JAKARTA - Mencari pasangan hidup adalah perjalanan yang sering kali penuh tantangan bagi banyak orang. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan sosok yang tepat, mulai dari aplikasi kencan hingga acara pencarian jodoh secara langsung seperti Golek Garwo. Salah satu peserta yang berani mengambil langkah ini adalah Ratih Primasari (42), seorang wiraswasta asal Jakarta Pusat yang memproduksi aksesori makrame. Setelah sebelumnya mengikuti acara serupa di Solo, Jawa Tengah, ia memutuskan untuk kembali berpartisipasi dalam Golek Garwo yang diadakan di Jakarta.
"Saya sudah 20 tahun sendiri setelah waktu pertama kali pacaran. Pernah patah hati juga tiga tahun, terus sembuh, lalu ya 20 tahun itu saya sendiri," ungkap Ratih di sela-sela acara Golek Garwo, yang berlangsung di SMESCO Exhibition Hall, Jakarta Selatan, pada hari Minggu (28/6/2026).
Motivasi dari Sang Ibu
Keputusan Ratih untuk berpartisipasi dalam acara ini tidak terlepas dari dorongan dan nasihat mendiang ibunya. Nasihat tersebut menjadi pegangan kuat baginya untuk mempersiapkan diri hingga saat yang tepat tiba. Sang ibu, yang memiliki keturunan Jawa, juga memberikan harapan bagi Ratih untuk membangun keluarga dan usaha rumah makan di Solo. "Aku yakin waktu pas mamaku masih hidup itu beliau ngomong, 'Ya udah, kamu mempersiapkan mental, fisik kamu, fokus dengan kegiatan kamu, insyaallah pasti kalau kamu udah siap semua-muanya pasti nanti datang dengan sendirinya'," kata Ratih.
Selain dukungan dari ibunya, ayahnya juga mendorong agar Ratih lebih aktif bersosialisasi. Ia disarankan untuk menjelajahi tempat-tempat baru bersama temannya, Bonita, dan tidak ragu untuk mengundang teman pria ke rumah untuk sekadar berbincang. Meskipun ada beberapa teman yang bingung dengan keputusan Ratih untuk mengikuti acara taaruf, ia tetap tenang dan percaya pada proses yang dijalani. "Aku sih percaya sama Allah. Insyaallah kalau kita punya niat baik, maksudnya doa-doa kita diijabah sama Allah, gitu aja sih," sebutnya.
Pengalaman Pencarian Jodoh yang Beragam
Sebelum mengikuti Golek Garwo di Jakarta, Ratih telah mengalami berbagai pengalaman dalam pencarian jodoh yang belum membuahkan hasil. Pada percobaan pertamanya di Solo, ia merasa sangat gugup, namun tekadnya membuatnya tetap mempromosikan diri dengan elegan. Ia sempat menjalin komunikasi dengan seorang polisi berstatus duda yang berasal dari basis data peserta, tetapi rencana pertemuan mereka batal dan komunikasi pun terputus. "Saya nyapa duluan, 'Assalamualaikum, apa kabar, Mas?' Akhirnya ngebuka omongan, di situ ngobrol selama dua minggu. Tapi sehari sebelumnya, dia membatalkan," tutur Ratih.
Tidak hanya mengandalkan cara luring, Ratih juga mencoba aplikasi kencan. Ia pernah berkenalan dengan seorang pria asal Turki di Jakarta dan bertemu langsung, namun pria tersebut menghilang tanpa penjelasan. "Pas ketemu, ngobrol, mau hari keduanya dia enggak dateng (untuk bertemu kembali). Terus aku ngelihatnya, 'Oh, ya udah'. Buat have fun aja dia. Dua hari aja enggak nyanggup," ucapnya.
Pengalaman-pengalaman tersebut menyadarkan Ratih bahwa pencarian jodoh memerlukan kesiapan mental yang kuat. Ia berharap dapat menemukan pasangan yang memiliki tinggi badan setara atau lebih, minimal 180 sentimeter. Dari segi karakter, Ratih mencari pria Muslim yang bertanggung jawab, tidak pelit, dan berpikiran terbuka. Ia juga bersedia berkompromi terkait pekerjaan, asalkan ada keterbukaan dalam komunikasi sejak awal. "Yang penting kita ada saling keterbukaan, diobrolin dulu pokoknya gimana. Kalau saya kan siap dinikahi, dan kalau Allah mengizinkan, saya bisa melahirkan seorang anak," ujar Ratih.
Dengan latar belakang sebagai mantan pekerja seni yang berpenampilan eksentrik, pandangan Ratih pun dipengaruhi oleh pengalamannya. Ia menyatakan bahwa dirinya baru berhijrah selama dua tahun terakhir dan kini menginginkan pasangan yang santai dan tidak memandang agama secara fanatik. "Aku sebenernya pengennya sih, sebagai Muslim yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, memandang sesuatu hal dengan fanatik itu aku kurang suka," jelasnya. Baginya, penerimaan terhadap keunikan dan kepribadian adalah hal yang sangat penting, dan ia tidak ingin terjebak pada standar baku tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap.