Kesehatan

Rahasia Persahabatan yang Awet dan Sehat

Persahabatan yang langgeng tidak selalu bergantung pada komunikasi yang intens, melainkan pada saling menghargai batasan masing-masing individu. Hal ini menjadi kunci untuk menjaga hubungan yang sehat...

B
Bayu Triatma
03 August 2026 62 pembaca
Rahasia Persahabatan yang Awet dan Sehat
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Banyak orang percaya bahwa untuk memiliki persahabatan yang langgeng, diperlukan komunikasi setiap hari, pertemuan yang sering, atau kesamaan yang banyak. Namun, para ahli menyatakan bahwa hubungan pertemanan yang kuat tidak selalu dibangun dari frekuensi interaksi yang tinggi. Salah satu aspek penting dalam mempertahankan persahabatan adalah kemampuan untuk saling menghargai batasan atau boundaries.

Ketika dua individu memahami dan menghormati kebutuhan masing-masing serta ruang pribadi satu sama lain, hubungan mereka cenderung menjadi lebih sehat dan dapat bertahan dalam jangka panjang. Mengapa batasan ini sangat penting dalam persahabatan? Dalam psikologi, boundaries adalah batasan yang ditetapkan oleh seseorang mengenai bagaimana ia ingin diperlakukan, apa yang membuatnya merasa nyaman, serta bagaimana ia menjaga kesejahteraan emosional dan fisiknya.

Pentingnya Memahami dan Menghargai Batasan

Seorang pekerja sosial klinis menjelaskan bahwa persahabatan yang bertahan lama dibangun di atas rasa saling percaya dan saling menghormati. Kedua hal ini hanya dapat terwujud jika masing-masing individu saling memahami dan menghargai batasan satu sama lain. Menetapkan batasan bukan berarti mengontrol perilaku orang lain, melainkan mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan dan bagaimana seseorang akan bereaksi jika batas tersebut tidak dihormati.

Psikolog menjelaskan bahwa batasan berbeda dengan sekadar permintaan. Contohnya, pernyataan "Jangan menelepon saya setelah pukul 21.00" adalah sebuah permintaan. Sementara itu, batasan yang jelas dapat diungkapkan dengan, "Jika kamu menelepon setelah pukul 21.00, saya tidak akan mengangkat telepon dan akan membalas ketika saya sudah tersedia." Dengan cara ini, seseorang tidak memaksa orang lain untuk mengubah perilakunya, tetapi menjelaskan tindakan yang akan diambil untuk menjaga kenyamanan diri sendiri.

Komunikasi Terbuka dalam Persahabatan

Dalam hubungan pertemanan, kesalahpahaman adalah hal yang umum. Namun, yang membedakan persahabatan yang sehat dari yang tidak sehat adalah bagaimana kedua pihak menyelesaikan masalah tersebut. Seorang ahli berbagi pengalaman ketika tanpa sengaja menceritakan lelucon temannya kepada orang lain. Temannya kemudian menghubunginya dan menyatakan bahwa hal tersebut membuatnya tidak nyaman, serta meminta agar di masa depan selalu meminta izin sebelum berbagi pernyataan tersebut. Alih-alih merasa diserang, ia menyadari kesalahannya, meminta maaf, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Percakapan ini justru menguatkan hubungan mereka yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Tanpa adanya komunikasi yang terbuka, rasa kecewa bisa terus dipendam dan perlahan-lahan merusak kepercayaan dalam persahabatan. Sebaliknya, persahabatan dapat menjadi tidak sehat ketika salah satu pihak mengabaikan kebutuhan atau kondisi temannya. Salah satu pengalaman yang dibagikan adalah ketika seseorang harus membatalkan janji menjemput temannya yang akan menjalani operasi karena kondisi kesehatannya sendiri tidak memungkinkan. Meskipun sudah meminta maaf dan menjelaskan situasinya, temannya merespons dengan kemarahan dan kata-kata kasar, serta terus menghubunginya melalui telepon dan pesan singkat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa persahabatan akan sulit dipertahankan apabila salah satu pihak tidak menghargai batasan dan kebutuhan orang lain, terutama terkait kesehatan atau kondisi pribadi.

Membangun Persahabatan yang Sehat

Menghormati batasan tidak hanya berkaitan dengan menyampaikan kebutuhan diri sendiri, tetapi juga melibatkan keinginan untuk mendengarkan kebutuhan teman. Salah satu cara sederhana untuk melakukannya adalah dengan mengajukan pertanyaan ketika teman menghadapi situasi tertentu, seperti, "Apa yang kamu butuhkan dariku saat ini?" atau "Apa yang bisa kubantu?" Jika teman telah menyampaikan keinginannya, pastikan untuk memahami dengan benar. Langkah ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan menunjukkan bahwa Anda menghargai perasaannya.

Di sisi lain, saat ingin menyampaikan batasan pribadi, gunakan kalimat yang berfokus pada diri sendiri, misalnya, "Ketika hal itu terjadi, aku merasa tidak nyaman," atau "Lain kali, aku lebih nyaman jika kita melakukan cara ini." Pendekatan ini cenderung membuat lawan bicara tidak merasa disalahkan, sehingga percakapan menjadi lebih terbuka.

Artikel Terkait