KONSEP mindfulness atau kesadaran penuh kini semakin banyak dibicarakan di tengah masyarakat yang hidup dalam ritme cepat dan penuh tekanan. Banyak individu yang berusaha menerapkan praktik ini dengan harapan menemukan ketenangan batin di tengah berbagai tuntutan hidup yang terus ada. Namun, dalam pelaksanaannya, banyak yang terjebak dalam pemahaman yang keliru, mengabaikan realitas sosial yang memprihatinkan.
Ketenangan diri sering kali disalahartikan sebagai cara untuk menutup mata terhadap berbagai penderitaan, kesulitan ekonomi, dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, pemahaman dasar mengenai praktik kesadaran penuh ini perlu diluruskan agar selaras dengan kondisi zaman saat ini. Hal ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap acuh tak acuh atau positivitas yang toksik, yang hanya berfokus pada pencarian kedamaian mental semata.
Mindfulness: Lebih dari Sekadar Ketenangan Diri
Praktik mindfulness sejatinya memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar upaya untuk meredam kecemasan pribadi. Mengubah perspektif dalam menghadapi kesibukan dunia luar adalah kunci agar praktik ini tidak hanya menjadi pelarian psikologis sementara dari tanggung jawab moral terhadap kemanusiaan. Sry Lestari Samosir, seorang sosiolog dan dosen di Universitas Negeri Medan, menegaskan bahwa “Mindfulness bukan cara untuk menjadi tenang terhadap apa pun yang terjadi, tetapi sebagai cara untuk menjadi lebih sadar terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita.”
Seringkali, dorongan untuk selalu bersikap positif justru dapat mengurangi empati seseorang terhadap penderitaan orang lain. Sry menambahkan, “Ketika kita melihat berita tentang PHK, kekerasan, konflik, ketidakadilan, lingkungan yang rusak, jangan langsung seolah-olah menganggap itu akan berlalu dan meminta semua orang untuk tetap positif.”
Mengelola Emosi dengan Bijak
Merespons ketidakadilan sosial dengan kemarahan bukanlah hal yang salah dalam konteks kesadaran penuh. Sry menekankan bahwa kemarahan adalah reaksi yang wajar terhadap ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Kemarahan tersebut mencerminkan empati dan nilai kemanusiaan yang masih hidup dalam diri kita. Namun, yang membedakan individu yang benar-benar sadar adalah bagaimana mereka mengelola dan mengarahkan kemarahan tersebut ke tindakan yang konstruktif. “Jangan hanya marah-marah di sosial media dan menyebarkan energi negatif ke komen-komen yang buruk, tetapi mengarahkan kemarahan itu untuk mencari informasi yang benar, memahami persoalan yang ada, lalu mendukung orang-orang yang terdampak,” jelasnya.
Transformasi energi kemarahan di dunia maya menjadi dukungan nyata bagi kelompok-kelompok yang rentan adalah inti dari pengelolaan emosi yang efektif.
Menuju Kesadaran Sosial
Pada akhirnya, ketenangan pribadi tidak boleh menjadi tujuan akhir dari perjalanan menuju kesejahteraan mental. Kedamaian batin seharusnya mampu memberikan dampak yang lebih luas, konkret, dan terukur bagi masyarakat. Sry mengingatkan bahwa praktik kesadaran diri ini harus melampaui batas individu dan berkembang menjadi kesadaran sosial. “Mindfulness harusnya tidak berhenti pada kesadaran diri, tapi berkembang menjadi kesadaran sosial, sehingga terjadi perubahan yang bisa kita lakukan untuk masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak merasa puas dan buta terhadap sekelilingnya hanya karena masalah pribadi telah teratasi melalui perenungan. “Kita sibuk untuk membuat tenang, seolah-olah kalau kita tenang, persoalannya selesai dan kita lupa pada realitas yang ada. Ini keliru,” tambahnya. Sikap apatis yang dibalut kedamaian batin justru dapat melanggengkan berbagai masalah struktural yang ada. “Ketenangan diri sendiri tidak otomatis berarti dunia ini baik-baik saja. Jangan sampai merasa tenang, tapi ketidakadilan di seberang sana masih terjadi,” tutup Sry.