Kesehatan

Menyusui: Langkah Awal Pemenuhan Gizi yang Terabaikan

Pekan Menyusui Sedunia mengingatkan pentingnya menyusui sebagai hak anak untuk mendapatkan gizi yang optimal, namun banyak tantangan yang dihadapi oleh ibu dan keluarga muda di Indonesia.

D
Daniel Kristianto
30 July 2026 65 pembaca
Menyusui: Langkah Awal Pemenuhan Gizi yang Terabaikan
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Awal bulan Agustus kembali mengingatkan kita akan Pekan Menyusui Sedunia, yang seharusnya tidak hanya dipahami sebagai pekan untuk ASI, karena istilah "breastfeeding" mencakup lebih dari sekadar "breastmilk". Dalam perkembangan isu menyusui di Indonesia, hak anak untuk mendapatkan gizi yang optimal, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupannya, sering kali terabaikan. Ibu dan keluarga muda menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemahaman yang keliru mengenai menyusui dan ASI, kesulitan dalam persiapan menyusui, hingga iklan yang menyesatkan serta kurangnya dukungan dari suami dan mertua.

Kesiapan Ibu dalam Proses Menyusui

Pemeriksaan ante-natal seharusnya tidak hanya berfokus pada kesehatan ibu dan janin, tetapi juga pada kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Masalah seperti puting payudara yang tenggelam dapat menjadi kendala saat menyusui dimulai. Oleh karena itu, penting untuk melakukan konsultasi rutin dengan konselor laktasi atau bidan yang berpengalaman. IMD pun dapat dilakukan meskipun persalinan dilakukan melalui operasi sesar.

Diskusi dengan dokter yang menangani sangat penting, dan ibu harus mendapatkan dukungan yang memadai. Rumah sakit atau tempat bersalin yang mendorong konsumsi susu formula tanpa indikasi medis dapat dilaporkan, karena hal tersebut melanggar Undang-Undang Kesehatan No. 17/2023 dan Peraturan Pemerintah No. 28/2024.

Manfaat Menyusui bagi Kecerdasan Anak

Studi meta-analisis yang diterbitkan dalam Acta Pediatrica pada Juli 2015 menunjukkan hubungan positif antara menyusui dengan kecerdasan anak. Jurnal terbaru yang berjudul "The Benefits of Breastfeeding on Child Intelligence, Behavior, and Executive Function: A Review of Recent Evidence" juga menegaskan manfaat menyusui dalam meningkatkan kecerdasan, perilaku, serta fungsi eksekutif anak, yang mencakup kemampuan ingatan, fleksibilitas kognitif, dan kontrol impuls.

Namun, di media sosial, penjelasan ini sering kali dianggap sebagai serangan terhadap ibu yang memilih memberikan susu formula. Upaya untuk meningkatkan cakupan menyusui dari lahir hingga usia dua tahun merupakan tanggung jawab negara dan semua pihak terkait, agar anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang sesuai standar emas.

Walaupun banyak faktor yang memengaruhi kecerdasan anak, ASI tetap diakui sebagai sumber nutrisi terbaik yang komposisinya dapat berubah sesuai kebutuhan bayi. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini, meskipun produsen susu formula mencantumkan informasi tersebut pada kemasan produk mereka.

Regulasi Pemasaran Susu Formula yang Minim

Regulasi mengenai pemasaran susu formula yang dapat mengganggu kepercayaan diri ibu baru masih sangat kurang diperhatikan. Jurnal Lancet pada tahun 2023 melaporkan bahwa penjualan susu formula mencapai angka fantastis, yaitu 55 miliar dolar Amerika per tahun, sementara proporsi bayi yang disusui sesuai rekomendasi WHO masih di bawah 50%. Melalui berbagai pelatihan dan seminar, industri susu formula mendekati publik, sementara konselor laktasi dan edukator PMBA mengalami kesulitan dalam akses ekonomi dan edukasi.

Sering kali, susu formula lanjutan dianggap sebagai pelengkap yang diperlukan setelah 6 bulan, padahal menyusui sebaiknya dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih dengan makanan pendamping ASI yang berkualitas. WHO menegaskan bahwa susu formula lanjutan tidak diperlukan dan bukan pengganti ASI.

Penting bagi para pembuat kebijakan untuk memahami bahwa keberhasilan menyusui tidak seharusnya dicampuri oleh kepentingan industri. Kesulitan dalam menyusui harus diselesaikan dengan pendekatan yang tepat, bukan dengan membagikan produk industri yang dianggap sebagai solusi instan.

Seringkali, ASI dipersalahkan ketika bayi mengalami masalah gizi, padahal ada banyak faktor lain yang berkontribusi, seperti kurangnya stimulasi saat MPASI diperkenalkan atau masalah kesehatan yang mendasari. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan yang kompeten dalam bidang PMBA sangat penting untuk mendukung ibu dalam memberikan gizi yang optimal bagi anak mereka.

Dalam konteks ini, penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyusui dan memberikan dukungan yang tepat bagi ibu, agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Artikel Terkait