Kesehatan

Mengenali Gejala Stres Kronis dan Kapan Harus Mencari Bantuan Psikologis

Stres kronis dapat dialami oleh siapa saja, terutama di kalangan pekerja. Penting untuk mengenali tanda-tanda dan kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan psikolog.

L
Luthfi Zaki Maulana
16 June 2026 10 pembaca
Mengenali Gejala Stres Kronis dan Kapan Harus Mencari Bantuan Psikologis
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Tuntutan dari pekerjaan dan dinamika kehidupan sehari-hari membuat individu dalam usia produktif sangat rentan terhadap stres kronis. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa kelelahan mental yang menumpuk dapat mengganggu stabilitas emosional, sehingga memicu reaksi yang tidak proporsional terhadap masalah kecil.

Psikolog klinis dari Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya, M.Psi., Psikolog, menyatakan dalam sebuah talkshow bertajuk "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, bahwa seringkali orang merasa, "Kok kayaknya situasi stresnya sebenarnya kecil, tapi reaksi emosi yang kita rasakan kok besar ya?"

Ciri-ciri Stres Kronis dan Cara Mengatasinya

Untuk mendeteksi apakah stres sudah menumpuk terlalu lama, cara yang paling sederhana adalah dengan mengevaluasi tiga aspek diri sendiri: pikiran, perasaan, dan perilaku. Dari segi perasaan, tanda stres dapat terlihat ketika seseorang bereaksi berlebihan terhadap hal-hal sepele atau justru merasa mati rasa saat menghadapi masalah besar. Daniar menambahkan, "Tekanannya sebenarnya besar, tapi kok kita enggak bisa merasakan emosinya ya?"

Dari sisi kognitif, stres sering ditandai dengan kecenderungan untuk mengulang-ulang pemikiran negatif. Hal ini pada akhirnya berdampak langsung pada perilaku sehari-hari. "Kok kita selalu terus-menerus mengulang pikiran-pikiran yang mengarah ke hal-hal yang negatif, yang justru membuat kita jadi enggak produktif secara perilaku," ungkapnya.

Apabila gangguan pada ketiga aspek tersebut berlangsung lama, melibatkan tenaga profesional adalah langkah yang bijak. Dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.KJ, psikiater di Siloam Specialist Center Senayan, menekankan, "Sudah dicoba dikelola dengan sendiri tapi rasanya masih sulit, dan pada akhirnya ya enggak apa-apa banget untuk mencari bantuan profesional."

Strategi Mengelola Stres dan Validasi Emosi

Pengelolaan stres dapat dilakukan dengan membagi fokus pada regulasi emosi (emotion-focused) dan penyelesaian masalah (problem-focused). Daniar menjelaskan bahwa langkah pertama adalah menurunkan intensitas emosi terlebih dahulu. Setelah emosi mereda, baru bisa masuk ke tahap penyelesaian masalah dengan cara mengubah persepsi atau reframing. "Ini adalah bagaimana kita memandang suatu masalah dengan sudut pandang berbeda," jelas dr. Rayhan.

Penyelesaian masalah juga dapat difokuskan pada tindakan sehari-hari yang lebih aplikatif, seperti manajemen waktu atau mereorganisasi hari agar lebih terstruktur. Namun, mengubah sudut pandang tidak berarti memaksakan diri untuk selalu berpikir positif. Emosi negatif yang muncul tetap perlu divalidasi dan diakui untuk memahami pesan yang dibawa oleh stres tersebut. Daniar menekankan, "Itu (emosi) disadari dulu, kita kasih nama dulu, kemudian kita lihat, apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dari stres yang datang?"

Memvalidasi emosi negatif ini sangat membantu seseorang untuk melihat sejauh mana tekanan tersebut dapat diubah menjadi peluang untuk perkembangan diri.

Mencari bantuan dari psikolog tidak harus menunggu sampai kondisi mental benar-benar terpuruk. Mengunjungi psikolog sebagai langkah pencegahan juga merupakan pilihan yang baik. Mengenai apakah lebih baik berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater terlebih dahulu, Daniar menjelaskan bahwa penanganan pasien melibatkan kolaborasi antara kedua profesi tersebut.

Jika setelah dua hingga tiga pertemuan dengan psikolog tidak ada kemajuan, atau jika upaya untuk memperbaiki kesehatan mental seperti perbaikan jam tidur tidak berhasil, pasien akan dirujuk ke psikiater. Di sisi lain, rujukan ke psikiater menjadi wajib jika pasien menunjukkan indikasi yang membahayakan, seperti pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, menurut dr. Rayhan.

Dalam hal intervensi medis, psikiater akan menentukan apakah obat diperlukan atau tidak. Jika obat harus diresepkan, pasien dan pendampingnya berhak mendapatkan penjelasan lengkap tentang manfaat dan cara kerja obat tersebut di otak, serta informasi mengenai estimasi waktu penyembuhan dan khasiat obat yang diberikan.

Artikel Terkait