Kebijakan work from home (WFH) memberikan pengalaman unik bagi Tabita, seorang ASN Gen Z yang bertugas di Jakarta. Meskipun jarak antara tempat tinggalnya dan kantor cukup dekat, sistem kerja ini tidak mengubah rutinitasnya secara drastis. Namun, tantangan lain muncul, terutama karena pekerjaan yang ia jalani memerlukan mobilitas yang tinggi.
“Ketika mendengar, aku merasa mungkin WFH ini tidak akan berpengaruh besar ke aku, karena aku pun domisilinya sangat dekat ke kantor,” ungkapnya saat diwawancarai. Sebagai petugas protokol, Tabita harus menyesuaikan seluruh aktivitasnya dengan agenda pimpinan yang sering berubah. Hal ini membuat jam kerja normal hampir tidak berlaku baginya.
Menyesuaikan Diri dengan Agenda Pimpinan
“Aku sebagai protokol juga bekerja sesuai dengan jadwal giatnya pimpinan. Jadi work hour sehari-hari juga nggak menentu, tergantung pimpinan dan agenda bulan-bulan tertentu yang padat,” jelas Tabita. Meskipun kebijakan WFH telah diterapkan selama empat minggu, ia menyatakan bahwa tidak setiap hari ia bekerja dari rumah. “Dari empat minggu penerapan WFH ini ada satu atau dua minggu yang mengharuskan aku ke kantor di hari Jumat. Sisanya benar-benar di kosan, bekerja jarak jauh,” tambahnya.
Di hari-hari ketika ia bekerja dari kos, Tabita memulai aktivitas dengan membuka daftar agenda terdekat, memeriksa kebutuhan administrasi, dan memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana. Namun, suasana kerja yang lebih tenang kadang membuatnya merasa ada yang kurang. Berbeda dengan pekerjaan administratif lainnya, tugas protokol sangat bergantung pada interaksi langsung dan koordinasi lapangan.
Tuntutan Pekerjaan yang Selalu Siaga
Tabita menjelaskan bahwa lingkup pekerjaannya membuat kebijakan WFH tidak selalu bisa diterapkan sepenuhnya. “Lingkup pekerjaanku ini memang mengharuskan ketemu orang, dengan adanya aturan WFH ini lumayan berpengaruh. Kalau pimpinanku ada seminar atau acara di luar, maka aku harus terjun langsung ke lapangan,” tuturnya. Oleh karena itu, bekerja dari kos biasanya hanya diisi dengan penyusunan kebutuhan administratif untuk program-program terdekat.
“Sejauh ini kerja dari rumah paling menyusun keperluan administratif yang dibutuhkan untuk program terdekat. Di luar itu, apabila ada panggilan tugas dari pimpinan, harus tetap berangkat,” jelasnya. Situasi ini menuntut Tabita untuk selalu siap, meskipun ia sedang menjalani WFH, ia tetap harus siaga jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak.
Menariknya, ketika agenda pimpinan tidak terlalu padat, Tabita merasa bingung. “Kalau di waktu-waktu yang agak landai, justru bingung mau kerjain apa lagi, karena memang hanya sedikit pekerjaan administratif yang bisa aku kerjakan dari kos. Sisanya harus koordinasi langsung,” katanya. Rutinitas kerjanya sangat bergantung pada aktivitas eksternal, sehingga ritme kerja bisa berubah drastis dari satu hari ke hari berikutnya.
“Dalam kegiatan sehari-hari pun jam kerjaku kadang nggak menentu. Ada kalanya aku harus lembur, weekend harus ikut pimpinan hadir ke suatu acara, atau bahkan dinas keluar kota mendampingi atasan,” lanjutnya.
Di tengah jadwal yang sering tidak menentu, Tabita melihat WFH sebagai kesempatan untuk mengambil jeda. “Aku berusaha menikmati waktu WFH setiap minggunya, enggak nyoba kerja dari luar juga. Sebab, di weekend aku terkadang juga tetap masuk kerja,” ujarnya. Di sela waktu bekerja dari kos, ia memilih menikmati suasana yang lebih tenang dan sesekali beristirahat sejenak, menyicil dokumen-dokumen, serta menikmati momen tanpa tekanan agenda lapangan.
“Momen WFH ini bisa aku manfaatkan untuk lebih santai, nenangin pikiran, dan mempersiapkan diri untuk panggilan kerja di weekend juga,” tutupnya. Bagi Tabita, WFH bukan hanya sekadar bekerja lebih santai dari rumah, tetapi juga menjadi ruang untuk memulihkan energi sebelum kembali menghadapi ritme pekerjaan protokol yang menuntut kesiapan hampir setiap waktu.