Seringkali, kita cenderung menyimpan parfum favorit yang berharga tinggi dengan hemat. Namun, tindakan ini bisa menjadi bumerang, karena parfum memiliki masa kedaluwarsa seperti produk kosmetik lainnya. Kebiasaan penggunaan dan cara penyimpanan tertentu dapat mengubah komposisi kimia dalam botol, sehingga aroma parfum bisa cepat hilang atau menjadi tidak sedap. "Dalam pengalaman saya, parfum tidak memudar intensitasnya, tetapi aromanya cenderung menjadi teroksidasi, asam, terkadang berbau logam atau dengan aroma plastik," ungkap Amandine Pallez, Direktur Kreatif Senior di Bvlgari Parfums.
Tanda-Tanda Parfum Kedaluwarsa
Seperti halnya produk kosmetik lainnya, parfum juga memiliki batas kedaluwarsa yang tergantung pada komposisi dan waktu pertama kali dibuka. Banyak produsen menyarankan agar botol parfum dibuang setelah satu hingga tiga tahun pemakaian. Namun, beberapa produk masih dapat digunakan dengan aman hingga lima tahun. Penting untuk diingat bahwa kelebihan oksigen dalam botol dapat merusak struktur molekul parfum. "Biasanya ada perubahan nyata pada bau aroma awal, dan mungkin ada perubahan warna cairan juga," jelas Pia Long, pembuat parfum dan pendiri Olfiction Limited.
Ginger King, seorang ahli kimia kosmetik dan pemilik Grace Kingdom Beauty, menambahkan bahwa banyak parfum awalnya memiliki warna kekuningan mirip minyak. Namun, saat kualitasnya menurun, cairan tersebut sering berubah menjadi cokelat gelap.
Faktor yang Mempengaruhi Keawetan Parfum
Parfum dengan aroma sitrus cenderung lebih cepat teroksidasi, sementara aroma dari kayu, amber, dan bahan kulit lebih stabil dan dapat bertahan lebih lama meskipun disimpan lebih dari tiga tahun. Menariknya, kadar alkohol yang tinggi berfungsi sebagai pengawet yang efektif. Wewangian dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat mencegah molekul aromatik teroksidasi lebih cepat. Wewangian dengan kadar alkohol mencapai 90 persen memiliki tingkat keawetan tertinggi. Berikut adalah urutan jenis wewangian berdasarkan kandungan alkohol dari yang tertinggi hingga terendah: Eau de Cologne, Eau de toilette, Eau de parfum, Perfume extract, dan Eau fraiche. "Semakin rendah konsentrasinya, semakin baik keawetan yang bisa kamu harapkan. Sebuah wewangian biasanya mengandung 70 hingga 90 persen alkohol, yang memberikan dukungan pengawet," jelas Pallez. Sebaliknya, parfum berbahan alami tanpa alkohol akan lebih cepat kehilangan intensitas wangi.
Tips Menyimpan Parfum Agar Awet
Memajang botol parfum di ambang jendela mungkin terlihat menarik, tetapi hal ini adalah kesalahan besar. Paparan sinar matahari langsung dapat merusak molekul dan membuat komposisinya tidak stabil. Selain itu, hindari menyimpan parfum di tempat dengan suhu panas dan kelembapan tinggi, seperti rak kamar mandi. Suhu ideal untuk menyimpan parfum adalah di bawah 15 derajat Celsius. "Bila sudah setengah kosong, oksigen di dalamnya meningkatkan risiko perubahan," kata Pallez. Oleh karena itu, sebaiknya segera gunakan botol yang isinya tinggal sedikit. Selain itu, jangan memindahkan cairan ke dalam botol semprotan kecil karena proses itu dapat meningkatkan paparan oksigen. Sebagai alternatif, kamu bisa menyimpan produk dalam kulkas atau freezer, asalkan pintunya tidak terlalu sering dibuka.
Risiko Menggunakan Parfum Kedaluwarsa
Penggunaan parfum yang sudah kedaluwarsa memerlukan perhatian ekstra. Cairan yang teroksidasi dapat mengiritasi kulit dan meninggalkan noda pada pakaian. "Senyawa yang membusuk dapat menyebabkan reaksi alergi saat kontak langsung dengan kulit," tambah King. Jika kamu tetap ingin menggunakan parfum tersebut, Long menyarankan untuk melakukan uji tempel di area pergelangan tangan. Jika tidak ada reaksi kemerahan atau gatal dalam waktu 24 jam, kamu bisa menggunakannya dengan hati-hati. Jika ragu untuk menyemprotkannya langsung ke kulit, coba aplikasikan pada syal atau ujung celana untuk menghindari kontak langsung.