Kesehatan

Mengenal Kebaya Antik: Lima Detail Penting yang Harus Diperhatikan

Kebaya antik bukan sekadar pakaian tua, melainkan menyimpan banyak informasi melalui detailnya. Lima aspek penting dapat membantu dalam mengenali usia dan karakter kebaya tersebut.

A
Ahmad Fauzan
11 August 2026 69 pembaca
Mengenal Kebaya Antik: Lima Detail Penting yang Harus Diperhatikan
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kebaya yang tersimpan dalam lemari keluarga sering kali lebih dari sekadar pakaian kuno. Berbagai detail seperti bahan, potongan, dan teknik jahitan dapat memberikan petunjuk mengenai usia kebaya tersebut, yang bisa mencapai puluhan tahun. Namun, untuk menentukan apakah sebuah kebaya tergolong antik tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat sekilas. Rumi Siddharta, seorang kreatif direktur yang juga mendalami sejarah dan budaya, menekankan bahwa pengalaman dalam melihat dan membandingkan berbagai contoh kebaya dari periode yang berbeda sangat membantu dalam mengenali karakteristik kebaya. Hal ini ia terapkan saat menjelaskan koleksi kebaya dalam acara Kebaya Bercerita di Ndalem Angti Dani, Surakarta. “Kalau kita ingin belajar mengenali barang antik atau benda-benda yang sudah memiliki sejarah lebih dari 80 tahun, kita perlu sering melihat berbagai contoh yang ada,” ujarnya.

Detail Pertama: Bentuk dan Potongan Kebaya

Salah satu aspek yang bisa dijadikan acuan adalah bentuk potongan bagian bawah kebaya. Rumi menjelaskan bahwa pada beberapa kebaya, bagian bawahnya memiliki bentuk datar, yang populer antara awal 1900-an hingga 1920-an. Sebaliknya, ada juga kebaya dengan potongan yang meruncing hingga membentuk huruf V, yang mulai banyak diminati setelah tahun 1930-an. “Kalau yang flat datar seperti ini populernya dari tahun 1900-an sampai 1920. Sementara yang seperti V itu lebih populer setelah tahun 30-an,” ungkapnya. Meskipun demikian, potongan saja tidak cukup untuk menentukan usia kebaya; detail lainnya juga perlu diperhatikan dan dibandingkan dengan kebaya dari periode tertentu.

Detail Kedua: Renda atau Kerancang

Kebaya kerancang merupakan jenis kebaya yang menarik untuk diperhatikan saat mengenali busana lama. Rumi menjelaskan bahwa istilah “kerancang” merujuk pada bagian renda atau detail hiasan pada kebaya. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang tipis dan dihiasi renda di beberapa bagiannya. Ia juga menyebut kebaya ini sering disebut sebagai kebaya encim, meskipun penyebutan tersebut tidak selalu dapat dikategorikan secara sederhana. “Ini hasil dari akulturasi berbagai budaya yang ada di Indonesia,” tambahnya.

Detail Ketiga: Bahan dan Karakter Kain

Bahan yang digunakan juga memberikan gambaran mengenai karakter kebaya lama. Misalnya, pada kebaya kerancang, kain yang digunakan cenderung tipis, sehingga kebaya terasa ringan dan mampu menyerap keringat dengan baik. Kebaya-kebaya ini sering kali hadir dalam warna terang, termasuk putih, serta memiliki bahan yang sedikit menerawang. Beberapa koleksi juga dihiasi dengan motif bunga, yang biasanya terdapat pada bagian kerah atau hiasan kebaya. Motif bunga ini berkaitan dengan kain bawahan yang pada masa tertentu sering menggunakan batik pesisir bermotif floral.

Detail Keempat: Jenis Jahitan

Jahitan juga merupakan detail penting yang perlu diperhatikan. Rumi menemukan bahwa beberapa kebaya antik menggunakan teknik jahitan yang disebut open som atau jahitan kunci. Menurutnya, jenis jahitan ini menjadi salah satu ciri khas yang dapat dilihat karena menghasilkan jahitan yang kuat. “Ciri khas dari jahitan ini, ini bakal jadi sangat kuat, enggak gampang sobek,” ujarnya. Teknik ini masih dapat ditemukan pada karya sejumlah perancang hingga saat ini karena proses pengerjaannya yang lebih rumit dibandingkan jahitan biasa. Oleh karena itu, saat memeriksa kebaya lama, penting untuk memperhatikan bagian dalam dan sambungan kain, karena detail kecil pada jahitan dapat memberikan informasi tambahan mengenai cara pembuatan kebaya tersebut.

Detail Kelima: Label atau Jejak Asal Kebaya

Beberapa kebaya lama masih menyimpan label dari toko atau tempat pembuatannya, yang dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri asal-usul kebaya tersebut. Rumi memberikan contoh salah satu kebaya dalam koleksinya yang memiliki label dari toko di Pasar Senen, Batavia. Namun, tidak semua kebaya antik dilengkapi dengan label, sehingga ketiadaan label tidak serta-merta berarti kebaya tersebut bukan barang lama. Untuk mengenali kebaya antik, pemilik sebaiknya memperhatikan kombinasi berbagai detail, mulai dari model, bahan, renda, jahitan, hingga membandingkannya dengan contoh kebaya dari periode tertentu.

Bagi Rumi, proses mengenali kebaya antik memerlukan pembelajaran dan kebiasaan untuk melihat berbagai contoh. Dengan cara ini, kebaya lama dapat dipahami bukan hanya sebagai pakaian peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai benda yang menyimpan jejak perubahan mode, teknik pembuatan, dan interaksi berbagai budaya di Nusantara.

Artikel Terkait