Popularitas kolagen sebagai bahan yang bermanfaat untuk kesehatan kulit terlihat dari banyaknya produk kecantikan dan kesehatan yang tersedia di pasaran, mulai dari minuman kolagen, suplemen, hingga produk perawatan kulit. Namun, di balik ketenarannya, terdapat banyak informasi yang beredar tanpa dukungan bukti ilmiah yang jelas. Dr. Annisa Anjani Ramadhan, Sp.D.V.E., seorang dermatolog, mengungkapkan bahwa kolagen memiliki peran penting dalam menjaga struktur kulit, tetapi pemahaman yang tepat mengenai manfaatnya sangatlah diperlukan agar tidak menimbulkan harapan yang salah.
Mitos Pertama: Kolagen Hanya Penting untuk Kecantikan
Sebenarnya, kolagen tidak hanya berfungsi untuk penampilan kulit. Protein ini merupakan komponen utama yang menyusun kulit, tulang, tendon, ligamen, serta tulang rawan. Menurut Dr. Annisa, kolagen berperan dalam menjaga struktur kulit agar tetap kencang dan tidak mudah kendur. "Salah satu yang paling banyak diteliti saat ini adalah kolagen. Kolagen itu memang berperan penting untuk menjaga struktur kulit. Kalau kita mau kulitnya glowing, struktur kulitnya harus bagus dulu," jelasnya dalam acara Wellness Day "Glow Up: Steal the Spotlight" yang diadakan oleh Tropicana Slim di Jakarta Selatan.
Mitos Kedua: Semua Jenis Kolagen Mudah Diserap Tubuh
Tidak semua jenis kolagen memiliki tingkat penyerapan yang sama. Dr. Annisa menjelaskan bahwa kolagen terhidrolisis atau hydrolyzed collagen, yang telah dipecah menjadi molekul lebih kecil, terbukti lebih mudah diserap oleh tubuh. "Kolagen terhidrolisis itu adalah tipe kolagen yang sudah diproses yang terbukti secara ilmiah bisa diserap oleh tubuh dan bisa dimanfaatkan oleh tubuh," ungkapnya. Sebaliknya, kolagen dengan molekul yang masih besar lebih sulit diserap oleh saluran pencernaan, sehingga dapat menjadi mubazir.
Mitos Ketiga: Krim Kolagen Sama Efektifnya dengan Kolagen yang Diminum
Penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Menurut Dr. Annisa, beberapa studi terbaru menemukan bahwa kolagen terhidrolisis yang dikonsumsi secara oral memberikan peningkatan densitas kolagen yang lebih baik dibandingkan dengan kolagen topikal yang hanya diaplikasikan pada permukaan kulit. "Ternyata yang diminum membawa efek kolagen yang lebih bagus, artinya bertambah densitas atau pertambahan kolagennya lebih bagus dibandingkan dengan yang dioles," paparnya. Hal ini disebabkan oleh kesulitan molekul kolagen untuk menembus lapisan kulit dengan optimal.
Mitos Keempat: Minum Kolagen Saja Sudah Cukup untuk Kesehatan Kulit
Kesehatan kulit tidak hanya bergantung pada satu jenis nutrisi. Dr. Annisa menekankan bahwa perawatan kulit memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pola makan yang baik, tidur yang cukup, olahraga, manajemen stres, serta perawatan kulit dari luar. "Kalau cuma melakukan skincare saja, tetapi tanpa memikirkan nutrisi, asupan yang kita dapatkan, hasilnya tidak optimal," ujarnya. Tubuh tetap memerlukan protein, vitamin, antioksidan, dan berbagai nutrisi lain untuk membentuk kolagen baru.
Mitos Kelima: Kerutan Hanya Disebabkan Oleh Usia
Gaya hidup juga berkontribusi besar terhadap penurunan kolagen. Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan kerusakan kolagen adalah konsumsi gula berlebih. Dr. Annisa menjelaskan bahwa kelebihan gula dapat memicu proses glikasi, di mana molekul gula menempel pada protein dalam tubuh dan menghasilkan senyawa yang dapat merusak sel. "Asupan gula itu sangat berpengaruh ke kulit, terutama gula yang sederhana. Makin banyak peneliti yang menginvestigasi ternyata asupan gula berlebih di tubuh kita bisa mempercepat penuaan sel," tuturnya. Selain gula, paparan sinar ultraviolet, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan kebiasaan merokok juga diketahui dapat mempercepat berkurangnya kolagen alami dalam tubuh.