Lifestyle

Strategi Jeda 10 Detik untuk Mengendalikan Emosi saat Menghadapi Hoaks di Dunia Maya

Inisiatif "Jeda 10 Detik" diperkenalkan untuk membantu masyarakat merespons informasi di dunia maya dengan lebih bijak dan mengurangi penyebaran hoaks.

M
Muhammad Rizki Ramadhan
30 April 2026 15 pembaca
Strategi Jeda 10 Detik untuk Mengendalikan Emosi saat Menghadapi Hoaks di Dunia Maya
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam era digital saat ini, informasi bergerak dengan sangat cepat, yang sering kali membuat warganet memberikan reaksi impulsif tanpa mempertimbangkan dampaknya. Untuk mengatasi perilaku reaktif ini yang sering berujung pada penyebaran hoaks dan perundungan siber, kampanye "Jeda 10 Detik" kini digalakkan di masyarakat. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi norma baru dalam interaksi digital.

Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital, menekankan pentingnya kebiasaan menahan diri sebelum memberikan respons. Ia berharap bahwa kebiasaan ini tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi bisa menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari masyarakat. Ia juga mengakui bahwa pemahaman teknologi di Indonesia masih bervariasi, sehingga edukasi tentang literasi digital perlu ditingkatkan untuk membantu masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi.

Dalam konteks ini, Nazrya Octora, Head of PR Blibli, menyoroti bagaimana informasi yang salah sering kali dibagikan dalam grup percakapan keluarga tanpa verifikasi. Ia menyatakan bahwa berita bohong dapat menyebar dengan cepat hanya karena rasa ingin tahu yang tinggi. Untuk itu, pemerintah telah merumuskan pilar edukasi bernama CABE, yang mencakup Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital, guna membangun kesadaran akan pentingnya verifikasi informasi.

Pemerintah juga menekankan perlunya pengawasan terhadap anak-anak yang lebih rentan terhadap dampak negatif dunia maya. Bonifasius mengungkapkan bahwa ada peraturan pemerintah yang mengatur perlindungan anak di ruang digital, yang mewajibkan pendampingan bagi anak di bawah 16 tahun. Ia menekankan bahwa orangtua harus proaktif dalam memantau aktivitas daring anak-anak mereka dan mengajarkan pentingnya menahan diri sebelum membagikan informasi.

Budaya menahan diri di dunia maya sangat penting untuk menghindari komentar bernada kebencian yang sering muncul akibat emosi sesaat. Bonifasius menegaskan bahwa dengan meluangkan waktu sepuluh detik sebelum memberikan respons, pengguna dapat mencegah penyesalan di kemudian hari. Ia berharap bahwa dengan kebiasaan ini, interaksi di ruang digital Indonesia dapat menjadi lebih positif dan saling menghargai.

Dengan inisiatif "Jeda 10 Detik", diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam berinteraksi di dunia maya, sehingga dapat mengurangi penyebaran hoaks dan menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. Ke depan, pemerintah dan berbagai pihak akan terus berupaya meningkatkan literasi digital dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya verifikasi informasi.

Artikel Terkait