Kesehatan

Mengenal Dampak Negatif Vape Melalui Kasus YouTuber Bigmo

Kasus YouTuber Bigmo yang diduga mengajak anak-anak mempromosikan vape memicu diskusi tentang bahaya rokok elektrik bagi kesehatan. Berbagai risiko kesehatan akibat penggunaan vape perlu diketahui ole...

K
Kartika Sari Dewi
02 August 2026 37 pembaca
Mengenal Dampak Negatif Vape Melalui Kasus YouTuber Bigmo
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kreator konten bernama Bigmo, yang juga dikenal sebagai Muhammad Jannah, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah diduga mengajak anak-anak di bawah umur untuk mempromosikan cairan vape dalam siaran langsung di YouTube. Tindakan ini berujung pada laporan ke pihak kepolisian. Insiden tersebut tidak hanya menyoroti masalah hukum, tetapi juga memicu perbincangan tentang bahaya rokok elektrik bagi kesehatan tubuh.

Dampak Kesehatan dari Rokok Elektrik

Rokok elektrik sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena memiliki berbagai varian rasa. Namun, uap yang dihasilkan tetap mengandung racun berbahaya. Dr. Chin Tan Min, seorang Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Center, mengungkapkan bahwa dalam jangka pendek, pengguna rokok elektrik dapat mengalami batuk, peningkatan denyut jantung, sesak napas, hingga iritasi pada paru-paru. Selain itu, karena produk ini masih terbilang baru, para peneliti belum dapat sepenuhnya mengidentifikasi efek jangka panjangnya. Pengguna sering kali tidak menyadari takaran yang dihisap, karena alat ini tidak terbakar habis seperti rokok biasa.

Penggunaan rokok elektrik yang berkepanjangan dapat meningkatkan paparan terhadap bahan kimia beracun, yang pada akhirnya berpotensi memicu kanker paru-paru, mirip dengan kebiasaan merokok tradisional.

Risiko Kesehatan Lainnya

Selain dampak pada paru-paru, rokok elektrik juga dapat memengaruhi sistem metabolisme. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The American Journal of Preventive Medicine Focus menunjukkan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko tujuh persen lebih tinggi untuk mengalami pradiabetes dibandingkan dengan non-perokok. Risiko tersebut meningkat hingga 28 persen jika pengguna juga merokok rokok biasa. Penelitian ini juga menyoroti faktor risiko lain, seperti obesitas dan riwayat genetik, yang dapat memperburuk kondisi pradiabetes di kalangan perokok.

Dr. Sulakshan Neupane, ketua tim peneliti di University of Georgia, menekankan bahwa masalah ini lebih luas dari sekadar kesehatan paru-paru. "Dengan meningkatnya penggunaan rokok elektrik, sangat penting untuk memahami dampak luasnya bagi kesehatan. Ini bukan hanya masalah paru-paru, tetapi juga kesehatan seluruh tubuh dan metabolisme," katanya.

Bagi pria yang berencana untuk memiliki anak, sebaiknya segera menghindari kebiasaan ini. Dr. I Nyoman Palgunadi, Sp.U, seorang Dokter Spesialis Urologi di RS Windu Husada, mengingatkan bahwa rokok elektrik dapat mengganggu proses pembentukan sperma, bahkan bagi pria yang telah menjalani operasi varikokel. Ia menjelaskan bahwa menghisap uap nikotin setelah operasi kesuburan sama saja dengan memperbaiki AC namun tetap menyalakan kompor di dalam ruangan. "Uapnya tetap mengandung nikotin dan zat oksidatif. Itu bisa mengganggu pembentukan sperma," ungkapnya.

Lebih lanjut, penggunaan rokok elektrik juga dapat mempercepat penuaan kulit. Menurut Dr. Matahari Arsy, SpDVE, bahan kimia dalam vape dapat menyebabkan peradangan dan stres oksidatif yang merusak sel-sel kulit, mengakibatkan penuaan dini, keriput, dan kulit kusam. Selain itu, Dr. Arini Astasari Widodo, SpDVE, menjelaskan bahwa bahan seperti propylene glycol dapat menarik kelembapan dari kulit, menyebabkan wajah dan bibir menjadi kering.

Rokok elektrik juga memiliki dampak negatif terhadap kebersihan mulut. Menurut informasi dari Queensland Health Government dan National Children's Oral Health Foundation, cairan dalam rokok elektrik mengandung bahan yang dapat berubah menjadi asam korosif saat dihisap, yang dapat melarutkan lapisan email gigi. Hal ini diperburuk oleh penurunan produksi air liur yang disebabkan oleh penggunaan rokok elektrik, sehingga meningkatkan risiko kerusakan gigi dan gigi berlubang.

Artikel Terkait