Lifestyle

Mengapa Pikiran Sulit Fokus Akibat Penggunaan Ponsel Berlebihan?

Kesulitan dalam berkonsentrasi setelah lama menggunakan ponsel tidak selalu berarti seseorang mengalami ADHD. Istilah "popcorn brain" digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana pikiran mudah berali...

J
Jonathan Michael Saputra
19 October 2026 66 pembaca
Fenomena manusia tikus tengah ramai di kalangan Gen Z China. Mereka biasanya bangun siang, rebahan di kasur sambil mengecek media sosial, lalu kembali tidur larut malam.(Dok. Freepik/Freepik)
Fenomena manusia tikus tengah ramai di kalangan Gen Z China. Mereka biasanya bangun siang, rebahan di kasur sambil mengecek media sosial, lalu kembali tidur larut malam.(Dok. Freepik/Freepik)

Kesulitan untuk fokus setelah menghabiskan waktu lama di depan layar ponsel tidak selalu menunjukkan adanya gangguan ADHD. Para psikolog menyebut fenomena ini sebagai popcorn brain, yang menggambarkan pikiran yang melompat-lompat dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Menurut informasi yang diperoleh dari Woman's Health, kondisi ini muncul ketika seseorang mengalami kesulitan untuk tetap fokus pada satu kegiatan karena pikiran mereka terus berpindah.

Psikolog klinis, Leslie Daly, PhD, menjelaskan bahwa penggunaan media dan aktivitas yang bergantung pada internet dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus. Ia menyatakan, "Popcorn brain adalah gagasan bahwa, seperti popcorn yang meletup-letup, pikiran kita tersebar." Istilah ini merujuk pada pola perhatian yang mudah teralihkan.

Penyebab Popcorn Brain

Salah satu penyebab utama popcorn brain adalah penggunaan teknologi yang berlebihan, seperti kebiasaan memeriksa media sosial, membaca notifikasi, dan berpindah-pindah aplikasi. Leslie menambahkan bahwa media sosial dan aplikasi dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak, yang mendorong individu untuk terus mencari rangsangan atau pengalaman menyenangkan. Misalnya, seseorang mungkin merasa senang ketika mendapatkan banyak tanda suka pada postingan media sosialnya, yang kemudian mendorong mereka untuk terus memeriksa aplikasi tersebut.

Leslie menyebut mekanisme ini sebagai intermittent reinforcement, yaitu penguatan yang terjadi secara tidak teratur. Ketika penghargaan muncul secara tiba-tiba, seseorang cenderung terdorong untuk terus memeriksa ponselnya, sehingga aktivitas yang memerlukan konsentrasi lebih lama menjadi terganggu. Selain itu, penggunaan beberapa perangkat secara bersamaan juga dapat memperburuk kondisi ini.

Psikolog kesehatan klinis, Jennifer Wolkin, PhD, menjelaskan bahwa dampak popcorn brain dapat bervariasi pada setiap individu. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa sering seseorang mengonsumsi media, tingkat rangsangan dari konten yang dikonsumsi, serta kebiasaan multitasking dengan berbagai perangkat.

Gejala Popcorn Brain

Jennifer menjelaskan bahwa gejala popcorn brain dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada kondisi dan kebiasaan masing-masing individu. Beberapa gejala yang dapat dikenali antara lain:

  1. Pikiran yang mudah berpindah, di mana seseorang kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada satu hal karena pikirannya terus beralih.
  2. Mudah terdistraksi oleh notifikasi ponsel, pesan masuk, atau rangsangan lainnya yang dapat mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dilakukan.
  3. Sulit menyelesaikan tugas, di mana seseorang cenderung berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain sebelum menyelesaikan tugas sebelumnya.
  4. Kelelahan mental akibat banyaknya informasi dan rangsangan yang diterima, yang dapat membuat seseorang merasa kewalahan.
  5. Sulit terlibat dalam percakapan, di mana perhatian yang mudah teralihkan membuat seseorang kesulitan mengikuti pembicaraan atau merasa kurang terhubung dengan orang lain.

Kesulitan berkonsentrasi juga dapat dipengaruhi oleh kurang tidur, stres, dan berbagai faktor lainnya.

Perbedaan Antara Popcorn Brain dan ADHD

Kesulitan dalam berkonsentrasi sering kali dikaitkan dengan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Namun, popcorn brain dan ADHD adalah dua kondisi yang berbeda. Leslie menjelaskan bahwa popcorn brain berkaitan dengan lingkungan dan bagaimana otak merespons rangsangan yang diterima, sedangkan ADHD adalah gangguan perkembangan saraf dengan kriteria diagnosis tertentu. ADHD ditandai dengan pola kurang perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas yang menetap dan mengganggu fungsi sehari-hari. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa mereka mengalami ADHD hanya karena kesulitan berkonsentrasi atau sering memeriksa ponsel.

Cara Mengatasi Popcorn Brain

PsyD Lauren Cook, seorang psikolog klinis, menyarankan agar individu membagi pekerjaan besar menjadi beberapa tugas kecil, sebuah strategi yang dikenal sebagai chunking. Menurut Lauren, memecah pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana dapat membantu mengurangi perasaan kewalahan. "Semakin Anda dapat memecah tugas tersebut menjadi bagian-bagian kecil, semakin baik," ujarnya.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi popcorn brain antara lain:

  1. Batasi penggunaan perangkat digital dengan mengurangi kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas. Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting atau tetapkan batas waktu penggunaan aplikasi.
  2. Berikan jeda dari layar dengan menyisihkan waktu untuk melakukan aktivitas tanpa ponsel, seperti berjalan kaki, membaca buku, atau berbincang dengan orang lain. Hindari bermain ponsel saat atau menjelang waktu tidur.
  3. Latih perhatian melalui mindfulness. Jennifer menyarankan praktik mindfulness, termasuk meditasi, untuk membantu melatih perhatian. Latihan sederhana dapat dilakukan dengan memusatkan perhatian pada napas atau mengamati lingkungan sekitar selama beberapa menit tanpa memeriksa ponsel.
  4. Catat pikiran yang mengganggu. Ketika muncul dorongan untuk melihat pesan atau melakukan hal lain, tuliskan keinginan tersebut agar bisa kembali mengerjakannya setelah menyelesaikan tugas utama.
  5. Konsultasikan jika kesulitan berkonsentrasi mengganggu aktivitas sehari-hari. Lauren dan Jennifer menyarankan untuk memperhatikan dampak kesulitan berkonsentrasi terhadap kehidupan sehari-hari, seperti kelelahan, sakit kepala, stres, atau penurunan kinerja akademik atau pekerjaan sebagai alasan untuk berkonsultasi.

Dengan langkah-langkah yang tepat, individu dapat mengelola kondisi popcorn brain dan meningkatkan kemampuan fokus mereka.

Artikel Terkait