Kesehatan

Dampak Gangguan Otot Dasar Panggul Terhadap Kehidupan Rumah Tangga

Masalah otot dasar panggul sering dialami oleh perempuan, terutama saat memasuki perimenopause dan menopause, yang dapat berdampak pada hubungan dengan pasangan. Dokter mengingatkan pentingnya kesadar...

K
Kartika Sari Dewi
21 June 2026 3 pembaca
Dampak Gangguan Otot Dasar Panggul Terhadap Kehidupan Rumah Tangga
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Gangguan pada otot dasar panggul merupakan masalah yang banyak dialami oleh perempuan, terutama saat mereka memasuki fase perimenopause dan menopause. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan intim dengan pasangan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi estetika dari Bamed, dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, FAUCICOG, MM., MARS, menyatakan bahwa gangguan otot dasar panggul masih kurang dikenal oleh masyarakat. Meskipun demikian, dampaknya terhadap kualitas hidup perempuan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga, cukup signifikan. Dalam seminar media Bamed Healthcare yang berlangsung di Jakarta Selatan, dr. Yeni menekankan bahwa kesadaran masyarakat mengenai masalah ini masih tergolong rendah.

Kesadaran Masyarakat yang Rendah

Banyak perempuan yang menganggap keluhan yang muncul sebagai hal biasa yang terkait dengan proses penuaan atau pasca melahirkan, sehingga mereka tidak mencari bantuan medis. Padahal, berbagai gejala yang timbul dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari serta hubungan dengan pasangan. “Gangguan otot dasar panggul itu memang masih kurang familiar. Padahal kalau ditarik lagi akan ada hubungannya dengan keharmonisan dengan pasangan,” ujar dr. Yeni.

Menurut dr. Yeni, masalah kesehatan pada otot dasar panggul tidak hanya berdampak pada fungsi organ reproduksi dan saluran kemih, tetapi juga dapat memengaruhi interaksi emosional dan fisik antara suami dan istri. Ia juga menyoroti fenomena yang semakin sering dibicarakan, yaitu perceraian di kalangan pasangan usia lanjut, yang dikenal sebagai gray divorce. “Sekarang ada istilahnya gray divorce. Di usia-usia perimenopause dan menopause banyak mengalami gangguan otot dasar panggul dan berujung pada perceraian,” jelasnya.

Dampak Terhadap Kehidupan Seksual

Salah satu dampak paling sering dari gangguan otot dasar panggul adalah terganggunya kehidupan seksual pasangan. Keluhan yang dialami perempuan dapat membuat aktivitas seksual menjadi tidak nyaman dan sulit dinikmati. Dr. Yeni menjelaskan bahwa perempuan yang mengalami gangguan ini sering kali kesulitan menahan buang air kecil, bahkan saat berhubungan intim. “Adanya gangguan ini membuat seorang wanita jadi enggak bisa nahan kencing. Misalnya baru berhubungan sebentar, sudah ingin bolak-balik kencing,” tuturnya.

Situasi ini dapat mengganggu kenyamanan kedua belah pihak dan menjadikan momen intim tidak optimal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakpuasan dalam hubungan. “Sementara laki-laki kalau sudah ereksi tidak bisa nunggu, alhasil suaminya ngambek dan tidak merasa puas,” tambahnya. Sayangnya, kondisi ini sering kali tidak dibicarakan secara terbuka oleh pasangan, sehingga masalah kesehatan yang mendasarinya dapat berkembang menjadi konflik dalam rumah tangga.

Selain memengaruhi aspek fisik, gangguan otot dasar panggul juga dapat berdampak pada kondisi psikologis perempuan. Ketidaknyamanan yang terus-menerus dialami dapat menurunkan rasa percaya diri. “Hal-hal seperti ini yang memicu rasa tidak percaya diri, sehingga menolak untuk terjadinya hubungan seksual,” ungkap dr. Yeni. Penolakan terhadap aktivitas seksual tidak selalu disebabkan oleh berkurangnya rasa sayang, tetapi bisa juga karena kekhawatiran akan ketidaknyamanan atau gejala yang muncul akibat gangguan ini.

Masalah ini dapat semakin rumit jika disertai kondisi lain yang sering muncul pada perempuan di usia perimenopause dan menopause, seperti varises di daerah vagina atau kurangnya lubrikasi yang menyebabkan nyeri saat berhubungan. “Belum lagi kalau ada gangguan lainnya, misalnya varises di daerah vagina, kurangnya lubrikasi yang ketika berhubungan jadi nyeri, itu juga menyebabkan enggan untuk melakukan hubungan seksual,” jelasnya.

Oleh karena itu, dr. Yeni menekankan pentingnya untuk mengenali gejala gangguan otot dasar panggul sejak dini. Penanganan yang tepat dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik perempuan dan berpotensi menjaga kualitas hubungan dengan pasangan. Dengan diagnosis dan terapi yang sesuai, perempuan dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik serta mempertahankan keharmonisan dalam rumah tangga.

Artikel Terkait