News

Prabowo Bahas Strategi Pemberantasan Narkoba: Fokus pada Rehabilitasi dan Overkapasitas Lapas

Presiden Prabowo Subianto mengadakan rapat di Istana Kepresidenan Jakarta untuk membahas upaya pemberantasan narkoba, menyoroti masalah overkapasitas lembaga pemasyarakatan dan pentingnya rehabilitasi bagi narapidana.

S
Setya Tama
30 September 2026 21 pembaca
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (29/9/2026)
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (29/9/2026)

Pada Selasa, 29 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta untuk mendiskusikan langkah-langkah pemberantasan narkoba. Di antara pejabat yang hadir adalah Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Suyudi Ario Seto, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria.

Brian Yuliarto, saat tiba di Istana, menyatakan, "Pengentasan permasalahan narkoba, ya." Ia juga membawa peneliti dari Universitas Indonesia untuk membahas isu narkoba, termasuk penggunaan vape yang mengandung narkoba. Brian menjelaskan bahwa semua aspek terkait narkoba akan dibahas dalam pertemuan tersebut.

Overkapasitas Lapas dan Rehabilitasi

Setelah rapat, Suyudi mengungkapkan bahwa masalah overkapasitas lembaga pemasyarakatan menjadi salah satu topik yang dibahas. Ia mencatat bahwa mayoritas tahanan di lapas adalah kasus narkotika, dengan persentase mencapai 80 persen. "Karena kita tahu bahwa di lapas ini kan sudah over capacity dan juga sebagian besar hampir 80 persen itu adalah tahanan narkotika," ujar Suyudi.

Dia menambahkan bahwa isu overkapasitas ini akan dibahas lebih lanjut dengan kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah berencana untuk mengambil langkah-langkah guna mengurangi overkapasitas sambil tetap melakukan rehabilitasi bagi narapidana narkotika. "Nanti kita akan melakukan rapat koordinasi yang lebih mendalam terkait dengan upaya rehabilitasi khususnya kaitannya dengan penanganan para pengguna atau narapidana yang terkait kasus narkotika yang telah ditangani dan telah ditahan," jelasnya.

Pendidikan dan Rehabilitasi Berbasis Teknologi

Menteri Hukum Supratman Andi Agtas juga menyampaikan bahwa salah satu arahan dari Presiden Prabowo adalah untuk melakukan kajian mengenai rehabilitasi bagi narapidana narkoba, terutama mengingat banyaknya lapas yang mengalami overkapasitas. "(Diminta Presiden) Untuk memikirkan terkait dengan rehabilitasi terutama menyangkut soal pengguna dan pemakai narkoba di dalam Lapas, di mana yang saat ini itu sudah overkapasitas," kata Supratman.

Brian Yuliarto juga mendapatkan arahan dari Prabowo untuk mengembangkan model pendidikan dan rehabilitasi bagi pengguna narkoba, terutama yang masih muda. "Bapak Presiden mengarahkan bagaimana model kurikulum, pendidikan yang ada sehingga itu akhirnya bisa betul-betul mengubah ya," ungkap Brian. Ia menekankan bahwa pemerintah akan merumuskan pendekatan yang bisa membantu pengguna narkoba pulih dan menjalani kehidupan yang produktif.

Brian menambahkan bahwa beberapa perguruan tinggi telah mengembangkan praktik rehabilitasi dengan dukungan teknologi dan pendekatan pendidikan. Penelitian mengenai hal ini juga disampaikan oleh dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo serta peneliti dari Universitas Indonesia yang turut hadir dalam rapat tersebut.

Dalam rapat, Prabowo juga meminta BRIN untuk berinovasi dalam memperkuat rehabilitasi pengguna narkoba. Arif Satria menyatakan bahwa Prabowo memiliki komitmen yang kuat untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika. "Termasuk di dalamnya adalah bagaimana memperkuat dan meningkatkan kualitas dan memperbanyak pusat-pusat rehabilitasi, bagaimana metodenya, dan sebagainya," ungkap Arif.

Arif juga menyampaikan bahwa BRIN diminta untuk mengembangkan inovasi alat pendeteksi narkoba yang terjangkau. "Kita juga diminta untuk melakukan kajian berkaitan dengan alat-alat deteksi yang murah ya, yang kemudian bisa digunakan untuk melakukan pencegahan," tuturnya. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan juga mencakup ancaman penggunaan vape, yang saat ini jumlah penggunanya telah mencapai lebih dari 4 juta orang.

Arif menekankan bahwa vape bisa menjadi salah satu celah untuk penyebaran narkoba dan harus diantisipasi. "Oleh karena itu nanti Kepala BNN dan Kementerian Kesehatan akan mengatur tentang hal itu," ujarnya.


sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/09/30/08132611/kala-prabowo-bahas-pemberantasan-narkoba-soroti-lapas-overkapasitas-hingga

Artikel Terkait