anak, meski hanya mengenai aktivitas sederhana di sekolah atau saat bermain. Hindari menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberikan solusi. Dengan terbiasa merasa didengar, anak akan lebih percaya diri untuk membahas masalah yang lebih besar, termasuk jika mereka mengalami kekerasan.
2. Pendampingan saat Menggunakan Ruang Digital
Dengan meningkatnya aktivitas anak di dunia digital, peran orang tua dalam mendampingi menjadi semakin penting. Ocha menyarankan agar orang tua berdiskusi dengan anak mengenai konten yang mereka temui di internet. Selain itu, anak perlu diajarkan pentingnya menjaga data pribadi, berhati-hati terhadap orang asing di dunia maya, serta mengenali interaksi yang dapat membahayakan. Mereka juga perlu mengetahui langkah-langkah sederhana untuk melindungi diri, seperti memblokir akun, melaporkan konten yang tidak pantas, keluar dari percakapan yang membuat tidak nyaman, dan segera meminta bantuan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya.
3. Edukasi Mengenai Bentuk Kekerasan
Pendidikan tentang kekerasan tidak hanya sebatas memberitahu bahwa tindakan tersebut salah. Anak perlu memahami berbagai bentuk kekerasan yang mungkin mereka temui, baik secara fisik, verbal, emosional, maupun di ruang digital. Penyampaian materi harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak agar lebih mudah dipahami tanpa menimbulkan ketakutan. Dengan memahami apa yang termasuk kekerasan, anak akan lebih mudah mengenali situasi berbahaya dan mengetahui kapan mereka perlu mencari pertolongan.
4. Ajarkan Anak Menjadi Upstander
Selain melindungi diri sendiri, anak juga perlu diajarkan untuk peduli ketika melihat teman menjadi korban kekerasan. Ocha menjelaskan bahwa anak dapat dilatih untuk menjadi upstander, yaitu seseorang yang berani mencari bantuan kepada orang dewasa ketika menyaksikan tindakan kekerasan, alih-alih hanya menjadi penonton. Sikap ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman serta menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.
5. Latih Anak untuk Bersikap Asertif
Kemampuan untuk mengatakan "tidak" sangat penting untuk diajarkan sejak dini. Anak perlu memahami bahwa mereka berhak menolak perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman, meskipun dilakukan oleh orang yang lebih tua atau dikenal. Ocha menyarankan agar keterampilan ini dilatih melalui permainan peran, diskusi, atau contoh situasi yang sesuai dengan usia anak. Misalnya, orang tua dapat mengajarkan kalimat sederhana seperti, "Aku tidak mau", "Berhenti", atau "Aku akan memberi tahu Mama." Latihan-latihan ini dapat membantu anak lebih percaya diri dalam menjaga batasan diri dan mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang mengancam.
Secara keseluruhan, membangun keberanian anak untuk melapor bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk berbicara, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat mereka yakin bahwa suara mereka akan didengar, dipercaya, dan dilindungi. Ketika komunikasi yang hangat dipadukan dengan edukasi yang tepat, anak akan lebih siap menghadapi berbagai risiko kekerasan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.