Teknologi

Pendapatan OpenAI Melonjak, Namun Kerugian Terus Menghantui

OpenAI, pengembang ChatGPT, mengalami lonjakan pendapatan yang signifikan, tetapi tetap menghadapi kerugian besar akibat biaya operasional yang terus meningkat. Meskipun memiliki lebih dari 900 juta p...

A
Ahmad Fauzan
20 June 2026 25 pembaca
Foto: GSM Arena
Foto: GSM Arena

Jakarta - Kenaikan pesat dalam tren Kecerdasan Buatan (AI) telah membawa OpenAI ke posisi yang menguntungkan, namun di balik kesuksesan tersebut, perusahaan yang mengembangkan ChatGPT ini sedang berjuang dengan biaya operasional yang sangat tinggi. Berdasarkan dokumen keuangan yang bocor dan diperoleh oleh jurnalis independen Ed Zitron, OpenAI kini berada dalam dilema besar: meskipun skala teknologinya berkembang pesat, biaya untuk membangun dan mengoperasikannya jauh lebih tinggi. Dokumen yang muncul menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) ini mengungkapkan kenyataan pahit di industri AI saat ini: pendapatan miliaran dolar ternyata tidak cukup untuk menutupi biaya teknologi yang terus melonjak tajam.

Pendapatan Meningkat, Pengeluaran Melonjak

Pendapatan OpenAI menunjukkan pertumbuhan yang sangat dramatis. Saat ini, ChatGPT memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, dengan sekitar 50 juta di antaranya adalah pelanggan berbayar. Namun, ekspansi besar ini tidak sejalan dengan efisiensi operasional. Berikut adalah ringkasan pertumbuhan finansial OpenAI antara tahun 2024 dan 2025:

Kategori Keuangan
Tahun 2024: Pendapatan USD 3,7 miliar
Tahun 2025: Pendapatan USD 13,07 miliar
Riset dan Pengembangan: USD 7,81 miliar (2024) dan USD 19,18 miliar (2025)
Beban Pokok Pendapatan: USD 2,65 miliar (2024) dan USD 7,5 miliar (2025)
Penjualan: USD 1,11 miliar (2024) dan USD 5,73 miliar (2025)
Kerugian Operasional: USD 8,78 miliar (2024) dan USD 20,92 miliar (2025)

Pembayaran Besar ke Microsoft

Angka pengeluaran untuk Riset dan Pengembangan (R&D) yang mencapai USD 19,18 miliar (sekitar Rp 311 triliun) sebagian besar digunakan untuk biaya pelatihan model AI baru dan pembayaran kepada mitra infrastruktur utama. Pada tahun 2025, USD 10,59 miliar dari total anggaran R&D OpenAI dibayarkan langsung kepada Microsoft. Bahkan setelah model AI selesai dilatih, biaya tidak serta-merta berkurang. Setiap interaksi yang dilakukan oleh jutaan pengguna di ChatGPT memerlukan biaya komputasi yang tinggi, sehingga akumulasi biaya dari setiap interaksi tersebut menjadi beban yang sangat besar.

Kerugian Bersih yang Mengkhawatirkan

Laporan tersebut juga mencatat kerugian bersih yang sangat besar untuk tahun 2025, hampir mencapai USD 39 miliar. Namun, angka ini bisa menyesatkan. Sebagian besar dari kerugian tersebut disebabkan oleh penyesuaian akuntansi satu kali yang terkait dengan perubahan valuasi investor setelah OpenAI beralih menjadi entitas berorientasi laba. Jika penyesuaian tersebut diabaikan, kerugian operasional inti perusahaan sebenarnya "hanya" sekitar USD 8 miliar.

Perubahan Strategi Bisnis

Beban finansial yang berat ini memaksa manajemen OpenAI untuk merombak strategi bisnis mereka. Beberapa waktu lalu, OpenAI mengambil langkah drastis dengan menghentikan sejumlah inisiatif, termasuk proyek AI untuk pembuatan video bernama Sora. Saat ini, perusahaan lebih memilih untuk fokus pada produk-produk inti yang ditujukan bagi pengembang dan pelanggan bisnis. Namun, tantangan di sektor bisnis juga tidak kalah berat. Banyak klien korporat mulai mengeluhkan skema harga berbasis token dan meminta imbal hasil yang lebih jelas dari investasi AI mereka. Di sisi lain, persaingan dengan perusahaan lain seperti Anthropic semakin menekan harga berlangganan di pasar.

Kepercayaan Investor yang Kuat

Meski laporan keuangannya menunjukkan kerugian besar, kepercayaan investor terhadap Sam Altman dan timnya tetap kuat. Pada Maret 2026, OpenAI berhasil mendapatkan pendanaan besar sebesar USD 122 miliar dengan valuasi perusahaan mencapai USD 852 miliar. OpenAI menjanjikan kepada para investor bahwa mereka akan mencapai titik impas dan mulai menghasilkan keuntungan pada tahun 2030. Saat ini, OpenAI masih dalam fase "bakar uang" untuk membangun fondasi yang kuat. Pertanyaannya sekarang adalah: sampai kapan pertumbuhan permintaan dapat menutupi atau melampaui biaya infrastruktur yang sangat besar?

Artikel Terkait