Penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah masih menduduki peringkat teratas sebagai penyebab kematian di dunia. Meskipun deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko dapat membantu mencegah penyakit ini, banyak orang yang beranggapan bahwa hanya orang dengan obesitas yang berisiko, sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka atau orang terdekat mereka juga dapat terpengaruh. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.
Risiko Tersembunyi pada Orang Bertubuh Kurus
Hampir 25% orang dengan berat badan normal ternyata menyimpan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian yang dilakukan oleh PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dalam sesi edukasi media pada 23 Juli menunjukkan bahwa individu dengan berat badan normal tetapi memiliki gangguan metabolik memiliki kemungkinan 2-3 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan mereka yang metaboliknya sehat.
Dokter spesialis jantung dari PERKI, Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa persepsi bahwa penyakit jantung hanya menyerang orang gemuk masih sangat kuat di masyarakat. "Hampir 1 dari 4 orang yang bertubuh kurus itu menyimpan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah," ungkapnya dalam acara yang berlangsung di Revenue Tower, Jakarta Selatan. Oleh karena itu, risiko penyakit jantung tidak hanya ditentukan oleh berat badan saja.
Faktor Penentu Risiko Penyakit Jantung
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi risiko penyakit jantung, seperti kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL), lemak visceral di sekitar organ dalam, serta faktor genetik. Dr. Susetyo menekankan bahwa meskipun obesitas berkaitan langsung dengan peningkatan risiko penyakit jantung, tidak hanya berat badan yang menjadi penentu. "Memang benar obesitas atau ukuran berat badan itu berhubungan secara langsung atau linier dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Tapi, bukan hanya obesitas," jelasnya.
Dr. Susetyo juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kadar LDL. Orang dewasa yang tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular disarankan untuk memiliki kadar kolesterol LDL di bawah 100 mg/dL. Namun, bagi mereka yang pernah mengalami serangan jantung atau stroke, targetnya harus lebih rendah, yakni di bawah 55 mg/dL. "Kalau kita sudah dewasa dan tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular yang jelas, kolesterol LDL-nya di bawah 100 mg/dL," tambahnya.
Kadar LDL yang tinggi dapat menempel pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak aterosklerosis, yang dapat menyempitkan saluran darah dan mengganggu aliran darah ke organ-organ vital. "Kalau pembuluh darah kita kadar kolesterol jahat LDL-nya rendah, maka tidak akan tercipta plak aterosklerosis," ungkapnya.
Ia menggambarkan pembuluh darah seperti pipa air yang bagian dalamnya dipenuhi kerak. Semakin banyak lemak yang menempel, semakin sempit ruang bagi darah untuk mengalir, yang dapat menyebabkan organ-organ seperti jantung, otak, dan ginjal tidak mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup.
Pentingnya Memperhatikan Faktor Lain
Selain kolesterol, faktor genetik juga berperan penting. Misalnya, pada kondisi familial hypercholesterolemia, seseorang dapat memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi sejak lahir meskipun menjaga pola makan. "Makan sehat pun kadar kolesterol darahnya sudah tinggi. Kenapa? Karena secara genetik memang dia ada abnormalitas," jelas Dr. Susetyo.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi penyebab lain yang sering diabaikan. Dr. Susetyo menjelaskan bahwa orang yang mengonsumsi sedikit makanan tetapi jarang bergerak tetap berisiko mengalami penumpukan kolesterol karena proses pembakarannya tidak optimal. Selain itu, lemak visceral yang berlebih juga merupakan faktor risiko yang harus diperhatikan. Lingkar pinggang di atas 90 cm untuk pria dan lebih dari 80 cm untuk wanita dapat menunjukkan obesitas sentral, yang berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol jahat.
Dr. Susetyo menegaskan bahwa lemak visceral atau obesitas sentral adalah faktor risiko langsung untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. "Orang bertubuh kurus juga sering kali tidak mengalami tanda peringatan sebelum terjadi serangan jantung," tambahnya. Banyak kasus serangan jantung baru diketahui setelah terjadi, dan umumnya orang yang mengalami serangan jantung dengan tanda peringatan sebelumnya adalah mereka yang memiliki berat badan lebih.
Dr. Susetyo mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan bentuk tubuh sebagai indikator kesehatan. Pemeriksaan profil lipid secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi, untuk mengetahui kadar kolesterol dan risiko penyakit kardiovaskular sedini mungkin.