Menjadi orangtua sering kali membuat ayah dan ibu terfokus pada berbagai kebutuhan anak, sehingga waktu untuk beristirahat atau menjalani hobi menjadi sulit untuk dijadwalkan. Namun, baik ayah maupun ibu sama-sama memerlukan waktu untuk diri mereka sendiri atau yang sering disebut me time. Agar kebutuhan pribadi ini dapat terpenuhi tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap anak, penting untuk memiliki pembagian tanggung jawab pengasuhan yang baik serta dukungan dari orang-orang terdekat.
Psikolog anak dan remaja, Sani B. Hermawan, S.Psi., menjelaskan bahwa kesempatan orangtua untuk memiliki waktu pribadi sangat dipengaruhi oleh adanya dukungan pengasuhan atau support system. "Orangtua itu sebenarnya masih bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Cuma, kalau support system-nya tidak banyak, peluang orang tua memiliki me time mungkin akan jadi lebih sedikit," ujarnya.
Dukungan dari Lingkungan Sekitar
Dukungan dalam pengasuhan bisa datang dari pasangan, kakek nenek, saudara, atau pengasuh yang dapat dipercaya. Dengan adanya dukungan tersebut, orangtua dapat memiliki waktu untuk beristirahat atau melakukan kegiatan pribadi tanpa harus mengabaikan kebutuhan anak.
Strategi Membagi Waktu Pengasuhan
Untuk membagi waktu pengasuhan agar ayah dan ibu dapat memiliki me time, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
- Bicarakan kebutuhan masing-masing: Ayah dan ibu perlu berdiskusi secara terbuka mengenai kebutuhan waktu pribadi mereka. Misalnya, kapan masing-masing ingin berolahraga, bertemu teman, membaca buku, atau sekadar beristirahat tanpa gangguan. Pembicaraan ini dapat membantu pasangan memahami bahwa kebutuhan untuk memiliki waktu sendiri adalah hal yang penting bagi keduanya.
- Susun jadwal secara bergantian: Setelah mengetahui kebutuhan masing-masing, pasangan dapat sepakat untuk menyusun jadwal pengasuhan secara bergantian. Ketika ayah menjalani hobinya, ibu dapat mengambil alih tanggung jawab menjaga anak, dan sebaliknya pada kesempatan berikutnya. Pembagian waktu tidak harus sama persis, yang terpenting adalah kesepakatan yang dibuat bersama.
- Manfaatkan waktu singkat yang tersedia: Bagi orangtua yang belum memiliki banyak dukungan, mereka dapat memanfaatkan waktu singkat saat anak tidur untuk melakukan kegiatan yang disukai. Sani menyarankan agar orangtua menggunakan kesempatan tersebut untuk menonton, membaca, atau menjalankan hobi. Namun, harapan harus disesuaikan dengan kondisi anak, terutama jika anak masih bayi yang memerlukan pengawasan lebih intensif.
- Libatkan orang dewasa yang tepercaya: Jika ingin melakukan kegiatan di luar rumah, orangtua dapat meminta bantuan orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mengawasi anak. Penting untuk memastikan bahwa orang yang dititipi anak memahami tanggung jawabnya dan bukan sekadar berada di dekat anak. Sebelum pergi, orangtua sebaiknya menjelaskan kepada anak siapa yang akan menemaninya dan kapan mereka akan kembali.
- Pastikan keselamatan anak tetap menjadi prioritas: Ketika merencanakan kegiatan di luar rumah, orangtua harus mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan anak. Jika kegiatan melibatkan perjalanan atau aktivitas yang menantang, rencana harus disesuaikan dengan kondisi anak. Vera menekankan pentingnya perencanaan yang matang, termasuk saat orangtua ingin melakukan kegiatan seperti mendaki gunung.
Dengan komunikasi yang baik, pembagian peran yang jelas, dan dukungan yang tepat, baik ayah maupun ibu dapat menikmati waktu untuk diri mereka sendiri sambil tetap memastikan kebutuhan dan keselamatan anak terpenuhi.