Kondisi emosional yang tidak stabil sering kali muncul tanpa disadari, membuat pria lebih sensitif dan mudah marah dalam aktivitas sehari-hari. Perubahan ini bisa disertai dengan kehilangan motivasi dan rasa lelah yang lebih cepat. Fenomena ini sering kali terjadi seiring bertambahnya usia dan dikenal dengan istilah Irritable Male Syndrome (IMS).
Mengenal Irritable Male Syndrome
Irritable Male Syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan suasana hati serta perilaku pria yang terkait dengan fluktuasi hormon. Menurut Dr. Justin Houman, seorang profesor madya di Cedars-Sinai Medical Center, IMS bukanlah diagnosis medis resmi, melainkan istilah yang dapat menggambarkan kondisi ketika kadar testosteron pria menurun. “Bersama dengan istilah ‘andropause’, yang merujuk pada menopause pria, istilah ini merupakan cara singkat yang berguna untuk menggambarkan apa yang terjadi pada pria akibat penurunan testosteron secara bertahap dan perubahan hormon,” jelasnya.
Gejala yang Perlu Dikenali
Dr. Houman menambahkan bahwa IMS dapat dihubungkan dengan berbagai perubahan emosional dan fisik. Gejala yang mungkin muncul antara lain adalah mudah marah, penurunan motivasi, perasaan depresi, kesulitan berkonsentrasi, gangguan memori, energi rendah, kelelahan, hingga penurunan libido. Selain itu, berkurangnya ereksi spontan, hilangnya massa dan kekuatan otot, peningkatan lemak tubuh, terutama di area perut, serta gangguan tidur juga dapat menjadi indikasi IMS.
Proses penurunan kadar testosteron pada pria berlangsung secara bertahap, bukan secara mendadak. “Kadar hormon pria menurun secara bertahap, dengan kadar testosteron mencapai puncaknya pada akhir masa remaja hingga awal usia 20-an, relatif stabil sepanjang usia 30-an, dan mulai menurun sekitar 1 persen per tahun setelah usia 40 tahun,” ungkap Houman. “Sebagian besar pria mulai merasakan gejala seperti yang disebutkan di atas pada usia 40 hingga 60 tahun, meski gaya hidup, penyakit kronis, dan faktor genetik dapat mempercepat atau menunda kemunculannya,” tambahnya.
Pentingnya Memperhatikan Faktor Lain
Diskusi mengenai IMS berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Gerald Lincoln pada tahun 2001, yang meneliti hubungan antara testosteron dan perubahan perilaku pada domba jantan. Psikoterapis Dr. Jed Diamond juga menyatakan bahwa perubahan ini tidak hanya terkait dengan hormon, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain. “Ini adalah keadaan hipersensitivitas, kecemasan, frustrasi, dan kemarahan yang terjadi pada pria yang berkaitan dengan perubahan biokimia, perubahan hormon, stres, dan hilangnya identitas sebagai pria,” katanya.
“Walaupun biasanya terjadi pada pria yang lebih tua, saya juga pernah melihat pria berusia 20-an atau 30-an yang mengalami IMS akibat pola makan yang buruk, tingkat stres yang tinggi, dan faktor lainnya,” tambahnya. Karena gejalanya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, pria yang mengalami perubahan terus-menerus disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Diamond juga merekomendasikan agar pria berusia lebih dari 45 tahun yang mengalami perubahan tersebut melakukan pemeriksaan kadar testosteron melalui tes darah. Menjaga pola makan yang sehat, rutin berolahraga, cukup tidur, dan mengelola stres juga dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.