Kesehatan

Strategi Efektif Menghadapi Anggota Keluarga yang Berperilaku Negatif

Menghadapi anggota keluarga yang memiliki perilaku negatif dapat menjadi tantangan emosional. Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi situasi ini dengan lebih baik.

N
Nathania Gabriella Wardani
29 June 2026 35 pembaca
Strategi Efektif Menghadapi Anggota Keluarga yang Berperilaku Negatif
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Menghadapi anggota keluarga yang terus menerus menunjukkan perilaku negatif bukanlah hal yang mudah. Komunikasi yang buruk, sifat mudah marah, serta ketidakmauan untuk bertanggung jawab atas kesalahan sering kali membuat hubungan menjadi sangat melelahkan secara emosional. Meskipun banyak orang berharap agar anggota keluarga mereka dapat berubah, kenyataannya, perubahan hanya dapat terjadi jika individu tersebut memiliki niat untuk melakukannya. Alih-alih berusaha mengubah orang lain, kita dapat mengubah cara kita menyikapi situasi tersebut. Terapis dan penulis buku "Drama Free: A Guide to Managing Unhealthy Family Relationships", Nedra Glover Tawwab, memberikan tiga langkah yang bisa diterapkan ketika menghadapi anggota keluarga yang enggan mengubah perilaku negatif mereka.

Langkah Pertama: Sadari Ketidakmampuan untuk Memaksa Perubahan

Keinginan agar anggota keluarga menjadi pribadi yang lebih baik adalah hal yang wajar. Namun, memaksakan harapan tersebut sering kali berujung pada kekecewaan, karena perubahan tidak dapat dipaksakan dari luar. Perubahan biasanya terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa besar dalam hidup, seperti kehilangan pekerjaan, kelahiran anak, atau kehilangan orang terkasih. Jarang sekali perubahan terjadi hanya karena ada orang lain yang memintanya. "Perubahan biasanya muncul setelah peristiwa besar dalam hidup. Bukan karena seseorang tiba-tiba berpikir, 'Hari ini saya ingin berhenti menyakiti kamu'," ungkap Tawwab. Dengan memahami bahwa perilaku orang lain berada di luar kendali kita, beban emosional dapat berkurang. Daripada terus berharap mereka berubah, lebih baik menerima bahwa kebiasaan lama sulit untuk ditinggalkan, yang dapat mengurangi frustrasi dan membuat hubungan terasa lebih ringan.

Langkah Kedua: Komunikasikan Kebutuhan dan Batasan dengan Jelas

Menyadari bahwa orang tidak bisa dipaksa untuk berubah bukan berarti kita harus pasif saat diperlakukan tidak baik. Sebaliknya, menyampaikan perasaan dan menetapkan batasan adalah langkah penting untuk melindungi diri. Banyak orang menunggu hingga masalah menjadi sangat besar sebelum berbicara. Padahal, perilaku yang berulang menunjukkan adanya pola yang perlu dibahas. "Tanggapi masalah saat itu terjadi atau tidak lama setelahnya. Jika seseorang melakukan hal yang sama tiga kali, itu sudah menjadi sebuah pola," kata Tawwab. Misalnya, jika anggota keluarga terus memaksa kita untuk mengikuti keinginannya atau membuat kita merasa bersalah saat menolak permintaan mereka, penting untuk mengungkapkan perasaan dengan tenang dan jelas. Menyampaikan batasan sejak awal dapat mencegah penumpukan rasa kesal dan membuat hubungan menjadi lebih sehat.

Langkah Ketiga: Belajar Menerima Kondisi Saat Ini

Langkah yang sering kali paling sulit adalah menerima bahwa orang yang kita cintai mungkin belum mampu memenuhi harapan emosional kita. Namun, menerima bukan berarti membenarkan perilaku negatif atau membiarkannya terus berlanjut. Tawwab menjelaskan bahwa seseorang tetap bisa mencintai keluarganya sambil mengakui bahwa hubungan tersebut meninggalkan luka. Menolak untuk menerima kenyataan hanya akan memperpanjang konflik dalam hubungan. "Kamu bisa mencintai keluargamu sekaligus memiliki luka yang mendalam karena hubungan tersebut. Melawan proses menerima hanya akan menciptakan kekacauan yang terus berulang," jelas Tawwab. Penerimaan juga tidak berarti berhenti menetapkan batasan. Jika perilaku mereka terus menyakiti atau mengganggu kesehatan mental kita, tetap penting untuk menjaga jarak, membatasi informasi pribadi yang dibagikan, atau mengurangi intensitas interaksi. Dengan mengubah cara pandang dari "mereka tidak mau berubah" menjadi "mereka belum mampu berubah saat ini", seseorang dapat membangun rasa welas asih tanpa mengorbankan kesehatan mentalnya sendiri.

Artikel Terkait