Kesehatan

Memahami Hamil Anggur dan Risikonya bagi Ibu Hamil Menurut Dokter

Hamil anggur, atau mola hidatidosa, adalah komplikasi kehamilan yang dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan ibu. Penting untuk mengenali gejala dan penanganan yang tepat untuk mencegah komplik...

D
Daniel Kristianto
08 May 2026 13 pembaca
Memahami Hamil Anggur dan Risikonya bagi Ibu Hamil Menurut Dokter
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA – Kehamilan yang sehat biasanya ditandai dengan perkembangan embrio yang normal di dalam rahim. Namun, dalam beberapa situasi, proses pembuahan dapat mengalami gangguan, yang mengakibatkan komplikasi serius yang dikenal sebagai hamil anggur, atau secara medis disebut mola hidatidosa. Meskipun istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, penting untuk mengenali kondisi ini sejak awal karena dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi ibu jika tidak ditangani dengan segera.

Apa Itu Hamil Anggur?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, menjelaskan bahwa hamil anggur merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang cukup umum ditemukan dalam praktik medis. “Salah satunya memang yang cukup banyak terjadi yaitu hamil anggur atau secara istilah medisnya itu mola hidatidosa,” ujarnya. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan dalam proses pembuahan yang mengakibatkan janin tidak dapat berkembang secara normal.

Penyebab dan Jenis Hamil Anggur

Menurut dr. Krisantus, hamil anggur dimulai dari adanya masalah pada sel telur yang dibuahi. “Hamil anggur terjadi karena telurnya ini hanya telur kosong istilahnya, dia enggak ada materi genetik dari ibunya. Akibatnya sperma yang membuahi telur itu bisa ada 2 sampai 3 sperma,” jelasnya. Dalam keadaan normal, pembuahan melibatkan satu sel telur dan satu sperma yang masing-masing membawa materi genetik untuk membentuk embrio. Namun, pada hamil anggur, proses ini terganggu sehingga yang berkembang bukan janin, melainkan jaringan abnormal yang menyerupai kumpulan gelembung berisi cairan.

Secara medis, hamil anggur dibagi menjadi dua jenis, yaitu komplit dan parsial. “Hamil anggur ini terbagi antara komplit dan parsial. Kalau yang komplit itu harus dibersihkan karena memiliki risiko untuk menjadi suatu penyakit keganasan di kemudian hari,” ujar dr. Krisantus. Jenis komplit umumnya tidak menghasilkan jaringan janin sama sekali, sementara jenis parsial masih dapat membentuk jaringan janin meskipun tidak berkembang dengan sempurna.

Risiko dan Gejala Hamil Anggur

Salah satu alasan mengapa hamil anggur perlu segera ditangani adalah potensi komplikasi yang serius. “Zat atau jaringan dari hamil anggur juga bisa bersifat invasif. Jika tidak segera dibersihkan, maka bisa menjadi tumor dan menyebar ke mana-mana terutama di daerah paru,” kata dr. Krisantus. Jaringan abnormal ini dapat terus tumbuh di dalam rahim dan menembus lapisan dinding rahim.

Gejala yang sering muncul pada hamil anggur berbeda dengan kehamilan normal. Salah satu tanda paling umum adalah kadar hormon kehamilan atau Beta HCG yang sangat tinggi. “Biasanya ketika hamil anggur Beta HCG bisa berlebihan dan memicu mual yang parah,” tutur dr. Krisantus. Hal ini dapat menyebabkan ibu mengalami mual muntah yang jauh lebih berat dibandingkan dengan morning sickness biasa. Selain itu, ukuran rahim pada kasus hamil anggur juga cenderung lebih besar dari yang seharusnya. Pada kehamilan normal, rahim mulai teraba di atas panggul setelah 12 minggu, namun pada hamil anggur, pembesaran rahim bisa terjadi lebih cepat, bahkan saat usia kehamilan baru 5 hingga 7 minggu.

Pentingnya Penanganan dan Pemantauan

Setelah diagnosis ditegakkan, jaringan hamil anggur harus segera dibersihkan melalui tindakan medis. “Setelah hamil anggur, ibu dianjurkan untuk membersihkannya dan pasang KB dulu selama 6 bulan untuk mengembalikan beta HCG menjadi nol,” jelas dr. Krisantus. Pemantauan kadar Beta HCG secara berkala sangat penting untuk memastikan tidak ada sisa jaringan abnormal yang masih berkembang di dalam tubuh.

Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, risiko komplikasi akibat hamil anggur dapat diminimalkan. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk rutin memeriksakan kehamilan agar setiap kelainan dapat terdeteksi sedini mungkin.

Artikel Terkait