Lifestyle

Pria Berusia 81 Tahun Ini Raih Prestasi di HYROX Berkat Disiplin Berolahraga

Soegiyono Harsono, seorang pria berusia 81 tahun, berhasil meraih podium kedua dalam kategori Doubles Men HYROX Indonesia untuk kelompok usia 60-64 tahun berkat konsistensinya dalam berolahraga.

D
Danendra Surya
07 July 2026 68 pembaca
Pria Berusia 81 Tahun Ini Raih Prestasi di HYROX Berkat Disiplin Berolahraga
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Di usia yang telah mencapai 81 tahun, Soegiyono Harsono tetap menunjukkan semangat yang tinggi untuk berolahraga. Meskipun tidak pernah menjadi atlet, ia berhasil meraih posisi kedua pada kategori Doubles Men HYROX Indonesia untuk kelompok usia 60–64 tahun. Keberhasilan ini dicapai berkat komitmennya dalam menjaga kebugaran, termasuk dengan rutin melakukan latihan beban meskipun sudah lanjut usia.

Putrinya, Syu Ng, menjelaskan bahwa ayahnya bukanlah orang yang asing dengan dunia olahraga. Sejak muda, Soegiyono telah terbiasa menjalani gaya hidup aktif. "Sebenarnya beliau memang dari muda sudah terbiasa hidup sehat. Hampir setiap pagi selalu lari atau jalan pagi," ungkap Syu.

Kebiasaan Olahraga yang Berlanjut

Sebelum memasuki masa pensiun, Soegiyono bekerja sebagai wiraswasta yang menyediakan berbagai komoditas, seperti gula dan kebutuhan pokok lainnya. Meskipun disibukkan dengan pekerjaannya, ia tetap menyisihkan waktu untuk berolahraga.

Kebiasaan aktif ini terus dipertahankan hingga ia memasuki usia lanjut. Namun, seiring bertambahnya usia, Soegiyono mulai merasakan perubahan pada kondisi fisiknya. Syu menyatakan bahwa ayahnya merasa massa ototnya berkurang, lebih cepat kehabisan napas, dan beberapa aktivitas sehari-hari menjadi lebih berat. Melihat anak-anaknya berlatih di gym, Soegiyono memutuskan untuk mencoba latihan beban. "Ternyata hasilnya sangat terasa. Badan jadi lebih kuat dan aktivitas sehari-hari juga jauh lebih nyaman," ujar Syu.

Persiapan Menuju Kompetisi HYROX

Keputusan untuk mengikuti kompetisi HYROX tidak diambil secara sembarangan. Soegiyono mempersiapkan diri selama dua hingga tiga bulan dengan program latihan yang disesuaikan dengan kemampuannya. Ia mempelajari gerakan-gerakan baru, seperti SkiErg dan rowing, secara bertahap. Jarak latihan ditingkatkan sedikit demi sedikit setiap minggu agar tubuhnya dapat beradaptasi. Latihan kekuatan, termasuk sled push dengan beban sekitar 150 kilogram, juga dilakukan secara perlahan tanpa memaksakan diri.

Dengan pendekatan bertahap ini, Soegiyono berhasil membangun kekuatan dan rasa percaya diri hingga siap untuk berkompetisi.

Pola Hidup Sehat dan Pesan untuk Generasi Muda

Di luar rutinitas latihannya, Soegiyono tidak menerapkan pola makan yang rumit. Syu menjelaskan bahwa ayahnya tetap mengonsumsi makanan rumahan dengan gizi seimbang. "Beliau tetap makan karbohidrat, protein, dan makanan rumahan. Yang konsisten adalah hanya makan dua kali sehari, pagi dan siang. Malam sudah tidak makan lagi," jelasnya.

Selain menjaga pola makan, Soegiyono juga mempertahankan kebiasaan bergerak aktif setiap hari. Baginya, aktivitas fisik adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat berolahraga.

Syu menilai keberhasilan ayahnya tidak terlepas dari karakter determinasi yang dimilikinya. "Kalau beliau sudah punya target, pasti akan diusahakan semaksimal mungkin sampai tercapai. Nilai itu juga yang dari dulu selalu diajarkan ke kami sebagai anak-anaknya," tambahnya.

Meskipun telah meraih prestasi, Soegiyono tidak memiliki target untuk mengikuti kompetisi dalam waktu dekat. Namun, ia ingin menyampaikan pesan kepada orang lain, terutama generasi muda, tentang pentingnya menjaga massa otot sejak dini. "Kalau bisa mulai olahraga dari muda dan menabung otot. Menurut beliau, menabung otot sama pentingnya dengan menabung uang. Percuma punya tabungan kalau saat tua badan sudah tidak kuat untuk menikmati waktu bersama keluarga, anak, dan cucu," kata Syu menirukan pesan ayahnya.

Syu juga mengajak generasi muda untuk tidak menunda-nunda kebiasaan sehat. "Jangan terus bilang 'nanti' atau 'besok saja'. Mulai saja dari sekarang. Kita enggak pernah tahu kapan niat itu benar-benar terlaksana kalau terus ditunda. Langkah kecil yang dimulai hari ini jauh lebih berarti daripada rencana yang terus diucapkan tapi tidak pernah dijalankan," pungkasnya.

Artikel Terkait