Lifestyle

Mitos Sembelit yang Perlu Diketahui: Apa Saja yang Salah Kaprah?

Sembelit adalah masalah pencernaan yang umum, namun banyak mitos yang beredar mengenai kondisi ini. Para ahli gizi menjelaskan lima mitos yang sering dipercaya tentang sembelit.

A
Aisyah Nur Hidayah
29 September 2026 32 pembaca
Ilustrasi anak sakit perut.(Magnific)
Ilustrasi anak sakit perut.(Magnific)

Sembelit merupakan masalah pencernaan yang sering dialami oleh banyak orang. Gejala yang umum muncul adalah frekuensi buang air besar (BAB) yang berkurang, tinja yang keras, atau kesulitan saat mengeluarkan tinja. Meskipun kondisi ini sering terjadi, masih banyak anggapan yang keliru mengenai sembelit. Untuk mengklarifikasi berbagai mitos tersebut, beberapa ahli gizi membagikan lima mitos yang sering dipercaya tentang sembelit.

Mitos Pertama: Semakin Banyak Serat, Semakin Baik

Menambah asupan serat memang dapat membantu menjaga keteraturan dalam buang air besar. Namun, bukan berarti semakin banyak serat yang dikonsumsi akan selalu lebih baik. Ahli gizi Kate Scarlata, MPH, RDN, LDN, menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu dalam saluran pencernaan, menambah serat secara berlebihan justru tidak membantu mengatasi sembelit. “Meski menambahkan serat dapat menjadi kunci untuk meningkatkan keteraturan buang air besar, pada beberapa kondisi saluran pencernaan, menambahkan lebih banyak serat seperti menambahkan lebih banyak mobil ke dalam kemacetan lalu lintas, tidak membantu,” ujarnya. Sembelit juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti stres, gangguan pergerakan usus, efek samping obat, masalah pada dasar panggul, hingga gangguan tiroid. Oleh karena itu, jika sembelit terjadi berulang kali, penting untuk mencari tahu penyebabnya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, bukan sekadar menambah asupan serat.

Mitos Kedua: Frekuensi BAB Harus Setiap Hari

Frekuensi buang air besar bukan satu-satunya indikator kesehatan pencernaan. Menurut ahli gizi Amanda Sauceda, MS, RD, seseorang bisa saja mengalami sembelit meski BAB setiap hari. Tinja yang keras, kering, menggumpal, atau BAB yang memerlukan banyak usaha untuk dikeluarkan dapat menjadi tanda sembelit. Selain itu, perasaan bahwa masih ada tinja yang tertinggal setelah BAB juga merupakan gejala yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan bukan hanya seberapa sering seseorang BAB, tetapi juga kondisi tinja, kemudahan saat mengeluarkannya, dan bagaimana tubuh merasa setelah BAB.

Mitos Ketiga: Posisi Duduk di Toilet adalah yang Terbaik

Meskipun duduk di toilet adalah posisi yang umum, posisi ini tidak selalu membantu seseorang untuk BAB dengan mudah. Scarlata menyebutkan bahwa posisi duduk dapat membuat otot puborectalis sulit untuk rileks, sehingga seseorang mungkin perlu mengejan lebih keras. Salah satu alternatif yang bisa dicoba adalah menggunakan bangku kecil untuk menopang kaki, sehingga posisi lutut lebih tinggi daripada pinggul. Posisi ini menyerupai jongkok dan dapat membantu mempermudah proses BAB.

Mitos Keempat: Sembelit Hanya Masalah Sepele

Sembelit memang umum terjadi dan sering kali dapat diatasi dengan perubahan pola makan atau kebiasaan sehari-hari. Namun, sembelit yang berlangsung lama sebaiknya tidak diabaikan. Ahli gizi Kaytee Hadley, MS, RDN, IFMCP, mengingatkan bahwa sembelit kronis dapat memengaruhi kualitas hidup dan fungsi tubuh, serta sistem pencernaan. Sembelit yang terus-menerus juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan tertentu. Jika masalah ini tidak membaik setelah melakukan perubahan pola makan dan gaya hidup, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat disarankan.

Mitos Kelima: Menahan BAB Tidak Masalah

Menahan keinginan untuk BAB terkadang sulit dihindari, misalnya saat dalam perjalanan atau di tempat yang tidak tersedia toilet. Namun, kebiasaan menahan BAB sebaiknya dihindari. Semakin lama tinja berada di usus besar, semakin banyak air yang diserap tubuh dari tinja tersebut, yang dapat membuat tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Untuk membangun kebiasaan BAB yang lebih teratur, disarankan untuk menyediakan waktu khusus ke toilet, misalnya sekitar 15 hingga 30 menit setelah sarapan. Tujuannya bukan untuk memaksa tubuh, tetapi memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mengikuti rutinitas yang konsisten.

Artikel Terkait