Kegiatan berjalan kaki merupakan salah satu aktivitas sehat yang mudah dilakukan, baik itu hanya berkeliling kompleks selama sepuluh menit atau menempuh ribuan langkah setiap hari. Selain membakar kalori, jalan kaki juga memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dan mengurangi stres, serta memengaruhi nafsu makan seseorang. Beberapa orang mungkin merasa kurang tertarik untuk makan setelah berjalan, sementara yang lain justru merasa lebih lapar. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kita?
Pengaruh Jalan Kaki terhadap Nafsu Makan
Setelah berjalan kaki, seseorang bisa merasakan peningkatan rasa lapar, penurunan selera makan, atau menjadi lebih peka terhadap sinyal tubuh yang menunjukkan kebutuhan energi. Shernell Surratt-Gary, seorang dokter osteopati dan pakar medis di Aura Recovery Center, menjelaskan bahwa berjalan kaki setiap hari sangat membantu dalam mengontrol nafsu makan, bukan sekadar memicunya. "Sebagian besar orang dewasa mengalami peningkatan dalam seberapa baik tubuh mereka mampu mencocokkan tingkat rasa lapar yang dirasakan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk kebutuhan energinya setelah berjalan kaki," kata Surratt-Gary.
Edmundo Rodriguez-Frias, seorang dokter spesialis gastroenterologi dan geriatrik di Full of Life, menambahkan bahwa aktivitas rutin ini membuat otak lebih responsif terhadap sinyal dari usus. "Bagi banyak orang, jalan kaki rutin dapat membantu mengatur nafsu makan mereka alih-alih sekadar meningkatkan atau menurunkan rasa lapar," ungkap Rodriguez-Frias. Ia juga menekankan bahwa jalan kaki dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengenali saat mereka merasa kenyang dan berhenti makan, daripada makan karena stres atau kebiasaan.
Menangani Kebiasaan Makan Emosional
Aktivitas berjalan di luar ruangan dapat menjadi alternatif yang sehat untuk meredakan keinginan makan berlebih yang disebabkan oleh kebosanan atau stres. "Sejumlah individu melaporkan mengalami penurunan keinginan untuk ngemil setelah jalan cepat, terutama jika mereka cenderung ngemil karena bosan atau stres," jelas Surratt-Gary. Selain faktor emosional, hormon dalam tubuh juga berperan penting dalam menekan nafsu makan secara alami. "Jalan kaki dengan intensitas sedang secara teratur dapat menekan produksi hormon lapar ghrelin untuk waktu yang singkat setelah berolahraga," tambah Rodriguez-Frias.
Kecepatan dan durasi aktivitas berjalan juga berpengaruh terhadap jumlah energi yang perlu diganti setelahnya. Berjalan santai di sekitar rumah tentu berbeda efeknya dibandingkan dengan mendaki bukit selama berjam-jam. "Jalan kaki singkat dengan kecepatan sedang biasanya tidak mengakibatkan perubahan dalam jumlah kalori yang dikonsumsi," kata Surratt-Gary. Namun, aktivitas yang lebih lama atau lebih berat umumnya akan meningkatkan rasa lapar karena lebih banyak energi yang dikeluarkan.
Jika seseorang berjalan santai selama 20 hingga 30 menit, mereka mungkin merasa kurang lapar. Sebaliknya, jika seseorang menyelesaikan pendakian yang panjang, mereka mungkin merasa jauh lebih lapar setelahnya.
Faktor Gaya Hidup yang Mempengaruhi
Tingkat kebugaran, kualitas tidur, kecukupan hidrasi, dan waktu makan juga menjadi faktor penentu dalam hal ini. Berjalan santai dengan perut kosong memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan jika seseorang sudah sarapan terlebih dahulu. "Jumlah kebugaran fisik yang dimiliki setiap individu, tingkat tidur dan hidrasi mereka saat ini, serta asupan makanan secara keseluruhan, memainkan peran utama dalam menentukan respons tubuh terhadap jalan kaki," ungkap Rodriguez-Frias.
Mengenai pertanyaan apakah sebaiknya makan sebelum berolahraga, Surratt-Gary menyatakan bahwa hal tersebut tergantung pada kenyamanan dan preferensi masing-masing individu. "Beberapa orang, seperti mereka yang didiagnosis diabetes atau yang berencana melakukan olahraga jangka panjang, mungkin merasakan manfaat dari mengonsumsi makanan ringan sebelum berjalan kaki," tuturnya.
Selain manfaat untuk nafsu makan, kebiasaan berjalan kaki setiap hari juga dapat meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental. Aktivitas ini dapat melancarkan pencernaan, memperbaiki kualitas tidur, dan menurunkan tekanan darah. Rodriguez-Frias percaya bahwa jalan kaki adalah salah satu cara termudah untuk mendukung pencernaan yang sehat. "Waktu 10-30 menit per hari saja dapat mendukung buang air besar yang normal, meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, menurunkan risiko kanker kolorektal, dan berkontribusi pada penurunan berat badan jangka panjang," jelasnya.
Secara keseluruhan, melakukan aktivitas jalan kaki memberikan manfaat jangka panjang yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan.