Kebaya, yang saat ini dikenal luas sebagai salah satu identitas busana perempuan Indonesia, tidak muncul begitu saja. Sebelum kebaya menjadi pakaian yang umum di berbagai daerah, perempuan Nusantara telah mengalami perjalanan panjang dalam cara berpakaian yang dipengaruhi oleh perubahan zaman, kepercayaan, dan interaksi dengan berbagai budaya. Rumi Siddharta, seorang fashion stylist dan creative director yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya, menjelaskan bahwa evolusi busana perempuan di Nusantara dapat dilihat melalui relief candi, arca, naskah kuno, serta catatan dari para pelancong asing.
"Dalam sejarahnya, cara berpakaian masyarakat Nusantara terus berubah mengikuti perkembangan peradaban dan interaksi dengan bangsa lain," ungkap Rumi dalam Kelas Sandang pada acara Kebaya Bercerita yang diselenggarakan oleh Kelinci Tertidur di nDalem Angti Dani, Surakarta, pada Minggu (26/7/2026).
Perubahan Busana Sejak Zaman Kerajaan
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, perempuan di Nusantara umumnya mengenakan kain sebagai bawahan. Rumi menjelaskan bahwa pada saat itu, bagian atas tubuh perempuan belum selalu tertutup seperti yang umum saat ini, terutama di kalangan masyarakat biasa. Jejak sejarah ini terlihat melalui berbagai relief candi dan arca yang menunjukkan perempuan mengenakan kain panjang yang dililitkan di bagian dada, yang dikenal sebagai kemben. Hal ini juga dipengaruhi oleh iklim tropis di Nusantara, yang membedakan cara berpakaian masyarakat di wilayah ini dengan daerah lainnya.
Namun, Rumi menekankan bahwa cara berpakaian pada masa itu tidak dapat dinilai dengan perspektif masa kini. Busana selalu mengikuti norma, kebutuhan, dan nilai yang berkembang pada zamannya.
Pengaruh Perdagangan Terhadap Gaya Berbusana
Perubahan signifikan mulai terjadi ketika Nusantara menjadi jalur perdagangan internasional. Rumi menjelaskan bahwa hubungan dagang dengan India, Tiongkok, Arab, Persia, hingga bangsa-bangsa Eropa tidak hanya membawa rempah-rempah dan komoditas lainnya, tetapi juga memperkenalkan berbagai budaya berpakaian yang berbeda. Beragam jenis kain, teknik tenun, sulam, dan model pakaian mulai dikenal dan diadaptasi oleh masyarakat Nusantara sesuai dengan kebutuhan lokal.
Seiring berjalannya waktu, perempuan mulai mengenakan atasan yang lebih tertutup. Bentuk busana pun terus berkembang mengikuti kondisi sosial, budaya, dan lingkungan pada setiap periode. "Budaya Indonesia berkembang karena kemampuannya menyerap berbagai pengaruh, lalu mengolahnya menjadi identitas sendiri," kata Rumi.
Kebaya sebagai Hasil Akulturasi Budaya
Rumi menegaskan bahwa kebaya yang kita kenal sekarang adalah hasil dari evolusi panjang berbagai bentuk busana perempuan di Nusantara. Ia berpendapat bahwa kebaya bukanlah pakaian yang muncul dalam satu masa atau berasal dari satu budaya tertentu. Sebaliknya, kebaya berkembang melalui proses akulturasi yang berlangsung selama berabad-abad. Pengaruh tersebut terlihat pada penggunaan material, teknik sulam, detail renda, hingga siluet busana yang mengikuti interaksi masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa.
Namun, masyarakat Nusantara tidak sekadar meniru budaya luar. Berbagai unsur tersebut dipadukan dengan tradisi lokal, sehingga melahirkan kebaya dengan karakter yang khas. "Banyak orang ingin mengatakan budayanya paling asli. Padahal justru kekuatan Indonesia ada pada kemampuannya belajar dari banyak budaya dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru," ujar Rumi.
Busana sebagai Cerminan Sejarah
Rumi, yang akrab disapa Om Rum, menjelaskan bahwa perjalanan dari kemben hingga kebaya menunjukkan bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan bagian dari sejarah peradaban. Melalui busana, seseorang dapat memahami perubahan cara hidup masyarakat, hubungan perdagangan, perkembangan teknologi tekstil, serta dinamika sosial yang terjadi pada setiap masa.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk melihat kebaya bukan hanya sebagai pakaian tradisional, tetapi juga sebagai warisan budaya yang terus berkembang. "Kebaya adalah living tradition. Ia terus hidup mengikuti zamannya, tetapi tetap membawa jejak sejarah yang panjang," tutur Rumi.