Ulos bukan hanya sekadar kain tradisional bagi masyarakat Batak, melainkan juga merupakan simbol keterampilan menenun yang diwariskan dari generasi ke generasi, lengkap dengan filosofi di balik setiap motifnya. Salah satu jenis ulos yang menarik perhatian adalah Ulos Namarsimata, yang dikenal dengan tingkat kerumitan tinggi. Kain ini diperkenalkan oleh Rumah Ulos dalam pameran Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat.
Keunikan dan Teknik Pembuatan
Di antara beragam koleksi yang ditampilkan, Ulos Namarsimata menjadi salah satu ulos dengan nilai tertinggi karena proses pembuatannya yang kompleks. Linda Panggabean, pemilik Rumah Ulos, menjelaskan bahwa Ulos Namarsimata merupakan koleksi istimewa yang dihadirkan dalam pameran tersebut. Nilai kain ini tidak hanya terletak pada penampilannya, tetapi juga pada teknik tenun yang digunakan. Ulos ini mengadopsi teknik payet yang khas, di mana unsur payet telah menjadi bagian integral dari proses penenunan sejak awal.
“Ini salah satu koleksi Ulos termahal yang kami bawa ke event ini, namanya Ulos motif Namarsimata. Ulos ini ada payetnya tapi ditenun,” ungkap Linda saat pameran. Teknik ini merupakan salah satu kekayaan keterampilan masyarakat Batak yang masih dilestarikan hingga saat ini. Berbeda dengan payet yang biasanya dijahit setelah kain selesai, pada Ulos Namarsimata, unsur tersebut sudah terintegrasi dalam proses penenunan.
Proses Produksi yang Rumit
Proses pembuatan Ulos Namarsimata melibatkan empat pengrajin dan dapat memakan waktu hingga satu bulan. Linda menambahkan, “Pembuatan untuk satu kain Ulos Namarsimata ini melibatkan empat orang pengrajin. Pembuatannya bisa memakan waktu sampai satu bulan.” Kerumitan teknik tenun berpengaruh pada waktu pengerjaan dan jumlah tenaga yang terlibat, sehingga setiap tahap pengerjaan dilakukan dengan sangat teliti untuk menjaga kualitas tenun.
Harga Ulos Namarsimata yang dipamerkan berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 18 juta. “Harganya mulai dari Rp 15 juta sampai Rp 18 juta yang kami bawa saat ini. Harganya ditentukan dari kesulitan tenun payet juga,” jelas Linda. Harga tersebut mencerminkan kompleksitas teknik tenun yang digunakan serta keterampilan tinggi para pengrajin yang mengerjakannya.
Makna Budaya di Balik Motif
Selain teknik pembuatannya, Ulos Namarsimata juga sarat dengan makna budaya yang terkandung dalam motif yang digunakan. Koleksi ini mengusung motif Sadum, yang dikenal dalam tradisi tenun Batak. Linda menjelaskan bahwa motif tersebut melambangkan keindahan hidup yang harus diperjuangkan. “Ulos yang kami bawa ini tenunan motif Sadum, jadi simbol keindahan hidup yang harus diusahakan manusia itu sendiri,” tuturnya.
Setiap bentuk dan garis pada ulos memiliki makna yang diwariskan secara turun-temurun, dan setiap motif menyimpan kisah tersendiri. “Setiap motif di Ulos Namarsimata ini ada bacaannya semua. Setiap motif dan garis kecil itu ada kisah dan maknanya,” pungkas Linda. Ulos Namarsimata juga sering digunakan dalam berbagai prosesi adat, menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi dan warisan budaya Batak yang terus dijaga hingga kini.