JAKARTA - Setiap generasi memiliki cara tersendiri dalam merayakan momen-momen penting dalam hidup mereka, termasuk pernikahan. Tren yang muncul menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara milenial dan generasi Z (Gen Z) dalam merancang pesta pernikahan. Karakteristik serta gaya hidup dari kedua generasi ini sangat memengaruhi pilihan lokasi, daftar tamu, hingga tema utama acara.
Karakteristik Milenial dan Gen Z dalam Merencanakan Pernikahan
Pemilik King James Wedding Organizer, Gatot, menyatakan bahwa generasi milenial cenderung memilih tempat perayaan yang lebih formal dengan fokus pada gedung pertemuan yang luas. "Karena ya biasanya ada beberapa orang yang memang maunya bentuk venue ballroom," ujarnya saat ditemui di Bridestory Fair Juni 2026, JICC Senayan, Jakarta Pusat.
Ia menambahkan bahwa bagi milenial, mengadakan acara di ruang perjamuan besar adalah pilihan yang aman. Di sisi lain, Gen Z lebih memilih ruang alternatif yang menciptakan suasana akrab dengan tamu. Ruang berarsitektur unik, seperti bangunan model glasshouse atau restoran dengan kapasitas besar, menjadi pilihan yang diminati. Gen Z juga cenderung membatasi undangan hanya untuk keluarga inti dan sahabat terdekat agar acara terasa lebih privat. "Kalau dulu kan kayaknya intimate tuh kayak sesuatu yang, enggak banget kawin kecil-kecilan gitu. Kalau sekarang sesuatu yang lumrah," jelas Social Media and Content Lead Bridestory, Noel Monique.
Alur Acara dan Interaksi dengan Tamu
Pendiri FIOR Organizer, Vini, menjelaskan bahwa perbedaan lainnya terlihat dalam alur acara dan cara pengantin berinteraksi dengan tamu. Milenial masih mempertahankan struktur acara yang teratur, mulai dari prosesi masuk, pemotongan kue, hingga sesi bersalaman dengan semua tamu. "Kalau acara milenial tuh biasanya cuman akan menyisipkan beberapa hal-hal, seperti kayak mingle, menyapa-nyapa tamu (di luar pelaminan)," kata Vini. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di pelaminan untuk bersalaman dan berfoto-foto dari awal hingga akhir acara.
Berbeda dengan itu, banyak pengantin Gen Z yang memilih untuk tidak melakukan antrean salaman di pelaminan karena lebih suka berbaur langsung dengan tamu sejak awal. "Mereka biasanya pada enggak suka kalau salaman di pelaminan. Enggak senang dipajang. Jadi maunya lebih mingle, ngobrol, nyapa tamu gitu," terang Gatot. Bahkan, ada pasangan Gen Z yang memilih untuk menyederhanakan alur pernikahan dengan hanya mengadakan sesi pemberkatan di Ibu Kota tanpa melanjutkan ke resepsi. "Jadi, habis dari pemberkatan, mereka nanti bagiin nasi kotak, habis itu sudah (acara) bebas," ungkap Gatot.
Visual Dekorasi dan Personalisasi Hiburan
Aspek estetika dan dekorasi juga menjadi faktor yang membedakan gaya kedua generasi ini. Pengantin Gen Z menginginkan sentuhan personal yang kuat di setiap sudut ruangan untuk mencerminkan kisah cinta atau hobi mereka. "Jadi, mereka tuh suka sesuatu yang enggak template, sesuatu yang enggak sama, enggak monoton," tutur Noel. Misalnya, cermin Instagramable dengan ilustrasi pengantin atau hiasan bunga di sekitar bingkainya menjadi pilihan menarik. Menurut Noel, pasangan Gen Z ingin agar tamu benar-benar merasakan karakter asli mereka melalui instalasi visual yang dipajang.
Vini menambahkan bahwa Gen Z juga berani menerapkan konsep tematik yang totalitas dengan menyisipkan permainan di tengah resepsi. "Kalau waktu itu, kami pernah banget handle pernikahan di Bali, dan itu pernikahannya ada kompetisi golf," ungkapnya. Sementara itu, milenial lebih mengedepankan pakem dalam menyusun elemen dekoratif, cenderung memilih konsep dasar yang elegan dengan palet warna netral.